Indigenous Peoples from Papua, Brazil, Cameroon, and Malaysia stand together for the  Declaration of Arborek during the Raja Ampat Indigenous Grand Assembly in Arborek island, Raja Ampat, Southwest Papua. To celebrate the International Day of the World’s Indigenous Peoples, and to support their movement to protect their lans, Greenpeace and USBA hold a series of events at  Arborek island in Raja Ampat, Southwest Papua. This is also a follow-up to the #SaveRajaAmpat campaign and the Indigenous Senate Assembly, which resulted in eight main demands, This meeting is also a step towards CBD COP - 17 in Armenia.

Perhelatan Heyul Pelei Koranu Fyak (Jumpa Akbar Masyarakat Adat Raja Ampat), yang diikuti Masyarakat Adat dan komunitas terdampak industri ekstraktif, melahirkan komitmen untuk memperkuat solidaritas dalam perjuangan mempertahankan ruang hidup dari berbagai penghancuran. Komitmen itu tertuang dalam Deklarasi Arborek dan Resolusi Arborek–dua dokumen yang disusun dari pengetahuan, pengalaman, dan duka kolektif atas apa yang telah dan terancam akan hilang.  

Jika Deklarasi Arborek mewadahi solidaritas jejaring Masyarakat Adat dari empat bentang hutan hujan terbesar di dunia, Resolusi Arborek memuat refleksi dan komitmen 20 sub-suku di Raja Ampat untuk menjaga ‘surga terakhir di Bumi’ tersebut dari ancaman industri ekstraktif seperti tambang nikel. 

Deklarasi Arborek

Deklarasi ini dibuat oleh 100 Masyarakat Adat dan komunitas terdampak yang berkumpul di Kampung Arborek, Papua Barat Daya, di dalam pertemuan 20 sub-suku Masyarakat Adat Raja Ampat. Kami telah berbagi cerita tentang sejarah moyang dan pengetahuan dari sistem kehidupan yang menopang lingkungan dan keberadaan kami turun-temurun.

Dalam pertemuan ini kami juga mengingat duka kolektif tentang kehilangan yang telah kami alami–tanah, pulau, hutan, bahasa, identitas, dan praktik-praktik kultural kami–karena dikorbankan oleh kolonial pengeruk melalui pertambangan, pembalakan, dan industri skala besar lainnya yang merusak dan mengeksploitasi wilayah adat kami.

Kami, Masyarakat Adat dari empat bentang hutan hujan terbesar di dunia–Amazon, Cekungan Kongo, Borneo, dan Papua–menyampaikan seruan kolektif kami hari ini. 

Kami berkomitmen memperkuat jejaring lintas generasi dan solidaritas global untuk berbagi strategi, perjuangan, dan solusi untuk menghadapi krisis multidimensi yang mengancam alam dan kemanusiaan. Kami mendesak pemerintah, institusi, bisnis, dan seluruh sektor dari masyarakat sipil untuk:

  1. Mengakui bahwa sistem ekonomi yang eksploitatif saat ini adalah akar masalah dari perusakan alam dan penghancuran kebudayaan di dunia. 
  2. Mengakui bahwa pengetahuan dan sistem yang telah dipraktikkan dan tumbuh berkembang di dalam masyarakat adat adalah salah satu solusi untuk menahan laju kepunahan keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan penghancuran keragaman budaya.
  3. Memajukan semua upaya dan dukungan yang mengembangkan praktik dan sistem pengetahuan lokal, termasuk akses pendanaan langsung untuk masyarakat adat.  
  4. Mendesak penyusunan dan implementasi kebijakan dan regulasi yang memperkuat hak masyarakat adat secara progresif—di antaranya pengakuan hak atas wilayah adat dan tradisional; perlindungan dari seluruh bentuk diskriminasi, intimidasi, serangan hukum dan fisik; padiatapa dalam seluruh proses pengambilan keputusan—untuk mencapai target-target global mengenai keanekaragaman hayati dan iklim. 
  5. Memastikan hak dan perlindungan perempuan dan pemuda adat, termasuk hak atas kebebasan berpendapat dan partisipasi politik di dalam ruang pengambilan keputusan serta seluruh aktivitas dari agenda adat. 
  6. Mendesak penyusunan dan implementasi akuntabilitas dan pertanggungjawaban korporasi terhadap penghancuran ekosistem dan iklim, termasuk melalui pemulihan hak atas tanah masyarakat adat yang telah dirampas secara paksa dan dirusak oleh industri.

