{"id":67987,"date":"2026-10-08T12:02:42","date_gmt":"2026-10-08T05:02:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?p=67987"},"modified":"2026-10-08T15:18:33","modified_gmt":"2026-10-08T08:18:33","slug":"tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/","title":{"rendered":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" title=\"National Strategic Project Protest in Jakarta\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k-1024x683.jpg\" alt=\"Greenpeace Indonesia holds a theatrical action to protest the National Strategic Project (PSN) of Sugarcane Merauke in front of the Coordinating Ministry for Economic Affairs office in Jakarta. Greenpeace condemns the massive deforestation that has occurred in Merauke, caused by this sugarcane project; at least 560,000 hectares of forest have been destroyed in Merauke, South Papua.\" class=\"wp-image-66475\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k-510x340.jpg 510w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/06\/f0b29828-gp0su7u2k.jpg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption aria-hidden=\"true\" class=\"wp-element-caption\">Aktivis Greenpeace Indonesia dan anak muda Papua menggelar aksi damai memprotes PSN Merauke di  depan kantor Kementerian Koordinator Perekonomian pada Desember 2025. <div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Jurnasyanto Sukarno \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jakarta, 8 Oktober 2026.<\/strong> Pernyataan dua orang utusan khusus Presiden, yakni Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu dalam Indonesia International Sustainability Forum 2026 yang menarik perhatian publik, baik domestik maupun mancanegara, perlu disikapi secara kritis. Didapuk sebagai pembicara kunci (<em>keynote speaker<\/em>s), secara bergantian Hashim menyebutkan bahwa Indonesia tidak memerlukan lagi ekspansi lahan untuk pertanian padi di kawasan hutan lantaran sudah mencapai status swasembada beras tiga tahun lebih cepat. Mari Elka kemudian meneruskan jika pengembangan lahan pangan dan biofuel akan difokuskan pada lahan yang sudah terdegradasi. Namun penjelasan pejabat Kementerian Kehutanan kepada <a href=\"https:\/\/www.straitstimes.com\/asia\/se-asia\/next-steps-unclear-after-indonesias-pledge-to-stop-clearing-forests-for-rice-fields\">media<\/a> setelah itu mengindikasikan bahwa belum ada kepastian di balik pernyataan Hashim.\u00a0<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra<\/strong>, mengatakan, \u201cSekilas hal ini terdengar seperti kabar baik bagi Masyarakat Adat di Papua Selatan yang dalam beberapa tahun belakangan sangat tegas menolak proyek pangan dan energi skala besar di tanah adat mereka. Namun, klaim Hashim dan Mari Elka Pangestu tersebut perlu diperiksa dengan cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.\u201d<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, klaim-klaim dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tentang swasembada beras tidak sepenuhnya mencerminkan realitas yang ada. Indonesia sebenarnya sudah tidak mengimpor beras dari tahun <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/swasembada-dan-situasi-pangan-2026\">2017, 2018, 2019, 2020, dan 2022<\/a>. Di luar tahun tersebut, Indonesia mengimpor beras karena sejumlah situasi. <a href=\"https:\/\/www.bloombergtechnoz.com\/detail-news\/26717\/impor-beras-2023-tertinggi-dalam-5-tahun-meroket-613-61\">Misalnya tahun 2023, impor beras Indonesia mencapai sekitar 3,06 juta ton<\/a> karena situasi <a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-7228496\/ri-terpaksa-impor-beras-gegara-el-nino-bikin-luas-lahan-turun-produksi-anjlok?page=2\">El Ni\u00f1o<\/a>.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Faktanya, proyek strategis nasional (PSN) cetak sawah dan kebun tebu untuk bioetanol yang dijalankan pemerintah di Papua bagian selatan sudah mengorbankan hutan adat, tanah, dan ekosistem rawa yang menjadi ruang hidup masyarakat adat. Ekosistem rawa, seperti halnya gambut, juga menyimpan kehidupan bagi tetumbuhan dan satwa, bukan tanah kosong seperti yang diklaim Menteri Amran telah berhasil ia sulap menjadi lahan produktif.