{"id":66072,"date":"2026-04-22T11:23:36","date_gmt":"2026-04-22T04:23:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=66072"},"modified":"2026-04-22T11:29:38","modified_gmt":"2026-04-22T04:29:38","slug":"dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/","title":{"rendered":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n<p>Jauh sebelum perlindungan lingkungan menjadi upaya global, Masyarakat Adat serta komunitas lokal dan pesisir telah merawat Bumi. Baik di tepi laut maupun di dalam hutan, cara hidup mereka selalu dibentuk oleh ikatan yang mendalam dengan wilayah mereka, yang telah mereka pertahankan selama beberapa generasi.<\/p>\n\n<p>Di berbagai wilayah, komunitas-komunitas tersebut telah berjuang untuk melindungi rumah, kehidupan, dan mata pencaharian mereka dari industri yang menjarah alam demi keuntungan, seperti penambangan emas ilegal di Amazon dan penambangan nikel di Indonesia, pabrik tepung ikan dan minyak ikan industri yang menguras perairan pesisir di Senegal, serta megaproyek industri yang mengancam mata pencaharian pesisir di Thailand. Terlepas dari geografisnya, sebuah kenyataan umum muncul: mereka yang paling tidak bertanggung jawab atas krisis ini justru berada di garis depan dalam menghadapinya. Dengan melakukan hal itu, mereka tidak hanya melindungi wilayah mereka, tetapi juga menjaga ekosistem yang menopang kehidupan di Bumi, seringkali dengan risiko pribadi yang besar.<\/p>\n\n<p>Dari Amazon hingga Cekungan Kongo hingga Thailand, mari berkenalan dengan lima Pembela Bumi yang kisah perlawanan dan hubungan erat mereka dengan rumah serta komunitasnya menjadi inspirasi untuk bergabung dalam gerakan melindungi planet ini.<\/p>\n\n<p><strong>Valentin Engobo, Pemimpin desa Lokolama, di Cekungan Kongo<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"675\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg.jpg\" title=\"Forest Expedition Trip in Lokalama, DRC. \u00a9 Greenpeace \/ Junior D. Kannah\" alt=\"Forest Expedition Trip in Lokalama, DRC. \u00a9 Greenpeace \/ Junior D. Kannah\" class=\"wp-image-66073\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg-300x169.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg-768x432.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg-510x287.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Greenpeace \/ Junior D. Kannah<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><\/p>\n\n<p>Perkenalkan<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/africa\/en\/blog\/58516\/we-the-indigenous-peoples-of-the-forest-refuse-to-be-ignored-any-longer\/#:~:text=I%20am%20Valentin%20Engobo%20Mufia%2C%20a%20son,forest%20of%20the%20Democratic%20Republic%20of%20Congo.\"> Valentin Engobo<\/a>, seorang pemimpin adat di komunitas Lokolama, jauh di dalam hutan khatulistiwa Cekungan Kongo di Republik Demokratik Kongo. Ini adalah wilayah yang dibentuk oleh pengetahuan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tempat suku Tshwa telah lama hidup dalam hubungan yang erat dengan hutan dan<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/africa\/en\/press\/1792\/scientists-confirm-presence-of-peatlands-in-the-democratic-republic-of-congo\/\"> lahan gambutnya<\/a>. Sebagai wakil rakyatnya dan presiden<a href=\"https:\/\/sgp.undp.org\/spacial-itemid-projects-landing-page\/spacial-itemid-project-search-results\/spacial-itemid-project-detailpage.html?view=projectdetail&amp;id=29661\"> Asosiasi Petani Pygmy Lokolama (APPL)<\/a>, Valentin telah mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan tanah-tanah ini. Namun, seperti yang ia gambarkan, \u201ckami masih dipandang sebagai \u2018warga negara kelas dua,\u2019 penghalang pembangunan, bayangan di antara pepohonan,\u201d sementara keputusan mengenai wilayah mereka terus diambil tanpa melibatkan mereka.<\/p>\n\n<p>Lokolama terletak di jantung salah satu kompleks lahan gambut tropis terbesar di dunia, sebuah penyerap karbon luas yang menyimpan<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/africa\/en\/press\/1792\/scientists-confirm-presence-of-peatlands-in-the-democratic-republic-of-congo\/\"> setara dengan<\/a> emisi global selama tiga tahun. Bekerja sama dengan para ilmuwan, Valentin dan komunitasnya membantu menarik perhatian global terhadap ekosistem ini dan pentingnya bagi iklim. \u201cBukan hanya budaya kami yang terancam. Masa depan kalian pun terancam,\u201d ia memperingatkan. Melalui pengelolaan hutan yang dipimpin komunitas, advokasi, dan aksi internasional\u2014termasuk menentang kebijakan merugikan yang diberlakukan di tanah mereka\u2014ia melanjutkan perjuangan yang berakar pada generasi perlawanan, mempertahankan hak-hak rakyatnya dan ekosistem yang krusial bagi masa depan planet ini.