{"id":63029,"date":"2025-06-02T10:02:00","date_gmt":"2025-06-02T03:02:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=63029"},"modified":"2025-06-23T21:46:15","modified_gmt":"2025-06-23T14:46:15","slug":"100-hari-pram-doel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/","title":{"rendered":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &#8220;Jakarta Menyala&#8221; Terjebak Pola Lama"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, 2 Juni 2025 \u2014 Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga. Pelayanan publik masih lambat, pengaduan masyarakat jarang ditanggapi, dan berbagai persoalan lama terus terbengkalai.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Masa 100 hari ini seharusnya menjadi wajah awal tonggak perubahan, tetapi janji \u2018Jakarta Menyala\u2019 justru terancam padam oleh pola reaktif tanpa arah jelas. Kebijakan Pram-Doel justru mengulang pola lama yang mengesampingkan hak dan partisipasi warga, mengabaikan urgensi lingkungan, serta mengadopsi solusi jangka pendek yang jauh dari keberlanjutan.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1810\" height=\"2560\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--scaled.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-63031\" style=\"width:555px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--scaled.jpg 1810w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--212x300.jpg 212w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--724x1024.jpg 724w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--768x1086.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--1086x1536.jpg 1086w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--1448x2048.jpg 1448w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--966x1366.jpg 966w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/804bd2b6-rapor-bang-pram-dan-bang-doel--240x340.jpg 240w\" sizes=\"auto, (max-width: 1810px) 100vw, 1810px\" \/><\/figure>\n\n<p><strong>Solusi palsu yang tak menjawab persoalan<\/strong><\/p>\n\n<p>Beragam program Pemprov DKI seperti job fair hingga pembangunan infrastruktur disebut sebagai solusi, namun belum menyentuh akar persoalan sosial dan lingkungan di Jakarta. Rencana menggelar job fair di 44 kecamatan tiap tiga bulan dinilai tidak menjawab kebutuhan riil, terutama bagi kelompok rentan dan penganggur muda, apalagi perlindungan pada sektor informal.&nbsp; Menggusur PKL tanpa solusi akan semakin mempersulit warga untuk mencari nafkah. Untuk mengentaskan krisis lapangan pekerjaan, Pemprov DKI harus berfokus pada pelatihan berbasis potensi lokal dan pendampingan keterampilan, termasuk melindungi sektor informal yang menopang sekitar 37,95% dari ekonomi masyarakat Jakarta.<\/p>\n\n<p>\u201cTanpa pelatihan terarah, job fair hanyalah seremonial belaka. Jakarta harus menyediakan fasilitas kerja yang adil dan berkelanjutan. Program pelatihan dan peluang kerja berbasis <em>Green Jobs<\/em> wajib dikembangkan agar warga memiliki keterampilan yang sesuai dengan tantangan zaman. Apalagi riset Greenpeace menyebut sektor Green Jobs dapat menghasilkan 19,4 juta lapangan kerja,\u201d tegas Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia. Ia juga menambahkan \u201cUntuk menciptakan akses yang berkeadilan, Pemprov DKI harus juga memberi perhatian khusus terhadap pemenuhan hak pekerja informal, termasuk PKL.\u201d<\/p>\n\n<p>Janji mengganti Giant Sea Wall dengan solusi alami berupa Giant Mangrove Wall juga belum terwujud. Sebaliknya, pembangunan tanggul laut tetap dilanjutkan sebagai solusi permanen yang utama dan menyebabkan penggusuran, seperti di Angke Kapuk. \u201cMangrove efektif melindungi pesisir dan warga. Pemerintah justru mengabaikannya dan memilih proyek yang merusak ekosistem dan menggusur warga sebagai solusi utama dan permanen,\u201d lanjut Jeanny.<\/p>\n\n<p>Di sektor sampah, meski Jakarta memiliki ribuan bank sampah, hanya 63% yang aktif. Alih-alih memperkuat pemilahan dari sumber, pemerintah mendorong teknologi RDF seperti di Rorotan yang menuai penolakan warga.<\/p>\n\n<p>\u201cRDF Rorotan bukan solusi, ini justru memperkuat ketergantungan pada produksi sampah dan membahayakan kesehatan warga. Jika Jakarta ingin menjadi kota berkelanjutan, fokusnya harus pada pengurangan sampah dari hulu, perluasan larangan plastik sekali pakai, dan penguatan partisipasi warga, bukan pada teknologi insinerator,\u201d tegas Ibar Akbar, Juru Kampanye Sampah dan Perkotaan Greenpeace Indonesia.