Jakarta, 19 Februari 2026 – Ramadan adalah bulan refleksi dan pengendalian diri. Di tengah peningkatan ibadah dan silaturahmi, hubungan dengan alam kerap terlupakan. Padahal udara, air dan pangan yang menopang kehidupan adalah amanah yang harus dijaga. Dalam ajaran Islam, manusia adalah khalifah di Bumi yang bertanggung jawab mencegah kerusakan dan merawat ciptaan Allah SWT.
Kemajuan ekonomi membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi manusia, namun juga membawa kerusakan untuk lingkungan. Hal ini menunjukkan adanya jurang antara hubungan manusia dan alam. Padahal di beberapa ayat Al-Qur’an, Allah memerintahkan muslim untuk turut menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan sebagai bentuk perwujudan amanah manusia sebagai khalifah di Bumi.
Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hablum minal ‘alam—hubungan dengan alam—melalui langkah sederhana yang berdampak nyata. “Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani Bumi,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah lonjakan sampah makanan. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan volume sampah meningkat rata-rata 10–20 persen selama Ramadan, dengan sekitar 40 persen berupa sisa makanan. Ironisnya, di bulan pengendalian diri, justru lebih banyak makanan terbuang ke tempat pembuangan akhir.
Untuk menekan sampah makanan atau food waste, masyarakat dapat meneladani cara Nabi Muhammad SAW saat berbuka: sederhana dan tidak berlebihan. Sisa makanan bisa disimpan untuk dikonsumsi kembali, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau diolah menjadi kompos. Mengompos di rumah membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus mengembalikan nutrisi ke tanah.
Peningkatan konsumsi juga terlihat dari maraknya penggunaan plastik sekali pakai untuk takjil dan buka puasa bersama. Greenpeace mengajak masyarakat membawa wadah guna ulang seperti tumbler dan kotak makan, serta memilih kemasan alami seperti besek, tampah, atau daun pisang untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan. Untuk menjalankan puasa dengan lebih ramah lingkungan, kita juga bisa menerapkan gaya hidup minim sampah dan konsumsi bijak selama Ramadan dengan mengikuti panduan Ramadan Ramah Lingkungan.
Menjelang Idul Fitri, refleksi dapat terus disempurnakan lewat pilihan berpakaian. Menggunakan pakaian terbaik memang sunnah, namun tidak harus selalu baru. Memakai kembali pakaian yang ada, memperbaiki yang rusak, memilih produk preloved, atau membeli pakaian berkualitas dan tahan lama adalah langkah sederhana untuk mengurangi dampak industri fesyen yang boros sumber daya.
Selain aksi sehari-hari, Greenpeace juga mengajak umat Muslim memanfaatkan waktu-waktu mustajab selama Ramadan untuk mendoakan kelestarian lingkungan dan kebijakan iklim yang lebih adil. Doa dan aksi berjalan beriringan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual terutama kepada saudara-saudara kita yang masih belum pulih dari Bencana Iklim di Sumatera dan juga saudara-saudara kita di Palestina yang belum bebas merdeka dari ancaman zionis Israel.
“Ramadan adalah kesempatan membersihkan jiwa sekaligus memperbaiki jejak kita di Bumi. Aksi sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi wujud nyata amanah kita sebagai khalifah,” tutup Riska.
Kontak media:
Riska Rahman, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, +62 821-1456-2039


