
Solar charging station atau tempat pengisian daya berbasis energi surya aka matahari jadi inisiatif kecil yang kini rutin dilakukan Greenpeace Indonesia. Di tahun 2025, Greenpeace menghadirkan solar charging station berkolaborasi dengan sejumlah festival, seperti Forestra, Synchronize Fest, Rock in Celebes, hingga URUP. Tujuannya agar generasi muda semakin familiar dengan sumber energi alternatif, yang terbarukan dan tidak berbasis bahan bakar fosil.
Namun, tahukah kamu bagaimana caranya sinar matahari bisa dimanfaatkan menjadi energi bersih yang menghasilkan listrik? Simak penjelasan singkatnya di bawah ini.
Q: Apa itu solar charging station?
A: Singkatnya, ini merupakan tempat pengisian daya berbasis energi surya. Kamu akan melihat panel-panel surya di sekitar lokasi kamu mengisi daya hp saat ini. Panel surya menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik arus searah (DC). Energi ini kemudian diatur oleh charge controller dan dapat disimpan di dalam baterai.
Untuk mengisi daya HP, listrik DC dari baterai dapat langsung disalurkan melalui sistem pengatur tegangan (seperti USB controller). Pengkabelan perlu dipasang sebagai penghubung antara panel surya ke inverter. Inverter hanya digunakan jika stasiun pengisian menyediakan listrik arus bolak-balik (AC), misalnya melalui stop kontak.
Q: Panel surya itu benda apa sih?
A: Panel surya adalah alat yang terdiri dari sel-sel fotovoltaik (PV), teknologi yang dapat mengubah sinar matahari jadi listrik melalui bahan semikonduktor, seperti silikon misalnya. Penggunaan panel surda bisa digunakan di mana saja. Skala kecil seperti yang kamu lihat saat ini di festival atau bisa dipasang di atap rumah untuk sektor rumah tangga. Solar panel bahkan bisa digunakan skala besar, seperti yang bisa kamu lihat di PLTS Cirata.
Q: Apa bedanya dengan listrik yang biasanya kita pakai?
Sumber listrik kita saat ini masih tersentralisasi dan dimonopoli oleh Perusahaan Listrik Negara. Dan sampai sekarang, sumber energi dominannya masih bergantung pada energi fosil batubara. Padahal, energi fosil sepanjang siklus hidupnya dari proses penambangan hingga limbah dan hasil pembakarannya bisa merugikan iklim serta lingkungan.
Q: Untuk panel surya dan baterai itu kan membutuhkan penambangan mineral kritis. Apakah energi bersih lebih sedikit penambangan?
A: Jawaban singkatnya adalah iya — masa depan energi bersih dapat mengurangi skala dan volume penambangan secara keseluruhan.
Berbagai studi, termasuk laporan Energy Technology Perspectives 2023 dari International Energy Agency (IEA), menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi berbasis energi terbarukan akan melibatkan lebih sedikit penambangan dan pemrosesan dibandingkan sistem yang berbasis bahan bakar fosil.
Bahan bakar fosil ditambang, diangkut ke seluruh dunia, dan dibakar satu kali untuk menghasilkan energi yang kemudian bisa mencemari udara. Sebaliknya, mineral kritis dapat digunakan kembali dan kemudian didaur ulang berkali-kali.
Sebagai perbandingan, saat ini sekitar 15 miliar ton bahan bakar fosil ditambang dan diekstraksi setiap tahun. Sebaliknya, penambangan global mineral kritis untuk energi rendah karbon pada tahun 2020 mencapai sekitar tujuh juta ton. Meskipun jumlah ini dapat meningkat hingga 28 juta ton per tahun menurut International Energy Agency , angka tersebut tetap setara dengan sekitar 535 kali lebih sedikit penambangan dibandingkan sistem berbasis bahan bakar fosil saat ini.
Dengan beralih dari energi berbasis bahan bakar fosil ke sistem energi listrik yang sepenuhnya terbarukan, kita memiliki potensi untuk mengurangi secara drastis kebutuhan akan aktivitas penambangan besar-besaran, sehingga berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Q: Adakah cara untuk meminimalisir dampaknya?
Untuk meminimalkan dampak tersebut, sangat penting untuk: mengurangi jumlah total material yang diekstraksi, memprioritaskan penggunaannya untuk solusi iklim, memaksimalkan pemanfaatan material daur ulang, serta memastikan perlindungan lingkungan dan hak asasi manusia dalam seluruh prosesnya.