{"id":65787,"date":"2026-02-06T16:37:45","date_gmt":"2026-02-06T09:37:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=65787"},"modified":"2026-02-06T16:37:49","modified_gmt":"2026-02-06T09:37:49","slug":"belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/","title":{"rendered":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full  caption-alignment-center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"576\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1.jpeg\" alt=\"Mendaur ulang kain \u2018angpao\u2019 \/ \u2018Lai-see\u2019 lama untuk membuat kerajinan dan ornamen warna-warni. \u00a9 Josephine Ng\" class=\"wp-image-65788\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1-300x225.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1-453x340.jpeg 453w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mendaur ulang kain \u2018angpao\u2019 \/ \u2018Lai-see\u2019 lama untuk membuat kerajinan dan ornamen warna-warni. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Memberikan \u2018Angpao\u2019, atau, \u2018Lai-see\u2019, atau yang dikenal juga sebagai amplop merah, tidak diragukan lagi merupakan bagian integral dari budaya Tionghoa. Setiap tahun baru Imlek, anak-anak sangat gembira menerima &#8220;berkah&#8221; dari orang dewasa dalam amplop merah. Namun, tradisi ini memiliki dampak pada lingkungan. Sebagai contoh dari negara saya, warga Hong Kong rata-rata menggunakan sekitar 320 juta amplop merah setiap tahunnya, setara dengan menebang 10.000 pohon. Saya selalu menggunakan kembali amplop merah, tetapi tidak semuanya dapat digunakan kembali dengan mudah. \u200b\u200bKali ini saya akan menantang diri saya dan putri saya untuk memberi kesempatan pada amplop merah bekas agar menjadi sesuatu yang bermakna.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb4534e4-ang-pao-recycle-blog-pic-2.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65789\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb4534e4-ang-pao-recycle-blog-pic-2.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb4534e4-ang-pao-recycle-blog-pic-2-225x300.jpeg 225w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb4534e4-ang-pao-recycle-blog-pic-2-255x340.jpeg 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">\u2018Angpao\u2019 atau \u2018Lai-see\u2019 dengan lambang zodiak Tionghoa tidak dapat digunakan kembali di tahun mendatang, tetapi sangat cocok untuk membuat mainan DIY. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Berasal dari Dinasti Tang (618-907 M), amplop merah yang digunakan di istana kekaisaran dibuat dengan tangan dari kain, sedangkan di keluarga biasa, orang hanya membungkus uang keberuntungan dalam kertas merah setelah menuliskan doa tahun baru mereka di atasnya. Amplop merah yang kita gunakan saat ini mengambil bentuk dan rupa dari tahun 1900-an dan seterusnya, di mana desain terbarunya semakin indah: dicetak dengan teknik hot stamping, kartun, dengan bahasa gaul, dan dibuat dengan kertas berkualitas baik. Meskipun beberapa di antaranya sulit untuk digunakan kembali, terutama yang bertuliskan simbol tahun zodiak dan nama keluarga, amplop tersebut merupakan bahan yang sempurna untuk kerajinan tangan.<\/p>\n\n<p><strong>Naga Api Emas: Mendaur Ulang Angpao dari tahun Kuda<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"575\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bcff06fa-ang-pao-recycle-blog-pic-3.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65790\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bcff06fa-ang-pao-recycle-blog-pic-3.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bcff06fa-ang-pao-recycle-blog-pic-3-300x225.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bcff06fa-ang-pao-recycle-blog-pic-3-454x340.jpeg 454w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Balikkan ke sisi yang berlawanan, gunakan kedua ibu jari Anda untuk menekan sisi gulungan tisu toilet seperti yang ditunjukkan di sisi kanan gambar. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Zodiak Tionghoa membutuhkan waktu 12 tahun untuk mencapai siklus berikutnya, jadi jika Anda ingin menggunakan kembali amplop merah dengan lambang zodiak, Anda harus menyimpannya selama lebih dari satu dekade! Saya masih menyimpan beberapa di antaranya karena kualitasnya masih sangat bagus. Misalnya, amplop merah bergambar kuda emas yang saya gunakan kali ini. Sekarang saya bisa mengubahnya menjadi naga yang menarik!<\/p>\n\n<p><strong>Bahan-bahan:<\/strong><br>1 gulungan kertas toilet, 1 bungkus emas, kertas krep (berwarna oranye atau merah), kertas berwarna perak, dan 2 mata plastik.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/c92eff1d-ang-pao-recycle-blog-pic-4.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65791\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/c92eff1d-ang-pao-recycle-blog-pic-4.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/c92eff1d-ang-pao-recycle-blog-pic-4-225x300.jpeg 225w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/c92eff1d-ang-pao-recycle-blog-pic-4-255x340.jpeg 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Langkah-langkah pembuatan kepala naga. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Cara membuat<\/strong>:<\/p>\n\n<p>Kita mulai dengan membentuk tubuh naga terlebih dahulu.<\/p>\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunting amplop merah seperti yang ditunjukkan di bagian kanan atas gambar.<\/li>\n\n\n\n<li>Potong amplop merah agar panjangnya 0,5-1 cm lebih panjang dari gulungan tisu toilet.<\/li>\n\n\n\n<li>Rekatkan kertas dan gulungan tisu toilet menjadi satu.<\/li>\n\n\n\n<li>Ikuti gambar di bagian kanan bawah, tekan sisa kertas 0,5-1 cm ke dalam gulungan tisu toilet, dan rekatkan dengan kuat. Ini akan menjadi mulut naga.<\/li>\n<\/ol>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/11a7d45f-ang-pao-recycle-blog-pic-5.