Makassar, 2 September 2019. Terumbu karang di perairan Indonesia, seperti di Kepulauan Spermonde, perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Pasalnya, perusakan terhadap terumbu karang terus terjadi. Salah satunya melalui penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, misalnya penggunaan bom ikan dan racun sianida atau bius, yang masih marak dilakukan. Inilah pesan utama dari diskusi publik yang diadakan oleh Pembela Lautan (Ocean Defender) Greenpeace Indonesia [1] bekerja sama dengan MSDC (Marine Science Diving Club) Universitas Hasanuddin dengan tajuk ‘Peran Terumbu Karang dan Ancaman yang Dihadapi Bagi Keberlanjutan Ekosistem Laut,’ di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.

Tim Pembela Lautan sebelumnya sudah melakukan kegiatan dokumentasi bawah laut di Kepulauan Spermonde, tepatnya di Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, dan Kodingareng Keke. Hasil pengamatan, kerusakan yang disebabkan oleh bom dan bius cukup kentara. “Kami menyelam di tiga titik dalam satu hari, dan selama penyelaman, kami mendengar tiga kali suara bom ikan. Bila tidak ada pengawasan dan penegakan hukum yang kuat, saya sangat khawatir tidak lama lagi karang di Kepulauan Spermonde ini akan habis dan hancur,” ujar Ria Qorina Lubis, Fotografer Bawah Laut Pembela Lautan Greenpeace Indonesia.

Kegiatan dokumentasi dampak penggunaan bom untuk menangkap ikan di Pulau Barrang Caddi, Kepulauan Spermonde

Catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah lokasi terumbu karang yang tergolong baik menurun. Data tahun 2018, kegiatan pemantauan terhadap 1.067 lokasi terumbu karang memperlihatkan hanya 70 lokasi dalam kategori sangat baik dan 245 lokasi kategori baik. Sementara yang tergolong kategori jelek sebanyak 386 lokasi, atau sekitar 36% dari total lokasi [2]. Terkait terumbu karang di kawasan Spermonde, LIPI sudah lama mengamati praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan sehingga berdampak buruk terhadap kondisi terumbu karang. Banyak hal yang menjadi alasan melakukan praktik ilegal tersebut, mulai dari tuntutan ekonomi, rendahnya kesadaran hingga lemahnya penegakan hukum. Alhasil, kesehatan terumbu karang di perairan Makassar dinilai rendah, masuk dalam rentang poin 1-3, bersama dengan Nias, Lampung, Bintan dan Biak [3].

“Kesehatan terumbu karang di kawasan Spermonde maupun di berbagai daerah lain di Indonesia, harus menjadi perhatian serius pemerintah, karena perannya sangat strategis bagi kehidupan pesisir,” tambah Syahputrie Ramadhanie, Koordinator Ekspedisi Pembela Lautan. Peran terumbu karang pun sangat penting bagi manusia seperti sumber obat-obatan dan sumber penghasilan bagi para nelayan. “Kita harus bangun aksi bersama untuk menyelamatkan terumbu karang dari praktik penangkapan ikan dengan peledak dan bius ikan,” imbuh Syahputrie lagi.

“Kita tidak sadar bahwa terumbu karang merupakan salah satu sumber kehidupan bagi kita. Oleh karena itu, kita perlu untuk menjaganya dengan membiasakan diri memulai kebiasaan hidup ramah lingkungan,” ucap Muhammad Irfandi Arief, Ketua MSDC Universitas Hasanuddin.

Sebagai bagian dari ekspedisi, tim Pembela Lautan juga melakukan kegiatan bersih-bersih dan audit merek di Pantai Biru, Tanjung Bunga, pada Minggu (1/9), bersama dengan sejumlah komunitas lokal. Berbagai merek barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods) ditemukan melalui proses audit. Nantinya, hasil audit merek ini akan disatukan dengan kegiatan serupa di daerah lainnya selama bulan September ini – bulan berlangsungnya kegiatan world cleanup day [4].

Kegiatan bersih-bersih dan audit merek di Pantai Biru, Tanjung Bunga, Makassar oleh tim Pembela Lautan Greenpeace Indonesia bersama dengan berbagai komunitas

Catatan:

[1] Tim Pembela Lautan (Ocean Defender) Greenpeace Indonesia merupakan wadah bagi relawan, aktivis, dan supporter Greenpeace untuk mendukung kampanye laut yang sehat dan terlindungi, berusaha memberikan usaha terbaik untuk melindungi lautan Indonesia, bersama komunitas lain dan masyarakat luas dengan menjalankan kampanye publik Lindungi Laut (Protect The Oceans).

[2] http://oseanografi.lipi.go.id/hasilpenelitian/lihatpdf/41

[3] Dalam laporannya tahun 2018, LIPI mengukur tingkat kesehatan terhadap 18 lokasi dengan rentang nilai 1-10. Indeks kesehatan ini menggambarkan kondisi terumbu karang yang meliputi tutupan karang, potensi pemulihan dan biomassa ikan.

[4] Kegiatan audit merek adalah kegiatan tahunan yang dilakukan Greenpeace bersama dengan berbagai komunitas yang tergabung dalam gerakan global #breakfreefromplastic.

Kontak media:

  • Ria Qorina Lubis, Fotografer Bawah Laut Pembela Lautan Greenpeace Indonesia, riaqorina@gmail.com, telp 0811-9000-187

  • Syahputrie Ramadhanie, Koordinator Ekspedisi Pembela Lautan, syahputriermdhn@gmail.com, telp 0818-0858-6307

  • Muhammad Irfandi Arief, Ketua Marine Science Diving Club Universitas Hasanuddin, ariefirfandik@gmail.com, telp 0877-6521-6434

  • Ester Meryana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, emeryana@greenpeace.org, telp 0811-1924-090