&nbsp;<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada akhir Januari 2026, sebagaimana diakui tim survei Jhonlin Group, pembukaan lahan untuk kawasan pangan telah seluas 9.871 hektare. Sedangkan dari analisis citra satelit yang dilakukan Greenpeace, pembukaan lahan dimulai dari dekat Kampung Wanam pada Agustus 2024. Deforestasi yang terjadi di area persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) Wanam-Muting milik Kementerian Pertahanan, tepatnya di area jalan sepanjang 135 km, telah seluas hampir 7.600 hektare per Februari 2026. Pembangunan jalan 135 km yang menopang PSN ini <a href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/65827\/stop-psn-penghancur-hutan-masyarakat-adat-malind-gugat-izin-proyek-pembangunan-jalan-135-km-di-merauke\/\">digugat<\/a> lima Masyarakat Adat Malind ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah mengabaikan berbagai protes masyarakat, bahkan melibatkan militer yang justru mendatangkan teror dan intimidasi bagi orang Papua. Berbagai akrobat regulasi juga dilakukan demi memuluskan PSN. Salah satu peraturan merupakan warisan pemerintahan Joko Widodo, yakni tentang kawasan hutan untuk ketahanan pangan (KHKP). Regulasi ini memungkinkan kawasan hutan ditetapkan sebagai area untuk dalih ketahanan pangan, tapi sebenarnya hanya memuluskan deforestasi.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Papua Selatan bahkan kini menjadi episentrum titik sumber asap kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan Greenpeace menemukan <strong>1.413 titik sumber asap di Papua Selatan hingga 1 Oktober 2026<\/strong>, termasuk titik-titik yang terdeteksi di kawasan penting secara ekologis di Merauke. Pemantauan sebelumnya juga menemukan sumber asap di sekitar wilayah yang terkait dengan Proyek Strategis Nasional, termasuk koridor pembangunan Wanam\u2013Muting.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi pernyataan Hashim seperti permainan kata-kata saja. Jika pemerintah benar-benar mengakui bahwa ketahanan pangan tidak membutuhkan pembukaan hutan baru, maka prinsip itu harus diterapkan secara nyata dan menyeluruh di Papua, karena PSN sebagai program pemerintah di Merauke telah jelas memicu deforestasi, kerusakan lingkungan, dan perampasan hak-hak Masyarakat Adat,\u201d kata<strong> Refki Saputra.<\/strong><\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1200\" height=\"800\" title=\"Refki Saputra in PT\" src=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi.jpg\" alt=\"Greenpeace Indonesia\u2019s Forest Campaigner Refki Saputra, shows a GPS coordinate of forest clearance and sugarcane plantation development in PT. Global Papua Abadi (GPA) in Senayu village, Sermayam district, Merauke regency, South Papua province on September 18, 2025.\" class=\"wp-image-67988\" srcset=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi.jpg 1200w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi-768x512.jpg 768w, https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/10\/438426b5-gp0su6zxi-510x340.jpg 510w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption aria-hidden=\"true\" class=\"wp-element-caption\">Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Refki Saputra di lahan yang dibuka oleh PT Global Papua Abadi di Merauke untuk perkebunan tebu, 18 September 2025. <div class=\"credit icon-left\"> \u00a9 Ulet  Ifansasti \/ Greenpeace<\/div><\/figcaption><\/figure>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lewat program Kawasan Swasembada Pangan Energi dan Air Nasional (KSPEAN) di Papua Selatan, pemerintah sudah mengalokasikan lahan seluas kurang lebih 2,7 juta hektare. Selain untuk cetak sawah, ada pula komoditas tebu untuk bioetanol, perkebunan sawit untuk biodiesel, dan peternakan. Pemerintah juga sudah melepas kawasan hutan hampir setengah juta hektare di Merauke, yang <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2026\/01\/12\/190400326\/cetak-sawah-di-papua-atr-bpn-terbitkan-328.000-hektar-hgu\">328 ribu hektare di antaranya sudah terbit HGU untuk PT Agrinas Pangan Nusantara<\/a>.&nbsp;<\/p>\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Transparansi tentang Lahan Terdegradasi<\/strong><\/h2>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penggunaan lebih dari 12 juta hektare lahan terdegradasi untuk program pangan dan energi ke depan bukan tanpa persoalan. Hingga saat ini pemerintah belum pernah membuka di mana saja lokasi 12 juta hektare lahan terdegradasi tersebut. Kenyataannya, lahan-lahan terdegradasi di Indonesia adalah lanskap gambut yang telah rusak karena pengeringan untuk aktivitas industri perkebunan dan kehutanan, yang lantas mengalami kebakaran berulang.