<\/p>\n\n<p><strong>Diaba Diop, Pemimpin komunitas nelayan tradisional di Senegal<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"533\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/3b251976-gp0su5rdk_low-res-with-credit-line-800px.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-66074\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/3b251976-gp0su5rdk_low-res-with-credit-line-800px.jpg 533w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/3b251976-gp0su5rdk_low-res-with-credit-line-800px-200x300.jpg 200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/3b251976-gp0su5rdk_low-res-with-credit-line-800px-227x340.jpg 227w\" sizes=\"auto, (max-width: 533px) 100vw, 533px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Pierre Larrieu \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><\/p>\n\n<p>Diaba Diop mewakili ketangguhan komunitas nelayan di Senegal. Sebagai ketua Jaringan Perempuan Nelayan Tradisional di Senegal (REFEPAS), ia mewakili ribuan<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/africa\/en\/press\/60315\/we-feed-senegal-but-the-law-doesnt-recognize-us-women-fish-processors-demand-legal-status\/\"> perempuan pengolah<\/a>, penjual ikan, dan pedagang skala kecil, yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas pekerjaan mereka serta peran mereka dalam perekonomian lokal dan ketahanan pangan.<\/p>\n\n<p>Ia juga<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DKwIkRWPtkX\/\"> memperjuangkan<\/a> hak-hak sosial dan profesional perempuan di sektor ini, mendorong adanya identifikasi profesional, organisasi yang lebih baik, serta akses terhadap perlindungan sosial. Upayanya bertujuan untuk mengangkat para pekerja ini dari sektor informal dan memastikan martabat, keamanan, serta pengakuan institusional.<\/p>\n\n<p>Sebagai pembela laut yang gigih, Diaba Diop mempromosikan perikanan berkelanjutan dan<a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/wearefoodrise\/videos\/un-conference-french-speaking-community-video-2-shortermp4\/1356405258789219\/\"> memperingatkan<\/a> tentang dampak eksploitasi berlebihan. Ia berada di garis depan melawan kapal penangkap ikan industri yang menguras stok ikan dan mengancam mata pencaharian komunitasnya, serta menyerukan praktik yang lebih adil. Ia juga menggalang aksi menentang pabrik tepung ikan dan minyak ikan yang mengalihkan ikan dari konsumsi lokal ke pakan ternak di luar negeri, sehingga merugikan pendapatan perempuan dan mengancam ketahanan pangan lokal. Bersama para perempuan yang diwakilinya, Diaba terus<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/africa\/en\/blog\/60345\/i-exist\/\"> memperjuangkan<\/a> sumber daya laut dan masa depan komunitasnya.<\/p>\n\n<p><strong>Maria Socorro, Pemimpin Komunitas dari wilayah M\u00e9dio Juru\u00e1, Amazon Brasil<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs.jpg\" title=\"Respect the Amazon Expedition: Roque Community. \u00a9 Nilmar Lage \/ Greenpeace\" alt=\"Respect the Amazon Expedition: Roque Community. \u00a9 Nilmar Lage \/ Greenpeace\" class=\"wp-image-66075\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/649c3484-gp0su5hqs-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Nilmar Lage \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><\/p>\n\n<p>\u201cAmazon adalah rumahku, negeriku, tempat aku hidup bahagia,\u201d kata Maria Socorro, seorang <em>ribeirinha<\/em> (anggota komunitas tepi sungai) yang lahir dan besar di antara hutan dan sungai. Dia telah tinggal selama lebih dari 40 tahun di komunitas Roque, di<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/75975\/amazon-guardians-a-living-example-of-real-solutions\/\"> wilayah M\u00e9dio Juru\u00e1<\/a> di Amazon, membangun hidupnya dalam hubungan erat dengan hutan, bekerja mengumpulkan biji andiroba, sebuah praktik yang berakar pada mata pencaharian sekaligus perawatan terhadap wilayah tersebut. \u201cPohon ini sudah ada di sini saat saya tiba,\u201d katanya, sambil menunjuk salah satu pohon andiroba yang telah dia panen selama bertahun-tahun. \u201cPohon ini telah memberi begitu banyak.