{"id":65822,"date":"2026-03-03T11:57:00","date_gmt":"2026-03-03T04:57:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=65822"},"modified":"2026-03-03T15:26:31","modified_gmt":"2026-03-03T08:26:31","slug":"dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/","title":{"rendered":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Jakarta, 3 Maret 2026<\/strong> &#8211; Laporan investigasi terbaru Greenpeace Asia Tenggara bersama Uniting Church in Australia, Synod of Victoria and Tasmania, mengungkap dugaan indikasi kerja paksa yang dialami 25 awak kapal perikanan (AKP) Indonesia di 17 kapal penangkap tuna berbendera Indonesia. Kapal-kapal tersebut diduga menyuplai hasil tangkapan ke lima perusahaan pengolahan tuna di Indonesia dan diekspor ke 10 perusahaan makanan laut di Australia.<\/p>\n\n<p>Dalam laporan <em>\u201cForced to the Bottom: Squeezing Indonesian Fishers and Oceans for Dirty Tuna Profits\u201d<\/em>, analisis terhadap 11 indikator kerja paksa dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) diduga secara indikatif menunjukkan AKP mengalami penyalahgunaan kerentanan sebesar 56%, jeratan utang 56%, serta penipuan 40%.<\/p>\n\n<p>Dugaan indikasi kerja paksa ditemukan sejak awal AKP dipekerjakan hingga kontrak berakhir. Saat mendaftarkan diri sebagai awak kapal, para AKP mengaku dimanipulasi oleh <em>calo <\/em>dengan iming-iming gaji tinggi dan pinjaman uang. Namun, nyatanya <em>calo <\/em>justru membebani AKP dengan biaya rekrutmen atau penempatan dan menahan dokumen pribadi mereka. Selama di laut, di antara mereka melaporkan bekerja hingga 21 jam dalam sehari tanpa istirahat yang memadai dan akses komunikasi. Ketika kembali ke darat, mereka harus menerima upah yang banyak terpotong akibat skema bagi hasil yang tidak transparan dan utang.<\/p>\n\n<p>Laporan ini turut mengungkap dugaan keterkaitan rantai pasar sejumlah perusahaan pengolahan dan merek yang diduga menikmati keuntungan dari ekspor tuna Indonesia, sambil berlindung di balik kompleksitas rantai pasok. Setidaknya 17 kapal tersebut diduga memasok lima perusahaan pengolahan ikan di Indonesia, antara lain:<\/p>\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>PT Aneka Tuna Indonesia<\/li>\n\n\n\n<li>PT Samudera Mandiri Sentosa<\/li>\n\n\n\n<li>PT Pahala Bahari Nusantara<\/li>\n\n\n\n<li>PT Intimas Surya<\/li>\n\n\n\n<li>PT Sinar Pure Foods International<\/li>\n<\/ul>\n\n<p>Produk dari perusahaan tersebut kemudian diduga masuk ke sedikitnya 10 perusahaan makanan laut di Australia, termasuk merek Sirena, Safcol, dan JFC Australia.&nbsp;<\/p>\n\n<p>\u201cDalam konteks perdagangan global yang semakin menuntut kepatuhan terhadap standar pelindungan hak asasi manusia, perusahaan wajib segera melakukan audit independen terhadap kapal pemasok, membuka informasi rantai pasok secara transparan, serta menghentikan kontrak dengan entitas yang tidak mampu membuktikan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan internasional,\u201d ujar Sihar Silalahi, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia.<\/p>\n\n<p>Hal senada juga disampaikan Mark Zirnsak, Senior Social Justice Advocate\u200b for Uniting Church in Australia, Synod Victoria and Tasmania. Ia menyatakan kesaksian AKP Indonesia merupakan sinyal bagi Pemerintah Australia untuk mewajibkan perusahaan yang mengimpor barang dari sektor berisiko tinggi agar memastikan tidak ada perbudakan modern dalam proses produksinya.<\/p>\n\n<p>\u201cSebagian besar warga Australia ingin memastikan bahwa barang yang mereka beli tidak melibatkan penderitaan dan eksploitasi terhadap orang-orang yang terlibat dalam produksinya,\u201d ujar Mark.<\/p>\n\n<p>Temuan indikatif dalam laporan ini juga mempertegas urgensi reformasi pelindungan awak kapal perikanan di Indonesia. Langkah paling mendesak adalah ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan (K-188), yang menetapkan standar minimum terkait kondisi kerja, kontrak, upah, keselamatan, dan jaminan sosial bagi awak kapal.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Menagih Komitmen Ratifikasi ILO K-188<\/h2>\n\n<p>Pada peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2025, Presiden RI Prabowo Subianto telah menyampaikan komitmen pemerintah untuk meratifikasi ILO K-188. Namun, hingga kini hal tersebut belum terealisasi. Greenpeace Indonesia bersama sejumlah koalisi masyarakat sipil lintas sektor mendorong momentum ini segera diwujudkan dalam langkah konkret.<\/p>\n\n<p>\u201cJanji itu tidak boleh berhenti sebagai pernyataan politik. Ratifikasi Konvensi ILO 188 akan menjadi fondasi hukum penting untuk memperkuat pengawasan awak kapal, memperjelas tanggung jawab pemilik kapal, serta menutup celah eksploitasi dalam rantai pasok perikanan,\u201d kata Sihar.<\/p>\n\n<p>Greenpeace Indonesia bersama elemen masyarakat sipil lainnya mendesak pemerintah Indonesia untuk segera merealisasikan ratifikasi Konvensi ILO 188, memperkuat mekanisme pengawasan perekrutan dan kondisi kerja di kapal, serta memastikan koordinasi lintas kementerian dalam perlindungan awak kapal perikanan. Tanpa reformasi menyeluruh, risiko kerja paksa dan pelanggaran hak asasi manusia akan terus membayangi industri perikanan Indonesia.<\/p>\n\n<p>\u201cPemerintah dan perusahaan punya kekuatan. Maka, dalam situasi ini, kegagalan perbaikan kebijakan dan tindakan dalam pelindungan adalah bentuk pembiaran terhadap sistem yang mengeksploitasi awak kapal dan melanggengkan perbudakan modern di industri perikanan Indonesia maupun global. Sudah saatnya pembenahan pelindungan awak kapal dan penindakan IUU <em>fishing<\/em> dilakukan secara serius dan menyeluruh \u201d tutup Sihar.