{"id":60921,"date":"2024-11-09T22:23:19","date_gmt":"2024-11-09T15:23:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=59436"},"modified":"2025-06-23T21:48:47","modified_gmt":"2025-06-23T14:48:47","slug":"sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/","title":{"rendered":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas"},"content":{"rendered":"\n<p>Sangihe, sebuah pulau kecil di perbatasan Sulawesi Utara dan Filipina, telah lama hidup damai dengan alamnya. Di sini, masyarakatnya tidak hanya bertahan hidup, tetapi berkembang bersama sagu\u2014tanaman yang telah menjadi lebih dari sekadar sumber pangan. Sagu bukan hanya makanan; ia adalah simbol kemandirian, ketahanan, dan warisan leluhur.<\/p>\n\n<p>Namun, ancaman besar kini menghantui kehidupan mereka. Bukan ancaman kelaparan atau bencana alam, melainkan tambang emas raksasa yang berpotensi menghancurkan seluruh ekosistem, termasuk keberadaan sagu.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/41f7d5d0-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59485\"\/><\/figure>\n\n<p>Robert Sapile, 63 tahun, menebang pohon sagu baruk di kebun belakang rumahnya di Kalagheng, Tabukan Selatan, Kepulauan Sangihe, Sabtu (19\/10\/2024). Sagu baruk, kerabat aren yang berasal dari genus Arenga, merupakan panganan primadona bagi warga kabupaten berjuluk Negeri Sanger tersebut.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/27eead75-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59482\"\/><\/figure>\n\n<p>Embo Obe, panggilan akrab Robert, memotong batang sagu yang baru ia tebang menjadi bagian-bagian lebih kecil. Itu dilakukan agar memudahkan pengangkutan ke tempat pengolahan sagu.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Dari Alam ke Meja Makan<\/strong><\/h2>\n\n<p>Embo Obe lalu memanggul potongan batang sagu dari kebun menuju tempat pengolahan sagu yang sama-sama berada di belakang rumahnya. Selain sagu baruk, ada juga sagu duri yang tumbuh sendiri tanpa ditanam.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/8b7e7143-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59452\"\/><\/figure>\n\n<p>\u201cBibit sagu duri disebarkan oleh burung-burung yang hidup di sini. Alam sudah memberi kami makan. Bisa dibayangkan kalau [ekosistem] alam ini rusak oleh tambang emas,\u201d kata Embe Obe.<\/p>\n\n<p>Selanjutnya, Embo Obe mencacah potongan batang sagu menggunakan mesin. Alat modern digunakan untuk mempermudah dan mempercepat proses produksi sagu.<\/p>\n\n<p>Sagu tahan terhadap perubahan iklim ekstrem, menjadikannya tanaman yang tak tergantikan di tengah krisis pangan global. Ketika pandemi COVID-19 melanda dan jalur pasokan pangan terhenti, sagu menjadi penyelamat, menggantikan beras dalam bantuan pangan yang diberikan kepada warga.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/4e33d605-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59439\"\/><\/figure>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/d7e4e651-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59449\"\/><\/figure>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/a6e05ef9-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59475\"\/><\/figure>\n\n<p>Embo Obe menyaring sagu menggunakan air bersih yang bersumber dari Gunung Sahendaruman. Selain sumber mata air, kawasan hutan lindung Sahendaruman menjadi habitat burung langka dan berfungsi sebagai peredam bencana alam.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/fdb8a635-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59453\"\/><\/figure>\n\n<p>Embe Obe dan istrinya, Lisbet Tuminting (65), mengambil endapan sagu yang sudah bisa diolah menjadi makanan ke dalam baskom. Satu pohon sagu bisa menghasilkan lima karung dengan berat masing-masing 20 kilogram.<\/p>\n\n<p>\u201cSatu pohon kira-kira bisa menghidupi satu keluarga, 6 sampai 10 orang, selama 5 hingga 6 bulan,\u201d kata Lisbet.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/31cfdf33-image-683x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59492\" style=\"width:736px;height:auto\"\/><\/figure>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/dd95cbac-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59468\"\/><\/figure>\n\n<p>Di dapur sederhana beralaskan tanah, Lisbet mencampurkan sagu yang sudah kering dengan parutan kelapa di atas anyaman bambu.<\/p>\n\n<p>Di Sangihe, sagu tumbuh subur di kebun-kebun masyarakat, memberikan lebih dari sekadar makanan. Sagu ini adalah perwujudan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari makanan bayi berupa <em>tuto<\/em> hingga aneka makanan sehari-hari, sagu telah menjadi nadi kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/0d0c56e9-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59438\"\/><\/figure>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/5d7a9786-image-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59462\"\/><\/figure>\n\n<p>Menggunakan wajan kecil dan tusukan besi, Lisbet menyangrai sagu di atas tungku kayu bakar.<\/p>\n\n<p>Lebih dari sekadar penopang ekonomi, sagu adalah identitas. Sejak bayi, masyarakat Sangihe tumbuh dengan sagu, dan dari sanalah mereka belajar tentang ketahanan, kesederhanaan, dan kebersamaan. Sagu adalah simbol kekuatan alam yang telah menyatu dalam jiwa mereka.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/66f9a0be-img_2241-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-59495\"\/><\/figure>\n\n<p>Masyarakat Sangihe biasanya menyajikan sagu bersama ikan bakar. Ada juga sagu yang disajikan dengan tambahan gula aren.