\u201d<\/p>\n\n<p>Setiap tahun, selama musim panen, Maria Socorro dan perempuan lain dari komunitas berkumpul di hutan, seringkali mengumpulkan lebih dari 50 kaleng biji bersama-sama. Pekerjaan ini bersifat kolektif, ditandai tidak hanya oleh usaha tetapi juga oleh momen-momen kegembiraan\u2014\u201ckami bernyanyi, tertawa, dan pergi bersama,\u201d kenangnya\u2014serta pemahaman mendalam terhadap ritme hutan. Biji-biji tersebut digunakan untuk memproduksi minyak untuk obat-obatan, sabun, dan kosmetik, menghasilkan pendapatan yang menopang keluarga sepanjang tahun. Bagi Maria Socorro, melindungi hutan tak terpisahkan dari kelangsungan hidup: \u201cJika ditebang, semuanya berakhir. Hutan berakhir, dan begitu pula produksi kami.\u201d<\/p>\n\n<p>Kisahnya merupakan bagian dari transformasi yang lebih luas di wilayah M\u00e9dio Juru\u00e1, di mana<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=brlLKXR3kBo\"> masyarakat telah berorganisasi<\/a> selama bertahun-tahun untuk mempertahankan wilayah mereka dan membangun ekonomi berkelanjutan yang berakar pada hutan yang masih utuh. Kini, Maria Socorro adalah salah satu dari banyak perempuan yang pekerjaan sehari-harinya membantu mempertahankan model ini\u2014model yang menjaga hutan tetap hidup sekaligus<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/brasil\/blog\/solucoes-da-floresta-o-que-sao-como-apoiar-e-por-que-a-amazonia-e-vital\/\"> menjamin mata pencaharian yang bermartabat<\/a>.<\/p>\n\n<p><strong>Khairiyah Rahmanyah, \u201cPutri Laut Chana\u201d dan aktivis pemuda dari Chana, Thailand<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"807\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72.jpg\" title=\"Chana Community Protest at UN Office in Bangkok. \u00a9 Chanklang  Kanthong \/ Greenpeace\" alt=\"Chana Community Protest at UN Office in Bangkok. \u00a9 Chanklang  Kanthong \/ Greenpeace\" class=\"wp-image-66076\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72-300x202.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72-1024x689.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72-768x516.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6841aab9-gp1swq72-506x340.jpg 506w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption><div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Chanklang  Kanthong \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p><strong>Khairiyah Rahmanyah<\/strong> menjadi terkenal di tingkat nasional ketika ia membawa perjuangan desanya dari pesisir Chana ke gerbang Gedung Pemerintahan di Bangkok. Sebagai putri seorang nelayan dari sebuah desa kecil di distrik Chana, ia telah mendedikasikan masa mudanya untuk melindungi kampung halamannya di tepi laut dari sebuah megaproyek industri raksasa. Proyek ini mengancam akan mengubah lebih dari 26 kilometer persegi garis pantai yang masih alami menjadi pusat industri berat dan pabrik petrokimia, sebuah langkah yang menurut Khairiyah akan menghancurkan ekosistem laut dan mata pencaharian tradisional komunitasnya.<\/p>\n\n<p>Bertekad menyelamatkan kampung halamannya, Khairiyah menarik perhatian nasional setelah<a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/international\/story\/45657\/thailand-young-female-activist\/\"> pergi ke Bangkok<\/a> untuk mengajukan petisi kepada Perdana Menteri dan berkemah di depan gedung-gedung pemerintah guna menuntut sidang publik yang transparan. Peristiwa tersebut menarik<a href=\"https:\/\/bkktribune.com\/special-report-khairiyahs-letters-chanas-story-between-the-lines\/\"> perhatian<\/a> media massa dan media sosial serta menjadi trending di Twitter Thailand dengan tagar #SAVECHANA. Meskipun menghadapi pengawasan dan intimidasi, ia terus memobilisasi komunitasnya dan bergabung dengan Greenpeace selama<a href=\"https:\/\/www.bangkokpost.com\/life\/social-and-lifestyle\/2816620\/voices-from-chana\"> tur kapal<\/a> Ocean Justice pada tahun 2024. Ia terus<a href=\"https:\/\/www.bangkokpost.com\/life\/social-and-lifestyle\/2816620\/voices-from-chana\"> menantang<\/a> narasi bahwa pertumbuhan PDB dari kawasan industri lebih penting daripada penurunan kualitas hidup yang terlihat di pusat-pusat industri lainnya. Saat ini, Khairiyah, komunitas Chana di provinsi Songkhla, dan Greenpeace menyerukan agar masyarakat pesisir memiliki hak untuk menentukan arah pembangunan di tanah air mereka sendiri<strong>.