<\/p>\n\n<p>***<\/p>\n\n<p>Unduh laporan lengkapnya <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/southeastasia\/publication\/68291\/forced-to-the-bottom-squeezing-indonesian-fishers-and-oceans-for-dirty-tuna-profits\/\">di sini<br><\/a>Foto dokumentasi dapat diakses di <a href=\"https:\/\/media.greenpeace.org\/Detail\/27MZIFJRABABA\">Greenpeace Media Library<\/a><\/p>\n\n<p>Baca juga siaran pers bersama Greenpeace Asia Tenggara x Uniting Church in Australia di sini<\/p>\n\n<p><strong>Narahubung:<\/strong><\/p>\n\n<p>Sihar Silalahi, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, <a href=\"mailto:sihar.silalahi@greenpeace.org\">sihar.silalahi@greenpeace.org<\/a>, +62 811-9611-0906Gilang Ramadhan, Petugas Media dan Komunikasi Greenpeace Indonesia, <a href=\"mailto:gilang.ramadhan@greenpeace.org\">gilang.ramadhan@greenpeace.org<\/a>, +62 878-2210-6484<\/p>\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 3 Maret 2026 &#8211; Laporan investigasi terbaru Greenpeace Asia Tenggara bersama Uniting Church in Australia, Synod of Victoria and Tasmania, mengungkap dugaan indikasi kerja paksa yang dialami 25 awak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":49,"featured_media":65823,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[53,62],"tags":[20],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-65822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-laut","category-siaran-pers","tag-laut","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta, 3 Maret 2026 &#8211; Laporan investigasi terbaru Greenpeace Asia Tenggara bersama Uniting Church in Australia, Synod of Victoria and Tasmania, mengungkap dugaan indikasi kerja paksa yang dialami 25 awak&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-03T04:57:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-03-03T08:26:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/03\/a4238fca-dji_20251110161631_0111_d-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\"},\"author\":{\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\"},\"headline\":\"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak\",\"datePublished\":\"2026-03-03T04:57:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-03T08:26:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\"},\"wordCount\":690,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Laut\"],\"articleSection\":[\"Laut\",\"Siaran Pers\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\",\"name\":\"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-03-03T04:57:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-03T08:26:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/www.greenpeace.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia","og_description":"Jakarta, 3 Maret 2026 &#8211; Laporan investigasi terbaru Greenpeace Asia Tenggara bersama Uniting Church in Australia, Synod of Victoria and Tasmania, mengungkap dugaan indikasi kerja paksa yang dialami 25 awak&hellip;","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2026-03-03T04:57:00+00:00","article_modified_time":"2026-03-03T08:26:31+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1440,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/03\/a4238fca-dji_20251110161631_0111_d-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Greenpeace Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Greenpeace Indonesia","Est. reading time":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/"},"author":{"name":"Greenpeace Indonesia","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe"},"headline":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak","datePublished":"2026-03-03T04:57:00+00:00","dateModified":"2026-03-03T08:26:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/"},"wordCount":690,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Laut"],"articleSection":["Laut","Siaran Pers"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/","name":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2026-03-03T04:57:00+00:00","dateModified":"2026-03-03T08:26:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65822\/dugaan-kerja-paksa-dalam-rantai-pasok-tuna-ri-australia-terungkap-ratifikasi-ilo-k-188-makin-mendesak\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dugaan Kerja Paksa dalam Rantai Pasok Tuna RI-Australia Terungkap, Ratifikasi ILO K-188 Makin Mendesak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/1164768f1dbd90104f013ef8c87ab6fe","name":"Greenpeace Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b621795ab905587cb02426280d3c16c53673fcde62d083b6bfb0d91fc07adce?s=96&d=mm&r=g","caption":"Greenpeace Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/www.greenpeace.or.id"],"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/greenpeace-indonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65822","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/49"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65822"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65822\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":65824,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65822\/revisions\/65824"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/65823"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65822"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=65822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}