Jakarta, 9 Juli 2020 – Polusi udara bertanggung jawab atas kematian dini sebanyak 6.100 jiwa di Jakarta sejak 1 Januari 2020, menurut sebuah alat baru yang diluncurkan oleh Greenpeace Asia Tenggara dan IQAir AirVisual, yang mengungkapkan dampak polusi udara di 28 kota secara real-time di seluruh dunia. [1]

Air Pollution in Jakarta. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace
Asap dari polusi udara muncul di langit di atas kawasan bisnis di Jakarta. © Jurnasyanto Sukarno / Greenpeace

Selain menghitung risiko kematian dini, situs ini juga menghitung kerugian ekonomi akibat polusi udara. Di Jakarta saja, polusi udara telah menelan biaya ekonomi Rp 21,5 triliun, atau 1,7 kali lipat dari defisit BPJS, dan setara dengan 26% dari anggaran kota Jakarta tahun 2020.

Meskipun ada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena COVID-19, kualitas udara di Jakarta tetap dalam kisaran yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Citra satelit dan analisis yang disusun oleh Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkapkan bahwa sementara konsentrasi NO2 turun 33%, tingkat polusi PM2.5 tetap tinggi.

Penurunan konsentrasi NO2 di Jakarta sebagian besar disebabkan oleh penurunan kegiatan pada sektor transportasi dan industri selama masa PSBB. Namun, sumber pencemar utama, seperti pembangkit listrik tenaga batubara yang berlokasi di luar Jakarta, termasuk pembangkit listrik tenaga batubara Suralaya di Banten, terus beroperasi seperti biasa. Khususnya, NOx dari sumber tersebut dapat teroksidasi untuk membentuk PM2.5, yang merupakan partikel mikro yang memiliki periode bertahan lama di atmosfer dan dapat terbang cukup jauh. Karena lintasan angin yang berlaku, polutan PM2.5 dari pembangkit batubara ini mencapai wilayah Jakarta selama periode PSBB, dan mempengaruhi kualitas udara di kota.

Selama masa PSBB transisi, konsentrasi PM2.5 dan NO2 di Jakarta terus meningkat. Pada 15 Juni, Jakarta berada di peringkat satu dari lima kota di dunia dengan kualitas udara terburuk menurut database IQAir Visual.

Terdapat bukti yang kuat bahwa paparan polusi udara jangka panjang meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19 yang parah hingga menyebabkan kematian. [2] Paparan polusi udara kronis dikaitkan dengan penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan penyakit paru-paru kronis. Pasien dengan kondisi ini memiliki risiko lebih besar dirawat di rumah sakit bila terinfeksi COVID-19. [3]

Greenpeace mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menambah stasiun pemantauan kualitas udara yang dapat mewakili Jakarta secara keseluruhan, menyediakan sistem transportasi publik terintegrasi, dan berkoordinasi dengan pemerintah Jawa Barat dan Banten untuk mengendalikan polusi udara lintas batas.

“Kualitas udara baru-baru ini di Jakarta menunjukkan bahwa tindakan pemerintah terhadap polusi udara masih jauh dari optimal. Kebijakan Gubernur DKI Jakarta yang dituangkan dalam Ingub 66 harus berisi target dan tolok ukur kualitas udara yang jelas, dan dievaluasi secara teratur,” kata Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

“Pemerintah harus segera beralih ke sumber energi terbarukan, melakukan inventarisasi emisi reguler, dan memperketat standar kualitas udara ambien nasional,” pungkas Bondan Andriyanu,.

Catatan:

[1] The Greenpeace/IQAir AirVisual counter applies an algorithm to ground-level air quality data to calculate the projected cost of air pollution from PM2.5 and NO2 in cities around the world since 1 January, 2020. The counter uses real-time air quality data from IQAir AirVisual’s database, combined with scientific risk models, as well as population and health data. Mortality and cost estimates are based on the total impact attributable to PM2.5 and NO2 over the preceding 365 days, apportioned day by day according to daily recorded pollutant levels. Inclusion of NO2 is dependent on data availability.

The counter builds on methodology from the Greenpeace Southeast Asia and Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) report Toxic Air: The Price of Fossil Fuels”, which compiled the latest scientific results on exposure-response relationships between air pollution and health outcomes, as well as the economic costs of health conditions that were linked to air pollution in scientific literature.

The methodology used for the counter was developed by CREA. More details are available here.

[2]  Wu 2020.
[3] Garg et al 2020, Yang et al 2020.

Kontak media:

  • Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, +62 811-8188-182
  • Rahma Shofiana, Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111461674
Dukung Indonesia Segera Melakukan Transisi Energi ke Energi Terbarukan yang Ramah Lingkungan

Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, yuk suarakan agar Indonesia membuat langkah strategis untuk melakukan transisi energi untuk masa depan lebih…

Ikut Beraksi ×