<\/strong><\/p>\n\n<p>Advokasi yang dilakukannya berakar pada ikatan yang mendalam dengan laut, di mana ia berjuang untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat melihat lumba-lumba dari depan rumah mereka, tumbuh dalam lingkungan yang sehat, dan melestarikan warisan budaya desa-desa pesisir Thailand.<\/p>\n\n<p><strong>Rifka Kmesrar, pemimpin pemuda adat dari Papua Barat, Indonesia<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"626\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-626x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-66077\" style=\"aspect-ratio:0.6113394896236719;width:410px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-626x1024.jpeg 626w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-183x300.jpeg 183w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-768x1256.jpeg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-939x1536.jpeg 939w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-835x1366.jpeg 835w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar-208x340.jpeg 208w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/6bd0402e-rifka-kmesrar.jpeg 978w\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><\/figure>\n\n<p>Dari Papua, Rifka Kmesrar, seorang pemimpin pemuda adat dari Desa Haha, Kecamatan Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan, di Papua Barat. Ini adalah wilayah dengan hutan tropis yang lebat dan keanekaragaman hayati yang kaya, di mana komunitas adat telah lama bergantung pada tanah leluhur dan sumber daya alam mereka untuk mata pencaharian, budaya, dan identitas mereka. Sebagai pemimpin muda Komunitas Tival, Rifka mewakili generasi baru yang tumbuh besar menyaksikan perjuangan orang tua mereka dalam mempertahankan wilayah mereka dari tekanan eksternal. \u201cKami telah melihat orang tua kami berjuang selama beberapa generasi,\u201d katanya, \u201cdan kami merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.\u201d<\/p>\n\n<p>Bersama pemuda adat lainnya, Rifka berupaya melindungi budaya komunitasnya serta sistem pangan mereka, memastikan bahwa pengetahuan tradisional dan sumber daya lokal tidak tergusur oleh penebangan hutan, perluasan perkebunan kelapa sawit, dan ancaman lainnya. Upaya mereka meliputi pengorganisasian secara kolektif, penguatan praktik budaya, serta pemetaan batas-batas wilayah adat mereka untuk mencegah perampasan tanah dan memperoleh pengakuan resmi. Dalam konteks di mana hutan semakin terancam, kepemimpinannya mencerminkan gerakan yang lebih luas dari pemuda-pemuda adat yang bangkit untuk mempertahankan tanah mereka, menjaga masa depan mereka, dan mempertahankan hubungan mereka dengan wilayah tersebut.<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Bertindak secara lokal untuk dampak global<\/strong><\/h2>\n\n<p>Kisah-kisah ini tidak terisolasi.<a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/s41893-018-0100-6\"> Penelitian<\/a> menunjukkan bahwa meskipun Masyarakat Adat hanya mencakup 6% dari populasi global, mereka mengelola lebih dari 25% permukaan daratan dunia dan merupakan penjaga utama beberapa ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati dan utuh di Bumi. Wilayah mereka mengatur iklim, menopang mata pencaharian, dan mempertahankan ekosistem jauh melampaui batas-batas wilayah mereka. Namun, kepemimpinan mereka sering terabaikan dalam keputusan mengenai konservasi dan aksi iklim.<\/p>\n\n<p>Tahun 2026 adalah tahun yang menentukan bagi alam. Pemerintah kini berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mengubah komitmen global menjadi tindakan nyata, termasuk janji yang dibuat dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (<em>Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework\u2013KMGBF<\/em>) untuk melindungi setidaknya 30% planet ini pada tahun 2030. Apa yang terjadi selanjutnya akan menentukan tidak hanya seberapa besar planet ini yang dilindungi, tetapi bagaimana perlindungan itu didefinisikan, dan siapa yang diuntungkan darinya.<\/p>\n\n<p>Memastikan bahwa komunitas memiliki pengakuan, hak, dan akses langsung ke sumber daya yang mereka butuhkan adalah kunci untuk mengubah janji global menjadi perlindungan yang berkelanjutan di darat dan di air.