&nbsp;<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain tak semua lahan terdegradasi cocok dimanfaatkan untuk pertanian, pemerintah seharusnya melakukan pemulihan lingkungan dan sosial di lahan-lahan yang sudah mengalami degradasi, bukannya membebankan izin ekstraktif di atasnya. Lahan-lahan terdegradasi tersebut bisa jadi juga merupakan ruang hidup dan tempat masyarakat setempat beraktivitas. Banyak contoh bagaimana masyarakat tergusur dan berkonflik dengan perusahaan yang datang dan mengeksploitasi.&nbsp;<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, Kiki Taufik<\/strong>, mengatakan, \u201cDi tengah sesumbar pemerintah mendorong program pencampuran <a href=\"https:\/\/en.antaranews.com\/news\/434380\/indonesia-to-expand-sugarcane-plantations-for-e20-program\">bioetanol (E20<\/a>) dan biodiesel B60, pernyataan Hashim dan Mari Elka terasa seperti pepesan kosong <em>\u2018sustainability\u2019.<\/em> Jika memang serius, pemerintah harus menghentikan program KSPEAN yang saat ini berjalan dengan menghancurkan hutan, dibekingi karpet merah regulasi dan militer, dan ditengarai sarat konflik kepentingan.\u201d<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah regulasi yang menjadi karpet merah untuk PSN di antaranya persetujuan lingkungan pembangunan jalan 135 km dari Wanam-Muting; Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 591\/2025, dan hak guna usaha untuk PT Agrinas Pangan Nusantara.&nbsp;<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPapua bukan tanah kosong atau cadangan lahan baru untuk ekspansi industri; hutannya adalah wilayah hidup Masyarakat Adat, sumber pangan dan air, benteng keanekaragaman hayati, serta pondasi masa depan Papua. Pemerintah harus menghentikan PSN di Papua Selatan dan berbagai proyek ekstraktif di Tanah Papua. Pemerintah juga perlu mengevaluasi dan menghentikan proyek-proyek yang mengancam hutan alam, ekosistem kritis, dan wilayah adat. Tak ada pilihan lain jika ingin menyelamatkan masyarakat dan keanekaragaman hayati yang kita miliki dari dampak krisis iklim. Tidak ada jalan menuju kedaulatan pangan dan pembangunan berkelanjutan dengan mengorbankan hutan, hak Masyarakat Adat, dan masa depan Papua,\u201d kata <strong>Kiki Taufik. <\/strong>[SELESAI]<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kontak Media:<\/strong><\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Refki Saputra, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, +62 852-6351-5392<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budiarti Putri, Juru Kampanye Komunikasi Greenpeace Indonesia, +62 811-1463-105<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Klaim Hashim dan Mari Elka Pangestu perlu diperiksa dengan cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.<\/p>\n","protected":false},"author":93,"featured_media":66051,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ep_exclude_from_search":false,"p4_og_title":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF","p4_og_description":"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.","p4_og_image":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/03\/5bd63233-gp0su6zxx_medium-res-with-credit-line-1200px.jpg","p4_og_image_id":"65865","p4_seo_canonical_url":"","p4_seo_meta_title":"","p4_seo_meta_description":"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.","p4_campaign_name":"","p4_local_project":"","p4_basket_name":"","p4_department":"","footnotes":""},"categories":[51,62],"tags":[19],"p4-page-type":[14],"class_list":["post-67987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hutan","category-siaran-pers","tag-hutan","p4-page-type-siaran-pers"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Greenpeace Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-08T05:02:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-08T08:18:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/2ce79027-gp0su6zxx.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Budiarti Putri\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@GreenpeaceID\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Budiarti Putri\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\"},\"author\":{\"name\":\"Budiarti Putri\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff\"},\"headline\":\"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF\",\"datePublished\":\"2026-10-08T05:02:42+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-08T08:18:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\"},\"wordCount\":963,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"keywords\":[\"Hutan\"],\"articleSection\":[\"Hutan\",\"Siaran