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65792\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/11a7d45f-ang-pao-recycle-blog-pic-5.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/11a7d45f-ang-pao-recycle-blog-pic-5-225x300.jpeg 225w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/11a7d45f-ang-pao-recycle-blog-pic-5-255x340.jpeg 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Langkah-langkah untuk membuat mata naga dan nyala apinya. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Sekarang saatnya untuk mengolah &#8216;nyala api&#8217;.<\/p>\n\n<p>5. Potong kertas krep merah\/oranye menjadi beberapa bagian.<\/p>\n\n<p>6. Tempelkan potongan kertas krep satu per satu ke mulut naga. Untuk efek &#8216;api&#8217; yang lebih baik, Anda bisa menempelkan lebih banyak potongan kertas krep ke langit-langit mulut.<\/p>\n\n<p>7. Buat 2 pasang bola kertas berwarna perak, 1 besar dan 1 kecil. Bola-bola ini akan menjadi mata dan lubang hidung. Gunakan lem putih untuk menempelkannya pada gulungan kertas.<\/p>\n\n<p>8. Terakhir namun tak kalah penting: \u2018Menempelkan titik pada mata naga\u2019! Tempelkan mata plastik pada sepasang bola kertas berwarna perak yang lebih besar.<\/p>\n\n<p>Selesai! Anak-anak bisa mencoba meniup udara ke kepala naga, naga itu akan langsung berubah menjadi naga api!<\/p>\n\n<p><strong>Ikan angpao \/ lai-see daur ulang: Semoga tahun ini membawa keberlimpahan bagi Anda<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"576\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/a5f08d07-ang-pao-recycle-blog-pic-6.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65793\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/a5f08d07-ang-pao-recycle-blog-pic-6.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/a5f08d07-ang-pao-recycle-blog-pic-6-300x225.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/a5f08d07-ang-pao-recycle-blog-pic-6-453x340.jpeg 453w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ikan kertas ini merupakan bahan yang bagus untuk membuat ornamen atau karya seni lainnya. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>Karakter bahasa Tionghoa  untuk &#8216;ikan\u2019 memiliki bunyi yang sama dengan kata \u2018kelimpahan\u2019. Jika Anda mengucapkan kepada teman Tionghoa Anda \u201csemoga setiap tahun selalu ada ikan\u201d, Anda akan melihat mereka berseri-seri gembira. Ikan juga merupakan simbol populer dalam ornamen Tahun Baru Imlek atau \u2018Fai-Chun\u2019. Ikan \u2018angpao\u2019 \/ \u2018lai-see\u2019 daur ulang dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai macam dekorasi. Anda dapat merangkainya dengan tali untuk menjadi ornamen, atau menempelkannya pada kertas tebal untuk membuat karya seni Tahun Baru.<\/p>\n\n<p><strong>Bahan-bahan:<\/strong><br>1 gulungan tisu toilet, 2 amplop merah<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"767\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb6894d2-ang-pao-recycle-blog-pic-7.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65794\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb6894d2-ang-pao-recycle-blog-pic-7.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb6894d2-ang-pao-recycle-blog-pic-7-300x300.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb6894d2-ang-pao-recycle-blog-pic-7-150x150.jpeg 150w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/bb6894d2-ang-pao-recycle-blog-pic-7-340x340.jpeg 340w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Langkah-langkah pembuatan badan ikan. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><strong>Cara membuat:<\/strong><\/p>\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunting kemasan seperti yang ditunjukkan, dan tempelkan ke gulungan tisu toilet.<\/li>\n\n\n\n<li>Jika Anda menggunakan kemasan ukuran sedang standar, Anda akan menemukan kertasnya 0,5-1 cm lebih panjang dari gulungan tisu toilet. Cukup tekan sisa kertas ke dalam gulungan tisu toilet, dan rekatkan dengan kuat. Ini akan menjadi mulut ikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Balikkan ke sisi yang berlawanan, gunakan kedua ibu jari Anda untuk menekan sisi gulungan tisu toilet seperti yang ditunjukkan di sisi kanan gambar.<\/li>\n<\/ol>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"767\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/36a4c745-ang-pao-recycle-blog-pic-8.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65795\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/36a4c745-ang-pao-recycle-blog-pic-8.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/36a4c745-ang-pao-recycle-blog-pic-8-300x300.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/36a4c745-ang-pao-recycle-blog-pic-8-150x150.jpeg 150w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/36a4c745-ang-pao-recycle-blog-pic-8-340x340.jpeg 340w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Langkah-langkah membuat ekor ikan. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>4. Pilih amplop merah lain, gambarlah ekor ikan.<br>5. Gunakan lem tembak untuk menempelkan ekor ke badan.<br>6. Rekatkan kembali bagian ekor ikan dan gulungan tisu toilet.<br>7. Jepitkan penjepit pakaian pada ekor ikan hingga lem mengering.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"767\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/73646733-ang-pao-recycle-blog-pic-9.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-65797\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/73646733-ang-pao-recycle-blog-pic-9.