Persatuan adalah kekuatan terbesar kita. Masyarakat Adat di wilayah Raja Ampat, Indonesia, di seluruh hutan hujan tropis dan seluruh negara harus berdiri dalam solidaritas; hanya dengan persatuan ini kita akan memenangkan perjuangan di berbagai belahan di dunia untuk mendapatkan hak-hak kita. 

Arborek, 22 Agustus 2026

NGO representative from Greenpeace Indonesia, Kiki Taufik Isigns the Declaration of Arborek  together with Indigenous people of Papua, Amazob Brazil, Cameroon, and Malaysia during the Raja Ampat Indigenous Grand Assembly in Arborek island, Raja Ampat, Southwest Papua. To celebrate the International Day of the World’s Indigenous Peoples, and to support their movement to protect their lans, Greenpeace and USBA hold a series of events at  Arborek island in Raja Ampat, Southwest Papua. This is also a follow-up to the #SaveRajaAmpat campaign and the Indigenous Senate Assembly, which resulted in eight main demands, This meeting is also a step towards CBD COP - 17 in Armenia.

Resolusi Arborek, Forum Gelar Senat Raja Ampat

Di sini, di Arborek, kami berkumpul dalam sebuah pertemuan yang kami sebut Heyul Pelei Koranu Fyak, yang lahir dari bahasa dan jiwa Masyarakat Adat Raja Ampat, untuk saling menguatkan, mempererat persaudaraan, dan merawat bersama warisan moyang yang menjaga Raja Ampat hingga saat ini. Di sini kami berbagi cerita dan berbagi rasa. Cerita masa lalu, kisah masa kini dan bayangan masa depan. Rasa kehilangan, harapan, dan solidaritas.

Dari kebersamaan di pertemuan besar ini kami meyakini bahwa takdir dan kehidupan masyarakat adat Raja Ampat tidak ditentukan oleh usaha mengeruk apa yang di dalam bumi, apalagi terbuai janji-janji manis yang merenggut pulau dan laut leluhur kami. Kami berdiri membawa duka tentang apa yang sudah dan terancam akan hilang, dan menegaskan bahwa masa depan laut, pulau dan generasi mendatang Masyarakat Adat Raja Ampat sepenuhnya ada di tangan kami sendiri: kami menolak tanpa kompromi setiap bentuk eksploitasi dan kegiatan yang merusak bentang alam, bentang laut, budaya serta harkat martabat masyarakat Raja Ampat; kami mendesak semua yang bertanggung jawab, Presiden dan jajarannya untuk menghentikan secara serta merta penghancuran yang sedang berlangsung saat ini di Pulau Gag; serta menciptakan perlindungan menyeluruh dan permanen terhadap alam dan masyarakat Raja Ampat yang mengakar kuat dalam hak dan sistem Masyarakat Adat.

Di sini, duduk bersama di atas senat, diiringi debur ombak dan angin laut, kami menyusun agenda kerja bersama:

  1. Mempercepat upaya-upaya persatuan untuk melawan penghancuran alam dan budaya Raja Ampat, termasuk dengan cara membangun wadah persatuan antarsuku dan sub-suku, rumah pemuda adat, rumah perempuan adat, dan lain-lain;
  2. Mempercepat upaya-upaya persaudaraan untuk merawat ruang hidup bersama di Raja Ampat, termasuk pengakuan pemetaan wilayah adat, pemetaan hubungan kekerabatan antarkeluarga, serta pengakuan kedaulatan Masyarakat Adat untuk merawat alam dan kebudayaan oleh negara melalui peraturan dan kebijakan formal;
  3. Memperkuat aliran pengetahuan lintas generasi, lintas suku, dan lintas pulau, termasuk dengan berbagai ruang belajar, mengembangkan sekolah adat, dan menggiatkan penimbaan dan pengembangan pengetahuan yang dapat diimplementasikan ke dalam kurikulum pendidikan;
  4. Mempertebal solidaritas gerakan dengan terlibat aktif dalam ruang-ruang belajar dan aksi di tingkat regional, nasional, internasional.

Kami memberikan pula mandat dan dukungan kepada kepada pemuda dan perempuan adat untuk memimpin pelaksanaan keempat agenda prioritas di atas dan menyelenggarakan Heyul Pelei Koranu Fyak pada tahun 2027.

Semoga Tuhan dan Moyang merestui perjuangan kami.

Arborek, 22 Agustus 2026

Forum Gelar Senat Raja Ampat

Catatan:

Foto dan video acara Heyul Pelei Koranu Fyak dapat diakses di tautan berikut

https://media.greenpeace.org/collection/27MZIFJHP3DSO