<\/p>\n\n<p><strong>Jakarta masih menggusur, warga makin tersisih<\/strong><\/p>\n\n<p>Dalam lima bulan pertama tahun ini, telah terjadi tujuh kasus penggusuran di Jakarta. Tidak hanya dilakukan oleh korporasi, penggusuran juga melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat, sering kali disertai pengawalan aparat keamanan bahkan TNI AD. Proses penggusuran ini berlangsung tanpa musyawarah, tanpa putusan pengadilan, dan tanpa jaminan tempat tinggal pengganti, mengabaikan prinsip-prinsip keadilan dan perlindungan hak asasi manusia.<\/p>\n\n<p>Situasi ini terus berlangsung karena masih berlakunya Peraturan Gubernur Nomor 207 Tahun 2016, yang memberi kewenangan pengusiran sepihak tanpa proses hukum. Warga menjadi korban kebijakan yang tidak adil dan berpotensi kehilangan tempat tinggal secara permanen.<\/p>\n\n<p>Warga Kampung Bayam adalah contoh nyata. Meski status mereka telah diakui secara hukum, hingga kini mereka belum dapat menempati Kampung Susun Bayam. Pemerintah mengubah skema hunian menjadi sistem sewa yang berat tanpa melibatkan warga dalam musyawarah. Tidak ada transparansi, tidak ada solusi.<\/p>\n\n<p>\u201cSelama Pergub 207\/2016 masih berlaku, warga Jakarta akan terus hidup dalam ketakutan akan penggusuran,\u201d ujar Guntoro, Urban Poor Consortium. Ia juga menambahkan, \u201cPenataan kampung dan reforma agraria tidak boleh berhenti sebagai janji di atas kertas. Warga butuh perlindungan nyata, bukan pengusiran terus-menerus.\u201d<\/p>\n\n<p>Di tengah mandat reforma agraria dari Perpres Nomor 62 Tahun 2023 dan berbagai aturan daerah yang telah ada, hingga 100 hari masa jabatan Gubernur Pramono Anung, belum ada langkah konkret yang diambil untuk menyelesaikan persoalan kampung-kampung rakyat. Ketidakpastian ini membuat warga tersisih dari hak dasar mereka untuk tinggal secara layak di kota tempat mereka hidup dan berkontribusi.<\/p>\n\n<p>\u201cJakarta harus berubah. Kota ini semestinya melindungi warganya, bukan terus-menerus menggusur mereka,\u201d ujar Guntoro.<\/p>\n\n<p><strong>Jakarta gagal jamin hak bantuan hukum di tengah buruknya birokrasi<\/strong><\/p>\n\n<p>Bantuan hukum adalah hak asasi yang wajib dijamin negara. Namun, sejak UU No. 16 Tahun 2011, Pemprov DKI Jakarta belum menerbitkan Perda Bantuan Hukum. Padahal, daerah lain seperti Banten, Jawa Barat, dan beberapa kota sudah menjalankan Perda tersebut. Koalisi Masyarakat Sipil terus mendesak Pemprov DKI agar serius menerbitkan Perda ini, tapi belum ada tindakan nyata dari Gubernur saat ini maupun sebelumnya.<\/p>\n\n<p>Buruknya birokrasi Jakarta semakin nyata saat pengaduan warga sering diabaikan. Kasus warga Menteng Pulo 2 yang mendapat surat peringatan tanpa tanggung jawab pemerintah dan Gubernur yang tidak mengetahui persoalan ini memperlihatkan pelayanan publik yang diskriminatif dan tidak akuntabel.<\/p>\n\n<p>\u201cBirokrasi Jakarta yang buruk dan pilih kasih ini merugikan warga dan bertentangan dengan UU Pelayanan Publik. Pemprov DKI Jakarta harus bertanggung jawab untuk memastikan hak atas bantuan hukum dan pelayanan publik yang adil bagi semua warga Jakarta,\u201d tegas Alif Fauzi Nurwidiastomo, LBH Jakarta.<\/p>\n\n<p>Jakarta harus segera mereformasi birokrasinya dan menjamin akses bantuan hukum yang adil bagi seluruh warga tanpa diskriminasi.<\/p>\n\n<p><strong>Perlu arah baru untuk Jakarta<\/strong><\/p>\n\n<p>Seratus hari memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan, tetapi sudah cukup untuk menunjukkan arah dan keberpihakan. Sayangnya, arah yang ditunjukkan Pram-Doel belum sejalan dengan visi kota yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada warganya.<\/p>\n\n<p>Pemerintahan Pram-Doel masih terjebak pada solusi instan yang justru memperparah masalah jangka panjang. Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang sungguh-sungguh mendengar suara warga, konsisten berpihak pada lingkungan, dan berani mengambil langkah inovatif demi masa depan yang berkelanjutan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Pemprov DKI Jakarta perlu mendorong partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, terutama terkait tujuan pembangunan dan pengelolaan lingkungan. Jakarta harus berani berubah: melindungi warganya, mendengar suara mereka, dan fokus pada keberlanjutan untuk kota yang adil dan layak huni.