#PantangPlastik

Hentikan Polusi Plastik

Ajak pemerintah kotamu untuk #PantangPlastik dan mengendalikan laju plastik sekali pakai dimulai dengan memberlakukan larangan penyediaan dan penggunaan kantong plastik sekarang juga.

Ikut Beraksi

Jaman sekarang, banyak sekali anak-anak usia muda yang melakukan hal-hal luar biasa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik, mendidik anak memang suatu hal yang tidak mudah, dan pasti setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Nah, disinilah pentingnya dukungan keluarga dimana anak dapat belajar memahami persoalan dan mencari solusinya. Contohnya adalah persoalan tentang lingkungan, setiap hari anak-anak dihadapkan dengan masalah lingkungan, seperti polusi udara, laut yang kotor, sampah dan masih banyak lagi. Maka dari itu, sejak kecil anak-anak harus didekatkan dengan sikap cinta lingkungan, agar ketika tumbuh dewasa, mereka akan menjadi seseorang bergerak aktif ikut serta dalam menjaga bumi. Berikut adalah kisah anak-anak inspiratif yang telah berkontribusi untuk mengubah dunia menjadi lebih baik!

1. Melati & Isabel Wijsen, Pendiri Gerakan Bye Bye Plastic Bags Bali

One Island One Voice Campaign in Bali. © Agung Parameswara / Greenpeace

Melati Wijsen (kiri) dan Isabel – (kanan) Co Founder Bye Bye Plastic Bags dan One Island One Voice berpose untuk potret di Pantai Kuta, Badung, Bali Indonesia. © Agung Parameswara / Greenpeace

Kita tahu kalau masalah sampah plastik di dunia sudah semakin parah, apalagi di Indonesia. Kurang dari 5% kantong plastik didaur ulang dan hal ini menyebabkan semakin banyaknya sampah plastik yang menumpuk selama bertahun-tahun. Setiap tahunnya, ratusan ton sampah plastik terdampar di pesisir pantai dan banyak dari sampah tersebut berakhir tergenang di lautan. Bali membutuhkan pertolongan, regulasi baru dari pemerintah untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai, dan disinilah awal cerita dari gerakan Bye Bye Plastic Bags Bali. Ini merupakan gerakan  menolak penggunaan plastik sekali pakai yang dibentuk oleh kakak beradik dari Bali, Melati dan Isabel Wijsen saat mereka berumur 12 dan 10 tahun. Dua gadis dari Green School Bali ini terinspirasi dari pelajaran di sekolah mereka tentang pemimpin dunia yang memberikan perubahan positif terhadap dunia, seperti Nelson Mandela, Lady Diana dan Mahatma Gandhi. Mereka terinspirasi untuk menjadi pemimpin dunia juga, tapi mereka berfikir kenapa harus menunggu sampai tua dulu untuk menjadi pemimpin? Mereka percaya bahwa anak-anak juga punya peran penting untuk membuat dunia lebih baik lagi. “Waktu kami belajar tentang hal itu, lalu kami berpikir apa yang bisa kami lakukan sebagai anak-anak. Kami tidak mau menunggu kami sudah selesai sekolah atau dewasa. Kami ingin mulai sekarang.” [1] Ungkap gadis keturunan belanda itu kepada Kompas.com. Akhirnya mereka bertukar pikiran tentang masalah apa saja yang sedang terjadi di Bali, dan akhirnya masalah tentang sampah plastik lah yang dipilih. Mereka tahu bahwa sampah plastik merupakan masalah besar, karena itu mereka mulai membuat target yang memungkinkan untuk mereka capai. Akhirnya, terbentuklah misi mereka untuk membuat Bali menjadi pulau bebas plastik. Setelah usaha enam tahun berkampanye dan memperjuangkan misi mereka, akhirnya pada tahun 2019, Gubernur Bali menyatakan bahwa Bali telah menjadi pulau yang melarang pemakaian plastik sekali pakai. Sungguh inspiratif bukan? Kenalan lebih jauh sama mereka di sini

2.Rafa Jafar si Pengumpul Sampah Elektronik

Rafa Jafar (RJ) saat melakukan kegiatan sosialisasi E-Waste bersama Greenpeace di Gudang Sarinah © Apriasih / Greenpeace