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/73646733-ang-pao-recycle-blog-pic-9-300x300.jpeg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/73646733-ang-pao-recycle-blog-pic-9-150x150.jpeg 150w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/73646733-ang-pao-recycle-blog-pic-9-340x340.jpeg 340w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Langkah terakhir: pasang mata ikan dan siripnya. \u00a9 Josephine Ng<\/figcaption><\/figure>\n\n<p>8. Buat mata ikan dan siripnya dengan sisa amplop merah, guntinglah.<br>9. Tempelkan pada posisi yang tepat, selesai!<\/p>\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n<p><em>Artikel ini ditulis oleh Josephine NG dan pertama kali diterbitkan di website Greenpeace East Asia pada  21 Januari 2020<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengubah angpao lama menjadi aneka kerajinan dan dekorasi penuh warna bisa jadi aktivitas seru sekaligus bermakna. Tradisi berbagi angpao atau amplop merah memang tak terpisahkan dari budaya Tionghoa. Namun di balik kehangatan tradisi tersebut, ada dampak lingkungan yang sering luput dari perhatian.<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":65788,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao","p4_og_description":"Mengubah angpao lama menjadi aneka kerajinan dan dekorasi penuh warna bisa jadi aktivitas seru sekaligus bermakna. Tradisi berbagi angpao, atau amplop merah, memang tak terpisahkan dari budaya Tionghoa. Namun di balik kehangatan tradisi tersebut, ada dampak lingkungan yang sering luput dari perhatian.","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[63,61],"tags":[23],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-65787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kabar-dan-cerita","tag-pantang-plastik","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mengubah angpao lama menjadi aneka kerajinan dan dekorasi penuh warna bisa jadi aktivitas seru sekaligus bermakna. Tradisi berbagi angpao atau amplop merah memang tak terpisahkan dari budaya Tionghoa. Namun di balik kehangatan tradisi tersebut, ada dampak lingkungan yang sering luput dari perhatian.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-06T09:37:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-06T09:37:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"576\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ina Aninda\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ina Aninda\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ina Aninda\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/9da60c86b2862dec0b95d9b565abca8e\"},\"headline\":\"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao\",\"datePublished\":\"2026-02-06T09:37:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-06T09:37:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\"},\"wordCount\":812,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"PantangPlastik\"],\"articleSection\":[\"Artikel\",\"Kabar dan Cerita\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\",\"name\":\"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-02-06T09:37:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-06T09:37:49+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/9da60c86b2862dec0b95d9b565abca8e\",\"name\":\"Ina Aninda\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocKh8zzDqFawtRDx6vA44yC2otXD1SmSEX6DRG7fYvf8VISEbA8I=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocKh8zzDqFawtRDx6vA44yC2otXD1SmSEX6DRG7fYvf8VISEbA8I=s96-c\",\"caption\":\"Ina Aninda\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/ianinda\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia","og_description":"Mengubah angpao lama menjadi aneka kerajinan dan dekorasi penuh warna bisa jadi aktivitas seru sekaligus bermakna. Tradisi berbagi angpao atau amplop merah memang tak terpisahkan dari budaya Tionghoa. Namun di balik kehangatan tradisi tersebut, ada dampak lingkungan yang sering luput dari perhatian.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2026-02-06T09:37:45+00:00","article_modified_time":"2026-02-06T09:37:49+00:00","og_image":[{"width":768,"height":576,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/02\/b6c23cc1-ang-pao-recycle-blog-pic-1.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ina Aninda","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Ina Aninda","Est. reading time":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/"},"author":{"name":"Ina Aninda","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/9da60c86b2862dec0b95d9b565abca8e"},"headline":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao","datePublished":"2026-02-06T09:37:45+00:00","dateModified":"2026-02-06T09:37:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/"},"wordCount":812,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["PantangPlastik"],"articleSection":["Artikel","Kabar dan Cerita"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/","name":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2026-02-06T09:37:45+00:00","dateModified":"2026-02-06T09:37:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/65787\/belajar-daur-ulang-sejak-dini-mainan-diy-dari-angpao\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Belajar Daur Ulang Sejak Dini: Mainan DIY dari Angpao"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/9da60c86b2862dec0b95d9b565abca8e","name":"Ina Aninda","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocKh8zzDqFawtRDx6vA44yC2otXD1SmSEX6DRG7fYvf8VISEbA8I=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocKh8zzDqFawtRDx6vA44yC2otXD1SmSEX6DRG7fYvf8VISEbA8I=s96-c","caption":"Ina Aninda"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/ianinda\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65787"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65798,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65787\/revisions\/65798"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65787"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=65787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}