<\/p>\n\n<p><strong>Narahubung:<\/strong><\/p>\n\n<p>Rahka Susanto (08111098815) &#8211; Juru Kampanye Komunikasi Greenpeace Indonesia<\/p>\n\n<p>Guntoro (085775528945) &#8211; Urban Poor Consortium (UPC)<\/p>\n\n<p>Alif Fauzi Nurwidiastomo (nurwidiastomo@bantuanhukum.or.id) &#8211; Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 2 Juni 2025 \u2014 Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":63035,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji \"Jakarta Menyala\" Terjebak Pola Lama","p4_og_description":"Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga. Pelayanan publik masih lambat, pengaduan masyarakat jarang ditanggapi, dan berbagai persoalan lama terus terbengkalai.\u00a0","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/7e152c15-pramdoel100hari-scaled.jpg","p4_og_image_id":"63035","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[54,62],"tags":[34],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-63029","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-perkotaan","category-siaran-pers","tag-kota","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &quot;Jakarta Menyala&quot; Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &quot;Jakarta Menyala&quot; Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta, 2 Juni 2025 \u2014 Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga.&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-02T03:02:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-23T14:46:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/7e152c15-pramdoel100hari-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &#8220;Jakarta Menyala&#8221; Terjebak Pola Lama\",\"datePublished\":\"2025-06-02T03:02:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:46:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\"},\"wordCount\":969,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Kota\"],\"articleSection\":[\"Perkotaan\",\"Siaran Pers\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\",\"name\":\"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji \\\"Jakarta Menyala\\\" Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-06-02T03:02:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-23T14:46:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &#8220;Jakarta Menyala&#8221; Terjebak Pola Lama\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji \"Jakarta Menyala\" Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji \"Jakarta Menyala\" Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia","og_description":"Jakarta, 2 Juni 2025 \u2014 Seratus hari Pramono Anung dan Rano Karno memimpin Jakarta, namun program awal mereka dalam Instruksi Gubernur Nomor e-0001 Tahun 2025 belum menyelesaikan masalah mendasar warga.&hellip;","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2025-06-02T03:02:00+00:00","article_modified_time":"2025-06-23T14:46:15+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1920,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/06\/7e152c15-pramdoel100hari-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &#8220;Jakarta Menyala&#8221; Terjebak Pola Lama","datePublished":"2025-06-02T03:02:00+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:46:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/"},"wordCount":969,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Kota"],"articleSection":["Perkotaan","Siaran Pers"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/","name":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji \"Jakarta Menyala\" Terjebak Pola Lama - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2025-06-02T03:02:00+00:00","dateModified":"2025-06-23T14:46:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/63029\/100-hari-pram-doel\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"100 Hari Pram-Doel Pimpin Ibu Kota:\u00a0Jakarta Masih Gelap, Janji &#8220;Jakarta Menyala&#8221; Terjebak Pola Lama"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63029","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63029"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63029\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63196,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63029\/revisions\/63196"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63029"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63029"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63029"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=63029"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}