The 2nd Forest Defender Camp 2025 in Papua Day 1. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Selama bertahun-tahun, Masyarakat Adat di berbagai wilayah Indonesia terus memperjuangkan hak mereka atas hutan yang menjadi sumber kehidupan. Industri ekstraktif yang tidak bertanggung jawab telah merampas hutan mereka untuk dijadikan perkebunan atau tambang. Namun, di tengah kondisi tersebut, masih ada wilayah yang mampu menjaga hubungan harmonis antara manusia dan hutan. Kampung Manggroholo dan Sira di Tanah Papua adalah salah satunya.

Tahun ini, tim Greenpeace kembali lagi dengan misi yang sama, yakni berbagi serta membersamai perjuangan hak-hak Masyarakat Adat dan pelindungan alam melalui kegiatan Forest Defender Camp (FDC) yang kedua pada tanggal 23-26 September 2025. Aditya Darmadi, salah satu tim Greenpeace yang bertugas menyelenggarakan FDC 2025, menjelaskan bahwa acara kali ini berbeda dengan FDC sebelumnya. Selain Pemuda Adat Papua, acara kemah tahun ini juga dihadiri oleh Pemuda Adat Cekungan Kongo, Amazon, dan Borneo.

Perjalanan Menuju Lokasi Perkemahan

© Jurnasyanto Sukarno / Greenpe

Papua yang terus menghadapi tekanan industri ekstraktif. Papua adalah benteng terakhir hutan hujan Indonesia, rumah bagi lebih dari 271 suku Masyarakat Adat dan ruang hidup yang menjadi sumber pangan, obat, identitas budaya, serta perlindungan ekologis. Kampung Sira dan Manggroholo dipilih sebagai lokasi FDC, karena kampung ini merupakan kampung pertama di Tanah Papua yang mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD). Tak hanya itu, Masyarakat Adat Knasaimos juga pernah memperoleh pengakuan wilayah adat seluas 97.441 hektar dari Bupati Sorong Selatan.

Adit menceritakan perjalanan panjangnya menuju lokasi perkemahan. Sekitar 40 orang tim Greenpeace dari Jakarta dan 200 peserta dari berbagai negara dan daerah Papua bergerak menuju Kampung Sira. Setelah penerbangan tengah malam dari Jakarta menuju Sorong, perjalanan dilanjutkan ke Teminabuan hingga akhirnya masuk ke hutan Sira. Meski melelahkan, Adit terkesan melihat suasana matahari terbit di atas Raja Ampat yang menjadi pengingat tentang betapa kayanya alam Papua yang sedang diperjuangkan.

Flight dari Soetta sampai ke Bandara DEO di Sorong itu 5 jam, lalu kami naik mobil dari Sorong ke Teminabuan sekitar 3 jam 36 menit. Itu jalanannya sepi dan kita pakai mobil besar yang memang cocok untuk medan perjalanan. Kesan pertama di Sorong, aku sempat ngerasain sunrise di atas Raja Ampat dan itu bagus banget, ” utasnya.

Sorong dan Teminabuan hanyalah persinggahan, lokasi perkemahan berada di tengah hutan yang teduh. Hutan lebat, tanah yang selalu basah karena musim hujan, dan udara lembab membuat peserta benar-benar merasakan kondisi hidup Masyarakat Adat sehari-hari. Terkadang, untuk memahami Masyarakat Adat yang terus memperjuangkan hutan mereka, orang harus datang dan hidup di hutan itu sendiri.

Cerita di Jantung Hutan Papua

Selama empat hari, para peserta belajar langsung dari penjaga hutan adat. Salah satu sesi paling berkesan bagi Adit adalah sesi bersama Arkilaus Kladit dari Dewan Persekutuan Adat Knasaimos yang memperkenalkan tumbuhan endemik dan kegunaannya bagi masyarakat setempat. Pengetahuan ini menunjukkan bagaimana Masyarakat Adat menjaga alam bukan hanya demi lingkungan, tetapi juga demi kelangsungan hidup mereka. Para Pemuda Adat dari berbagai daerah di Papua dan mancanegara juga berbagi keresahan tentang hutan di kampung mereka, sehingga FDC menjadi ruang untuk menguatkan solidaritas dan strategi bersama.

The 2nd Forest Defender Camp 2025 in Papua Day 1. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
The 2nd Forest Defender Camp 2025 in Papua Day 3. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Masyarakat Adat Knasaimos sendiri turut menjadi bagian penting dari kegiatan. Mama-mama sibuk memasak sepanjang hari untuk peserta, menyajikan papeda dan hidangan lokal yang menjadi simbol keterkaitan budaya dengan tanah dan hutan. Dari keramahtamahan ini, Adit menyimpulkan bahwa pelindungan hutan tidak hanya soal ekologi, tetapi juga hubungan emosional dan spiritual yang telah terbangun dari generasi ke generasi.

Peserta dan tim tidur di gubuk kayu, berbagi ruang, dan menggunakan air dari sungai terdekat sebagai sumber sanitasi. Pengalaman ini membuat banyak peserta berbincang, berbagi cerita, dan memahami kondisi kampung masing-masing. Adit menyebutkan bahwa keresahan Pemuda Adat menjadi informasi penting yang nantinya akan mereka verifikasi kembali.

© Jurnasyanto Sukarno / Greenpe
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpe

“Ini camp yang bisa dibilang sangat padat (kegiatannya) dan diadakan di lingkungan yang tidak familiar dengan kita, tapi para peserta sangat antusias dan banyak dari mereka yang nyari-nyari kesempatan untuk ngobrol sama kita di sela-sela santai, mereka cerita tentang keadaan di kampung mereka. Pemuda-pemuda Adat yang datang ke sana membawa keresahannya masing-masing soal hutan tempat mereka tinggal dan itu kita jadikan informasi agar bisa kita cross check nantinya,” tukas Adit.

Di tengah hutan Manggroholo-Sira, FDC 2025 menegaskan kembali: masa depan hutan Papua berada di tangan Masyarakat Adat, dan dunia perlu berdiri bersama mereka. Hutan adat bukan hanya benteng terakhir keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber kehidupan dan identitas. Jika hutan hilang, Masyarakat Adat akan kehilangan rumah dan dunia akan kehilangan napasnya. 

Dari FDC 2025, Adit Belajar…

Puncak dari kegiatan kemah selama empat hari adalah seruan dari Pemuda Adat Global bagi para pemimpin dunia untuk menjaga iklim global yang dicatatkan dalam Deklarasi Sira. Isinya menjadi pijakan moral dan politik bagi perjuangan lingkungan hidup yang berkeadilan sosial. Lebih lanjut, hasil pertemuan ini turut membuka jalan bagi keterwakilan suara Masyarakat Adat Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30), memastikan bahwa suara mereka, yang selama ini menjaga hutan dengan tangan dan hati, terdengar di forum global tempat dibuatnya keputusan penting atas iklim dan keberlanjutan hidup kita semua.

The 2nd Forest Defender Camp 2025 in Papua Day 4. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
© Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Pengalaman di Tanah Papua membawa sebuah pemahaman bagi Adit bahwa pemerintah seharusnya mengapresiasi  Masyarakat Adat yang telah menjaga hutan. Mereka adalah garda terdepan yang tetap berdiri teguh menjaga keseimbangan alam dan memastikan generasi mendatang masih dapat menikmati hijaunya pepohonan. Karena itu, sudah sepantasnya suara mereka didengar, perjuangan mereka dihargai, dan hak mereka dijaga dengan penuh hormat.