Namanya Sinta Gebze, perempuan adat dari Suku Malind, yang menjadi salah seorang penggugat izin kelayakan lingkungan atas pembangunan jalan 135 KM untuk kepentingan PSN tebu di Merauke. Mama Sinta menolak proyek strategis nasional yang mengancam hutan adat Papua dan menyingkirkan ruang hidup masyarakat adat. Sebelumnya dari tanah Papua, saya mengenal Mama Yosepha, yang dengan keberaniannya melawan korporasi tambang raksasa, PT. Freeport.

Di banyak tempat, dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia, saya menemukan begitu banyak perempuan yang berada di garis depan, memperjuangkan alam dan sumber-sumber kehidupannya yang terus menerus dikoyak mesin-mesin kapitalisme yang diberi karpet merah oleh pengurus negara melalui perizinan, entah itu untuk tambang, perkebunan monokultur skala besar seperti perkebunan sawit dan kebun kayu, termasuk perkebunan tebu yang kini dibalut dengan kemasan bernama proyek strategis nasional. Saking dianggap strategisnya oleh negara, alat-alat keamanan negara digunakan secara masif untuk mendukung proyek ini. Militer dan polisi diturunkan, baik secara institusi maupun perorangan.
Perjuangan perempuan tidak hanya di perdesaan. Di perkotaan, perempuan yang bergelut dengan sesaknya polusi menggugat buruknya cara negara mengatasi polusi udara yang menyebabkan banyak terjadinya kematian senyap. Belum lagi, Perempuan nelayan dan perempuan miskin kota juga berjibaku menghadapi privatisasi pesisir dan pulau-pulau kecil, serta krisis iklim yang mengepung ruang hidup mereka.
Cerita perjuangan perempuan menyelamatkan lingkungan hidup dan ruang hidupnya, bukanlah sebuah kejadian yang berdiri sendiri. Dia lahir dari sebuah pergelutan panjang dalam menghadapi kokohnya kapitalisme yang berwatak patriarkis dan militeristik. Sebuah kesadaran yang lahir dari sebuah pengalaman hidup, dimana ada kekuasaan yang secara sistematis mencoba memutus relasi perempuan dengan alamnya. Dia digerakkan oleh landasan filosofis, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Ya, apa yang diperjuangkan oleh perempuan adalah apa yang diyakini oleh gerakan ekofeminisme, yang menilai bahwa perempuan dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dan bagaimana patriarki dan kapitalisme menjalankan opresi terhadap alam dan perempuan secara bersamaan.
Ekologi politik feminis mengkritik sistem ekonomi ekstraktif yang melahirkan lapis-lapis kekerasan yang dialami oleh perempuan, akibat kebijakan yang mengabaikan pengalaman dan pengetahuan perempuan atas kekayaan alamnya. Pengetahuan perempuan tentang tubuhnya, tentang relasi tubuh dan alamnya, serta pengetahuan individu dan kolektif perempuan dalam pengurusan kekayaan alam dan sumber-sumber kehidupan, tidak dianggap ada. Sehingga perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan seluruh cerita kebijakan pembangunan.

Tantangan yang dihadapi gerakan lingkungan dan gerakan feminis semakin berat. Kapitalisme bisa dengan cepat berganti baju dan rupa, mendompleng isu demokrasi, membajak agenda keberlanjutan dan bahkan menggunakan isu gender dengan berkamuflase seolah-olah berubah wujud, namun ternyata tetap dengan kepentingan yang sama. Tak lain dan tak bukan, terus menangguk untung dan mengakumulasi modal untuk melanggengkan kekuasaannya. Ambil contoh, bagaimana isu iklim dibajak, dan dengan dalih transisi energi, mereka mengkampanyekan industri nikel untuk memproduksi mobil listrik yang diklaim lebih ramah lingkungan. Padahal berbagai riset dan publikasi menunjukkan, industri nikel bukan hanya menyebabkan deforestasi dan pencemaran, tetapi juga menghancurkan ruang hidup perempuan.
Dalam konteks global, tantangan yang dihadapi perempuan juga begitu berat. Jika diingat, simbol hari perempuan internasional adalah roti dan perdamaian. Dengan eskalasi politik dunia yang memanas hari ini, atas serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, dan sebelumnya menginvasi Palestina dan negara-negara lain, sangat mungkin jika sejarah kelam perang akan terulang. Simbol roti dan perdamaian, mungkin akan kembali menggema.
Sebagai perempuan, saya meyakini. Seberat apapun situasi yang dihadapi perempuan, kita selalu berhasil melewatinya. Perempuan tidak diam, dia terus bergerak memperjuangkan keadilan. Ibarat api, suara perempuan adalah nyala yang tak pernah padam. Sejarah telah mencatat, perempuan telah berhasil melalui berabad-abad masa penindasan, dan kita memenangkannya dengan cara-cara yang damai, tanpa kekerasan.
Akhirnya, Selamat Hari Perempuan Internasional! #TimetoResist, Panjang Umur Perjuangan!
Khalisah Khalid; Public Engagement & Action Manager Greenpeace Indonesia


