{"id":65542,"date":"2025-11-25T15:31:00","date_gmt":"2025-11-25T08:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=65542"},"modified":"2025-12-03T09:54:27","modified_gmt":"2025-12-03T02:54:27","slug":"mikroplastik-ancam-kesehatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/","title":{"rendered":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Semarang, 25 November 2025 &#8211; <\/strong>Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia. Hal ini membuat mikroplastik tak lagi jadi sebatas ancaman bagi lingkungan, tapi juga jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu kemampuan kognitif manusia.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Untuk mencari tahu seberapa jauh penyebaran mikroplastik, Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) mengajak warga Semarang, Jawa Tengah untuk ikut meneliti di mana saja mikroplastik ditemukan melalui uji coba Citizen Science.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cPara pengunjung kami ajak untuk membawa sampel dari rumah, seperti air minum, swab kulit, dan makanan, untuk kemudian diuji menggunakan mikroskop. Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1\u20132 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,\u201d ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65543\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">A tourist walks along a beach covered in piles of debris and plastic waste in Canggu, Bali, Indonesia.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Made Nagi \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Hasil pengujian sampel yang berasal dari masyarakat ini menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian.\u00a0<\/p>\n\n<p>Riset terbaru Ecoton dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) menyebutkan, Semarang menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi. Penelitian yang dilakukan di 18 kota\/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKomposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas. Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara\u201d ungkap Rafika. <\/p>\n\n<p>Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen. <\/p>\n\n<p>&#8220;Korelasi ini menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga,&#8221; kata Rafika. <\/p>\n\n<p>Sampel mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.\u00a0<\/p>\n\n<p>Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan. Jenis plastik PET (<em>Polyethylene Terephthalate<\/em>), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan <em>peer review<\/em> ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cKami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,\u201d ujarnya. Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).&nbsp;<\/p>\n\n<p>Tingginya pencemaran mikroplastik yang kini telah menjadi ancaman kesehatan mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 434.244 ton sampah di tahun 2024 di Semarang. Sekitar 17,2 persen dari total sampah tersebut merupakan sampah plastik. Persentase ini sedikit lebih rendah dibanding komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk <em>Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 <\/em>menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Ellen Nugroho mengatakan, acara Roadshow <em>The Invisible Threat of Microplastics <\/em>semakin memperkuat bukti bahwa mikroplastik kini telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui air, makanan, bahkan udara yang kita hirup setiap hari.\u00a0<\/p>\n\n<p>\u201cJika kita ingin mencegah anak-anak Semarang terganggu kesehatan dan tumbuh kembangnya akibat mikroplastik, kita harus mulai mengurangi plastik sekali pakai hari ini. Yang perlu diubah tidak hanya gaya hidup masyarakat, tapi juga sistem yang membuat kita sulit hidup tanpa plastik,\u201d kata Ellen. \u201cPemerintah dan pengusaha harus terlibat mengubah cara produksi dan distribusi untuk mengatasi masalah ini.\u201d<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/7abf6a8d-gp0su6duq_low-res-with-credit-line-800px.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65546\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/7abf6a8d-gp0su6duq_low-res-with-credit-line-800px.jpg 800w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/7abf6a8d-gp0su6duq_low-res-with-credit-line-800px-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/7abf6a8d-gp0su6duq_low-res-with-credit-line-800px-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/7abf6a8d-gp0su6duq_low-res-with-credit-line-800px-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ahead of the UN negotiations hundreds of citizens and civil society organisations from across the world gather at Place des Nations in Geneva to demand an ambitious and legally binding plastics treaty that puts people and the planet before polluters. Protesters wear yellow, red and orange to symbolise the urgency of the crisis and the danger posed by the unchecked production of plastic, which is overwhelmingly derived from fossil fuels.<div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Samuel Schalch \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cPemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (<em>reuse<\/em>) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,\u201d ujarnya. Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cProdusen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (<em>reuse<\/em>) dan isi ulang (<em>refill<\/em>). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,\u201d kata Ibar.&nbsp;<\/p>\n\n<p>Baca laporan lengkapnya di sini: <a href=\"http:\/\/act.gp\/mikroplastik\">Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata yang Dapat Menghambat Fungsi Otak<\/a><\/p>\n\n<p><strong>Kontak media:<\/strong><\/p>\n\n<p>Ibar F. Akbar, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia, +62 812-2572-3998<\/p>\n\n<p>Riska Rahman, <em>Communication Specialist<\/em> Greenpeace Indonesia, +62 821-1456-2039<\/p>\n\n<p>Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium ECOTON Foundation, +62 821-4454-1774<\/p>\n\n<p>Ellen Nugroho, Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam, +62 813-1646-4647&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang, 25 November 2025 &#8211; Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":65543,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat","p4_og_description":" Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia. Hal ini membuat mikroplastik tak lagi jadi sebatas ancaman bagi lingkungan, tapi juga jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dan berpotensi mengganggu kemampuan kognitif manusia.\u00a0","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px.jpg","p4_og_image_id":"65543","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[61,62,75],"tags":[23,34],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-65542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dan-cerita","category-siaran-pers","category-sosial-ekonomi","tag-pantang-plastik","tag-kota","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Semarang, 25 November 2025 &#8211; Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia.&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-25T08:31:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-03T02:54:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"533\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat\",\"datePublished\":\"2025-11-25T08:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-03T02:54:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\"},\"wordCount\":1040,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"PantangPlastik\",\"Kota\"],\"articleSection\":[\"Kabar dan Cerita\",\"Siaran Pers\",\"Sosial dan Ekonomi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\",\"name\":\"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-25T08:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-03T02:54:27+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia","og_description":"Semarang, 25 November 2025 &#8211; Tingginya penggunaan plastik sekali pakai membuat pencemaran mikroplastik semakin sulit dibendung. Mikroplastik kini tak lagi hanya ditemukan di perairan, tapi juga sampai ke tubuh manusia.&hellip;","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2025-11-25T08:31:00+00:00","article_modified_time":"2025-12-03T02:54:27+00:00","og_image":[{"width":800,"height":533,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2025\/11\/c0f3bb5a-gp1swpkh_low-res-with-credit-line-800px.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat","datePublished":"2025-11-25T08:31:00+00:00","dateModified":"2025-12-03T02:54:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/"},"wordCount":1040,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["PantangPlastik","Kota"],"articleSection":["Kabar dan Cerita","Siaran Pers","Sosial dan Ekonomi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/","name":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2025-11-25T08:31:00+00:00","dateModified":"2025-12-03T02:54:27+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65542\/mikroplastik-ancam-kesehatan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cemaran Mikroplastik yang Semakin Luas Ancam Kesehatan Masyarakat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65542"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65542\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65547,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65542\/revisions\/65547"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65543"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65542"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=65542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}