#Hutan

Hutan Tanpa Api

Kebakaran hutan tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tapi juga mengancam satwa liar asli Indonesia yang terancam punah.

Ikut Beraksi

Saya Nasrullah, warga Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Saya juga ketua MPA (Masyarakat Peduli Api) di desa saya.

Ketika kampung halaman saya diterjang bencana asap tahun 2015 yang lalu, hati saya sungguh pilu. Kebakaran hutan dan lahan dimana-mana, rumah saya dikepung asap, saya dan keluarga mulai sesak nafas, tapi kami tidak memiliki pilihan untuk pergi mengungsi. 

Seorang warga berdiri di dekat lahar perkebunan yang terbakar hebat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tahun ini sekitar 2.000 titik api membawa di seluruh Indonesia, ini lebih buruk dari tahun 2015. Pemerintah menyatakan area seluas lebih dari 800.000 hektare terbakar. Greenpeace mengkritisi pemerintah karena tidak bertindak tegaspada perusahaan yang bertanggung jawab.

 

4 tahun lalu kami bertahan di desa kami. Pun tahun-tahun setelahnya. Kami bertahan dengan terus membekali diri dengan pengetahuan bagaimana cara mencegah dan memadamkan api. Meskipun di musim kemarau setiap tahunnya kami terus memadamkan api, bukan berarti ini yang kami harapkan. Kami berharap api tidak kembali lagi, asap tidak kembali mencekik pernafasan kami.

Tahun ini api mulai datang di Bulan Juli. Awalnya hanya beberapa titik api, hingga merambat jadi ratusan titik api. Bahkan pemerintah telah menetapkan Kalimantan Tengah sebagai satu dari enam provinsi yang statusnya menjadi siaga darurat kebakaran hutan dan lahan. Lalu apa lagi yang dilakukan pemerintah setelah menetapkan status tersebut? Sayangnya, tidak ada.

Siluet rumah di dekat api besar yang memvbakar sebuah area lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tahun ini sekitar 2.000 titik api membawa di seluruh Indonesia, ini lebih buruk dari tahun 2015. Pemerintah menyatakan area seluas lebih dari 800.000 hektare terbakar. Greenpeace mengkritisi pemerintah karena tidak bertindak tegaspada perusahaan yang bertanggung jawab.

 

Bersama Tim Cegah Api dari Greenpeace, masyarakat, juga petugas pemadam setempat, kami bahu membahu terus berusaha memadamkan api. Berharap upaya kami membuahkan hasil, berharap penguasa tertinggi di pusat sana pun melihat jerih payah kami dan ikut berupaya dengan baik di bidang mereka.

Namun ketika Bulan Agustus akan berakhir, harapan saya sirna. Api semakin merajalela, kabut asap pekat semakin menyelubungi langit dan udara kami. Saya pun tertegun, bagaimana mungkin bencana asap tahun 2015 bisa terjadi lagi? Tapi inilah kenyataannya.

Mahasiswa menggunakan masker sambil memegang pesan saat aksi di depan papan informasi kualitas udara yang menunjukan level sangat tidak sehat akibat kebakaran hutan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tahun ini sekitar 2.000 titik api membawa di seluruh Indonesia, ini lebih buruk dari tahun 2015. Pemerintah menyatakan area seluas lebih dari 800.000 hektare terbakar. Greenpeace mengkritisi pemerintah karena tidak bertindak tegaspada perusahaan yang bertanggung jawab.

 

Kualitas udara kami kian memburuk. Setiap hari kami harus menghirup udara penuh asap beracun dari kebakaran hutan dan lahan. Kualitas udara selalu di atas ambang batas aman, bahkan beberapa kali mencapai angka 1000 dan yang terparah pernah mencapai angka 2000! Banyangkan, bagaimana kehidupan kami disini.

Lebih buruk lagi, ternyata bencana asap ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah. Tapi juga Riau hingga asapnya bisa singgah sampai ke Malaysia, Singapura, juga bagian selatan Filipina dan Thailand! Di lapangan, kami terus berupaya di garda depan dalam menghadapi bencana ini. Tapi kami tidak bisa sendirian, kami sangat butuh bantuan pemerintah pusat dengan segera menegakkan hukum dan bertindak tegas kepada para pelaku pembakaran hutan dan lahan yang membuat hidup kami carut marut dan membuat kebijakan perlindungan gambut yang kuat mengingat jika  gambut terbakar akan sangat sulit untuk dipadamkan.

Mahasiswa melakukan aksi di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tahun ini sekitar 2.000 titik api membawa di seluruh Indonesia, ini lebih buruk dari tahun 2015. Pemerintah menyatakan area seluas lebih dari 800.000 hektare terbakar. Greenpeace mengkritisi pemerintah karena tidak bertindak tegaspada perusahaan yang bertanggung jawab.

 

Saya tahu saudara saudari saya sebangsa dan setanah air prihatin pada bencana yang menimpa kami. Saya tahu niat baik kalian selalu ingin menolong kami. Kali ini, maukah kamu menolong kami untuk mendesak pemerintah agar segera mengatasi persoalan ini dan berupaya penuh akan bencana ini tidak terulang lagi? 

 

Nasrullah adalah ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kalimantan Tengah, Indonesia.