Siapa disini yang masih asing dengan sampah elektronik atau biasa disebut e-waste? Ada yang penasaran sampah-sampah elektronik seperti bekas telepon genggam, kulkas dan komputer itu dibuang kemana? Nah, Rafa Jafar yang akrab dipanggil RJ adalah bocah yang memiliki hobi mempelajari dan mengedukasi anak-anak tentang bahayanya sampah elektronik. Bocah dari SMP Labschool ini juga senang sekali mengumpulkan sampah-sampah elektronik, bahkan sampai menerbitkan bukunya dengan judul E-Waste: Sampah Elektronik ketika masih berumur 12 tahun! Tidak hanya buku yang ia buat, dia juga membangun gerakan tempat sampah khusus sampah elektronik yang ia namakan Dropbox E-Waste, dengan tujuan agar sampah-sampah tersebut memiliki tempat sampah khusus sehingga bisa didaur ulang, dan tidak mencemari lingkungan kita dari racun yang berbahaya. Ia menempatkan Dropbox ini di lingkungan sekolahnya, dan bagi yang penasaran, sekarang Dropbox ini sudah tersedia di SD Cikal, SMP Labschool, Sekolah Tunas Muda, dan yang bisa dipindah-pindah ketika RJ melakukan pameran atau kunjungan ke sekolah-sekolah lain. Menurut RJ, langkah untuk mengurangi limbah elektronik mudah saja, “Pilih gawai yang tahan lama bisa dipakai dua hingga tiga tahun,” [2] ungkap RJ. Jadi, semakin sedikit pembuangan sampah elektronik maka bahaya pun akan berkurang. Gerakan ini memang belum masuk dalam skala nasional, tapi keberhasilannya mengangkat isu sampah elektronik ini membuat dirinya ditunjuk sebagai duta cilik dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Maroko pada November 2016! Keren banget ya?  Ikuti akunnya di sini

3.Greta Thunberg, Gadis Aktivis Iklim asal Swedia

Portrait of Activist Greta Thunberg. © Anders Hellberg

Potret aktivis iklim Greta Thunberg yang telah memimpin pelajar melakukan pemogokan di seluruh Eropa, untuk menyerukan kepada pemerintah meningkatkan keprihatinan mereka tentang perubahan iklim dan menjadi lebih proaktif. © Anders Hellberg

Greta Thunberg adalah seorang remaja aktivis iklim berumur 16 tahun asal Swedia yang didiagnosa mengalami sindrom Asperger, yaitu gangguan neurologis dan tergolong dalam spektrum autisme. Karena cintanya terhadap bumi dan lingkungan, ia sudah melakukan gerakan mogok sekolah untuk melakukan aksi unjuk rasa yang besar soal perubahan iklim pada Agustus tahun lalu, di depan parlemen Swedia. Sejak itu, hampir setiap hari Jumat, dia mogok sekolah hanya untuk memimpin gerakan tersebut. Semenjak itu, lebih dari satu juta siswa bergabung ke gerakan ini dengan cara meninggalkan sekolah demi melakukan aksi unjuk rasa untuk meminta pihak-pihak berwenang untuk mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah-masalah yang sudah terjadi karena perubahan iklim. Keberanian dan dedikasi Greta telah menginspirasi banyak murid di seluruh dunia, “Orang dewasa selalu bilang, mereka berhutang kepada generasi muda untuk memberi kami harapan tetapi saya tidak ingin harapan palsu. Saya mau anda panik, saya inginkan aksi nyata anda.” [3]Ungkap Greta. Banyak sekali yang mendukung aksi Greta, salah satunya adalah anggota parlemen Sosialis Norwegia, Freddy Andre Ovstegard. Menurut Freddy, Greta telah membentuk gerakan yang sangat masif, yang artinya ia telah berkontribusi besar terhadap perdamaian dunia. Maka dari itu, tidak heran kalau dia telah menjadi aktivis yang dinominasikan untuk meraih Nobel Perdamaian tahun ini. Jika ia memenangkan penghargaan tersebut, ia akan menjadi peraih Nobel Perdamaian termuda dan mengalahkan Malala Yousafzai, seorang wanita inspiratif dari Pakistan yang telah menerima penghargaan tersebut ketika ia berumur 17 tahun. Hebat sekali Greta!! Kenali Greta lebih lanjut di sini

Kamu punya rekomendasi anak-anak inspiratif lainnya? silakan tuliskan di kolom komentar.

Nabila Shahna Dannika adalah Mahasiswi Universitas Brawijaya yang sedang melakukan magang di Greenpeace Indonesia 

Catatan kaki:

[1] Kompas.com https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/07/121200126/bye-bye-plastic-kisah-2-gadis-muda-mewujudkan-bali-bebas-sampah-plastik

[2] Beritagar.id https://beritagar.id/artikel/figur/rafa-jafar-bocah-pengumpul-sampah-elektronik

[3] Video BBC Indonesia https://www.bbc.com/indonesia/media-48051696