Pers\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\",\"name\":\"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-10-08T05:02:42+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-08T08:18:33+00:00\",\"description\":\"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"description\":\"Greenpeace\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization\",\"name\":\"Greenpeace Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Greenpeace Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia\",\"https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff\",\"name\":\"Budiarti Putri\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLX1xlA_7MPJU4oIrB3yXTLulbNvkXGB2W_5jZOz_l8PRUWDkRZ\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLX1xlA_7MPJU4oIrB3yXTLulbNvkXGB2W_5jZOz_l8PRUWDkRZ\",\"caption\":\"Budiarti Putri\"},\"url\":\"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/budiarti-putri\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia","description":"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia","og_description":"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.","og_url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/","og_site_name":"Greenpeace Indonesia","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","article_published_time":"2026-10-08T05:02:42+00:00","article_modified_time":"2026-10-08T08:18:33+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2026\/04\/2ce79027-gp0su6zxx.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Budiarti Putri","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@GreenpeaceID","twitter_site":"@GreenpeaceID","twitter_misc":{"Written by":"Budiarti Putri","Est. reading time":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/"},"author":{"name":"Budiarti Putri","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff"},"headline":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF","datePublished":"2026-10-08T05:02:42+00:00","dateModified":"2026-10-08T08:18:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/"},"wordCount":963,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"keywords":["Hutan"],"articleSection":["Hutan","Siaran Pers"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/","name":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF - Greenpeace Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website"},"datePublished":"2026-10-08T05:02:42+00:00","dateModified":"2026-10-08T08:18:33+00:00","description":"Klaim Hashim Djojohadikusumo perlu diperiksa cermat karena memuat sejumlah distorsi informasi dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/siaran-pers\/67987\/tanggapan-greenpeace-atas-pernyataan-hashim-djojohadikusumo-dan-mari-elka-pangestu-di-isf\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tanggapan Greenpeace atas Pernyataan Hashim Djojohadikusumo dan Mari Elka Pangestu di ISF"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#website","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","name":"Greenpeace Indonesia","description":"Greenpeace","publisher":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#organization","name":"Greenpeace Indonesia","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","contentUrl":"https:\/\/www.greenpeace.org\/static\/planet4-indonesia-stateless\/2023\/11\/23919a5e-gp_avatar_whiteongreen.png","width":500,"height":500,"caption":"Greenpeace Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/GreenpeaceIndonesia","https:\/\/twitter.com\/GreenpeaceID","https:\/\/www.instagram.com\/greenpeaceid\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/e4e764db80f6a4f83a58464b1e3badff","name":"Budiarti Putri","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLX1xlA_7MPJU4oIrB3yXTLulbNvkXGB2W_5jZOz_l8PRUWDkRZ","contentUrl":"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/a\/ACg8ocLX1xlA_7MPJU4oIrB3yXTLulbNvkXGB2W_5jZOz_l8PRUWDkRZ","caption":"Budiarti Putri"},"url":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/author\/budiarti-putri\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/93"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67987"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67987\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67992,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67987\/revisions\/67992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66051"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67987"},{"taxonomy":"p4-page-type","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.greenpeace.org\/indonesia\/wp-json\/wp\/v2\/p4-page-type?post=67987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}