<\/p>\n\n<p>Penulis: Jaqueline Sordi, Kepala Komunikasi dan Keterlibatan, Hutan Tropis<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jauh sebelum perlindungan lingkungan menjadi upaya global, Masyarakat Adat serta komunitas lokal dan pesisir telah merawat Bumi. Baik di tepi laut maupun di dalam hutan, cara hidup mereka selalu dibentuk&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":66073,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"","p4_og_description":"","p4_og_image":"","p4_og_image_id":"","p4_seo_canonical_url":"","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[61],"tags":[19],"p4-page-type":[16],"class_list":["post-66072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dan-cerita","tag-hutan","p4-page-type-cerita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jauh sebelum perlindungan lingkungan menjadi upaya global, Masyarakat Adat serta komunitas lokal dan pesisir telah merawat Bumi. Baik di tepi laut maupun di dalam hutan, cara hidup mereka selalu dibentuk&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-22T04:23:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-22T04:29:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"675\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Afif\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Afif\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\"},\"author\":{\"name\":\"Afif\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\"},\"headline\":\"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya\",\"datePublished\":\"2026-04-22T04:23:36+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-22T04:29:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\"},\"wordCount\":1456,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Kabar dan Cerita\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\",\"name\":\"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-04-22T04:23:36+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-22T04:29:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280\",\"name\":\"Afif\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c\",\"caption\":\"Afif\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia","og_description":"Jauh sebelum perlindungan lingkungan menjadi upaya global, Masyarakat Adat serta komunitas lokal dan pesisir telah merawat Bumi. Baik di tepi laut maupun di dalam hutan, cara hidup mereka selalu dibentuk&hellip;","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2026-04-22T04:23:36+00:00","article_modified_time":"2026-04-22T04:29:38+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":675,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/46c10a56-gp0su6lqg.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Afif","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Afif","Est. reading time":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/"},"author":{"name":"Afif","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280"},"headline":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya","datePublished":"2026-04-22T04:23:36+00:00","dateModified":"2026-04-22T04:29:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/"},"wordCount":1456,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Kabar dan Cerita"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/","name":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2026-04-22T04:23:36+00:00","dateModified":"2026-04-22T04:29:38+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/cerita\/66072\/dari-hutan-hingga-lautan-para-penjaga-bumi-yang-menunjukkan-arti-perlindungan-yang-sesungguhnya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Hutan hingga Lautan: Para Penjaga Bumi yang menunjukkan arti perlindungan yang sesungguhnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/3e2ebddeabf4d00a38dc3b78e763f280","name":"Afif","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLsIvppx-YXQ--3d0zDXkI7iN7hDZr5MuE3Nky8RZxlicYBEMLK=s96-c","caption":"Afif"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/asaputra\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66072"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":66084,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66072\/revisions\/66084"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66072"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=66072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}