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Sangihe Memilih Kehidupan, Sagu Simbol Perjuangan<\/strong><\/h2>\n\n<p>Bagi masyarakat Sangihe, tambang emas berarti lonceng kematian. Di desa Bowone, tempat aktivitas tambang ilegal telah dimulai, tanah merah dan bukit-bukit terkikis, mengalirkan lumpur bercampur cairan kimia ke laut. Air laut yang dulunya bersih kini terancam tercemar, menghancurkan ekosistem laut dan kehidupan nelayan.<\/p>\n\n<p>Tambang emas bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga memutus siklus kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kebun dan laut. Jika tambang ini diizinkan terus beroperasi, bukan hanya pohon sagu yang akan hilang, tetapi juga tradisi, budaya, dan identitas masyarakat Sangihe.<\/p>\n\n<p>Di tengah semua ancaman ini, masyarakat Sangihe tetap teguh. Mereka tahu bahwa tambang emas mungkin membawa keuntungan sesaat, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya akan bersifat permanen. Kehidupan mereka, budaya mereka, dan warisan yang mereka pertahankan jauh lebih bernilai dari apa yang bisa dijanjikan oleh emas. Mereka tak hanya berjuang untuk diri sendiri, tapi untuk masa depan anak cucu mereka, agar generasi berikutnya bisa tetap menikmati tanah dan laut yang lestari.<\/p>\n\n<p>Sangihe tak butuh tambang. Sangihe butuh kehidupan. Dan sagu, dalam segala bentuknya, adalah simbol bahwa kehidupan itu masih bisa diperjuangkan.<\/p>\n\n<p>Foto : Stenly Pontolawokang<\/p>\n\n<p>Gilang Ramadhan, Petuga Media dan Komunikasi Kampanye Lautan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sangihe, sebuah pulau kecil di perbatasan Sulawesi Utara dan Filipina, telah lama hidup damai dengan alamnya. Di sini, masyarakatnya tidak hanya bertahan hidup, tetapi berkembang bersama sagu\u2014tanaman yang telah menjadi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":61178,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas","p4_og_description":"Di sini, masyarakatnya tidak hanya bertahan hidup, tetapi berkembang bersama sagu\u2014tanaman yang telah menjadi lebih dari sekadar sumber pangan. Sagu bukan hanya makanan; ia adalah simbol kemandirian, ketahanan, dan warisan leluhur.","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/eb56586d-image.jpeg","p4_og_image_id":"59478","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[63,53],"tags":[20],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-60921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-laut","tag-laut","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-11-09T15:23:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-23T14:48:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/41f7d5d0-image.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1067\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Afif\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Afif\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\"},\"author\":{\"name\":\"Afif\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\"},\"headline\":\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas\",\"datePublished\":\"2024-11-09T15:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:48:47+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\"},\"wordCount\":652,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Laut\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\",\"url\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\",\"name\":\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-11-09T15:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:48:47+00:00\",\"description\":\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\",\"name\":\"Afif\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"caption\":\"Afif\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia","description":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia","og_description":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas","og_url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2024-11-09T15:23:19+00:00","article_modified_time":"2025-06-23T14:48:47+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":1067,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2024\/11\/41f7d5d0-image.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Afif","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Afif","Est. reading time":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/"},"author":{"name":"Afif","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280"},"headline":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas","datePublished":"2024-11-09T15:23:19+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:48:47+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/"},"wordCount":652,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Laut"],"articleSection":["Artikel","Laut"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/","url":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/","name":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2024-11-09T15:23:19+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:48:47+00:00","description":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/60921\/sagu-sumber-pangan-sangihe-yang-terancam-tambang-emas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280","name":"Afif","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","caption":"Afif"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60921"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60921\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63253,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60921\/revisions\/63253"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60921"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=60921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}