Kisah Haifa

Aku adalah seorang peneliti yang aktif melakukan riset. Suatu waktu, aku menemukan data dari Auriga Nusantara mengenai laporan Deforestation status in Indonesia 2025 yang menunjukkan deforestasi di hutan tropis Indonesia melonjak menjadi 433.751 hektare naik 66% dan memperparah kegagalan dunia menahan suhu Bumi. Padahal, secara global hutan tropis berfungsi sebagai penyerap karbon raksasa.
Dampaknya bisa kita amati dari meningkatnya bencana seperti kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, serta banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir 2025, berdasarkan data laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang telah menyebabkan 1.208 jiwa meninggal dunia, 137 hilang, lebih dari 300 ribu rumah rusak, dan 2.949 keluarga harus mengungsi.
Meski demikian, aku melihat berita di media sosial bahwa pemerintah akan membangun jalan sepanjang 135 km (atau setara dengan jauhnya perjalanan Jakarta-Bandung bolak balik melalui tol) di Merauke untuk mempermulus Proyek Strategis Nasional (PSN). Melansir dari siaran pers Greenpeace, dari catatan Pusaka Bentala Rakyat, lahan yang dibuka sudah mencapai 56 kilometer. Tentunya, permasalahan ini semakin memicu keresahanku akan dampak buruk dari deforestasi masif terhadap lingkungan.
Berita lain menginformasikan bahwa ternyata Masyarakat Adat di Papua tidak diam saja. Dalam menanggapi hal ini, mereka berani untuk melakukan aksi protes dan bahkan mengajukan gugatan hukum ke berbagai instansi seperti PTUN hingga Kementerian.
Dari isu-isu yang aku ikuti, aku merasa semesta menjawab harapanku untuk turut membantu mereka yang sedang berjuang. Dengan bergabung menjadi relawan Greenpeace, aku berkesempatan untuk memberikan kontribusi nyata di Pesta Media pada 11 April 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Kesempatan Membantu Masyarakat Adat Mempertahankan Hutan di Pesta Media
Di Pesta Media, aku menemukan bahwa isu mengenai rencana deforestasi lahan seluas 135 km oleh pemerintah untuk proyek Food Estate ini ternyata juga membuat banyak orang cukup merasa khawatir.

Selain mengajak para pengunjung di booth Greenpeace untuk memberikan dukungan kepada Masyarakat Adat di Papua, aku bersama relawan lainnya juga mempersilakan mereka mencicipi makanan khas dari Indonesia bagian Timur, bernama sagu lempeng, yaitu olahan sagu berbentuk kubus kecil. Bagi kita, lempeng mungkin terlihat seperti cemilan biasa. Namun, bagi Masyarakat Adat di Papua, lempeng merupakan makanan pokok yang dikonsumsi setiap hari, loh. Namun sayangnya, pohon-pohon sagu di hutan Papua yang menjadi sumber pangan tersebut terancam akan segera ditebang.
Melampaui ekspektasiku, setelah mendengar isu deforestasi dan mencicipi lempeng, para pengunjung justru tampak semakin berempati dan bersemangat untuk mendukung para pahlawan iklim, yaitu Masyarakat Adat di Indonesia bagian Timur. Mereka menuliskan surat-surat kecil berisi pesan penyemangat agar para penjaga hutan itu tetap teguh dalam memperjuangkan wilayah adat mereka sekaligus menjaga hutan dan iklim.
Menyaksikan hal itu, aku merasakan secercah cahaya harapan bahwa di tengah segala ancaman, masih banyak warga yang peduli dan berpihak pada Masyarakat Adat dan lingkungan. Selama kurang lebih 8 jam, aku membantu mengumpulkan dukungan, kepedulian, dan empati para pengunjung. Itu lah menjadi energi kami, para relawan. Kami bersemangat untuk terus menumbuhkan kesadaran dan merangkul lebih banyak dukungan bagi perjuangan ini.
Menemukan Tujuan dan Makna Hidup
Bagiku, menjadi relawan di Greenpeace memberikan makna hidup yang sangat berarti. Karena berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitarku menunjukkan bahwa seberapa banyaknya uang dan teman yang kita punya serta impian pribadi yang sering kali tercapai, nyatanya belum cukup memberikan rasa puas dan bahagia bagi jiwa terdalam kita, sehingga membuat hidup kita terasa “kosong.”

Mengapa? Karena aku percaya bahwa kita terlahir ke dunia tidak hanya sekedar bertahan hidup maupun bersenang-senang, tetapi kita juga mempunyai tugas penting dari sang pencipta untuk diemban. Aku meyakini, bahwa dengan menjaga Bumi dan membantu sesama dengan cara menjadi relawan Greenpeace, merupakan salah satu tugas kita sebagai manusia. Sehingga, kita bisa mencapai kebahagiaan mutlak di penghujung usia saat tua nanti, di mana kita telah mencapai hidup yang lebih bermakna dan pada akhirnya kita bisa berpulang dengan senyuman yang terukir di wajah dan hati.
Di dunia yang dipenuhi konflik yang kerap mengancam kelestarian Bumi, aku berharap seluruh pejuang di Greenpeace, termasuk para relawan sepertiku untuk tetap kuat dan teguh dalam berjuang, demi generasi mendatang agar mereka dapat tinggal di Bumi ini dengan tenang dan nyaman, tanpa harus menghadapi kemurkaan alam akibat ulah orang-orang yang merusaknya.
Kenapa Pilih Menjadi Relawan di Greenpeace?
Di Greenpeace, stereotype yang menganggap bahwa lingkungan pergaulan relawan itu selalu serius dan tidak seru benar-benar terpatahkan.
Selain melakukan perjuangan bersama dan berkontribusi nyata dalam menolong Bumi dan makhluk hidup di dalamnya, di Greenpeace juga banyak teman-teman yang pintar, berwawasan luas, dan menyenangkan! Sehingga, berintekasi bersama mereka secara tidak langsung membuat aku menjadi lebih bahagia, memiliki pikiran yang terbuka, dan cerdas.
Yuk, ikut gabung bareng aku menjadi relawan Greenpeace!


