Yatimah tidak bisa menahan raut bahagia saat menyambut Tim Greenpeace Indonesia di kediamannya. Ibu tiga anak itu menyajikan makanan dan minuman dengan sigap, sembari relawan Greenpeace Indonesia menyiapkan seperangkat alat pemasangan instalasi panel surya. 

Senin, 31 Agustus 2026 Greenpeace Indonesia melakukan pemasangan instalasi panel surya di Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Pemasangan di hari itu mencakup 3 rumah, yang nantinya menargetkan terpasang di  10 rumah warga. 

Salah satunya yaitu rumah Yatimah. Sebagai ibu rumah tangga, Yatimah menyambut baik inisiasi program pemasangan panel surya. Sebab baginya, biaya listrik yang semakin mahal membebani pengeluaran keluarga. Yatimah berharap nantinya akan menghemat biaya listrik dengan adanya panel surya di rumah. 

“Untuk menyiasati harga listrik yang kini mahal, kami memakai lampu atau alat elektronik yang rendah watt,” ucapnya.

Sebelumnya, Yatimah telah memanfaatkan energi matahari untuk menyalakan satu lampu di depan rumahnya. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. 

Ia pun mengungkapkan keinginannya untuk memasang panel surya dengan kapasitas yang lebih besar. Selain bisa mengurangi biaya listrik, perawatannya pun cukup mudah. Terlebih banyak tetangganya yang  menanyakan lampu panel surya yang telah ia pasang.

Namun, karena instalasi panel surya yang sulit diakses dan harganya cenderung mahal, ia mengurungkan niat tersebut. 

“Kalau panel surya mudah diakses dan harganya cukup terjangkau, saya mau pasang yang lebih besar. Toh sekaligus bisa memanfaatkan energi matahari,” ujarnya.

Hal senada disampaikan perwakilan Urban Poor Consortium, Andi yang menyebut transisi ke energi matahari atau panel surya belum menjadi obrolan yang intens di masyarakat kampung kota. Sebab, panel surya masih dianggap barang mahal yang hanya bisa diakses oleh orang kaya. 

“Panel surya bisa menjadi jawaban untuk kebutuhan listrik rumah tangga, jika bisa menjadi program yang dikeluarkan pemerintah,” ucap Andi yang telah banyak membantu advokasi warga kampung kota Jakarta.

Sementara itu, Ketua Tim Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Yuyun Harmono menyebut langkah ini bagian dari inisiatif untuk mendorong kemandirian energi di tingkat masyarakat, dengan beralih dari energi fosil ke matahari. Selain itu, listrik dari panel surya nantinya bakal menghemat biaya listrik yang dikeluarkan setiap rumah tangga. 

Lebih lanjut, Yuyun mengungkapkan bahwa potensi penggunaan energi matahari lewat instalasi panel surya untuk perumahan di Jakarta bisa mencapai 16,9-21,5 GWp. Ia menyayangkan jika besarnya potensi ini tidak dimanfaatkan secara optimal. 

“Ada potensi listrik yang luar biasa lewat panel surya yang dipasang di atap-atap rumah atau gedung” ungkapnya. 

Namun selama ini, menurut Yuyun, permasalahannya berada pada mahal dan sulitnya akses panel surya bagi masyarakat luas. 

Sejalan dengan itu, survei persepsi publik Greenpeace Indonesia bersama Indopol menunjukkan bahwa hanya 23% warga Jakarta yang tertarik untuk memasang panel surya di atap rumah. Mereka beralasan karena harga panel surya yang mahal. Namun saat pertanyaannya mengandaikan adanya skenario insentif biaya untuk pemasangan panel surya sebesar 30-50%, ketertarikan  naik mencapai sekitar 51%. 

Di samping itu, Greenpeace Indonesia bersama Celios juga menerbitkan laporan Indeks Kesiapan Transisi Energi Desa 2026. Dalam laporan tersebut DKI Jakarta menjadi kota yang memiliki kesiapan transisi energi yang paling tinggi dengan skor 84,6. Angka ini jauh dari posisi kedua yang dipegang DI Yogyakarta dengan skor 43,3. Tingginya skor DKI Jakarta ditopang kekuatan struktural berupa urbanisasi yang tinggi, APBD besar, regulasi kuat, serta PLTS Atap dan Electric Vehicle (EV) yang berkembang.  

Merujuk laporan tersebut, Yuyun menyayangkan jika pemerintah daerah DKI Jakarta tidak memiliki komitmen transisi energi yang kuat. Akibatnya pembangunan panel surya selama ini hanya bersifat top-down. Dengan kata lain, pembangunan tersebut masih kurang melibatkan komunitas masyarakat kampung kota secara langsung. 

“Perlu ada kebijakan insentif pembiayaan yang jelas kepada masyarakat terkait transisi energi ini. Sehingga dalam konteks di Jakarta, masyarakat kampung kota bisa menjadi subjek aktif yang terlibat dalam setiap pembangunan. Kami percaya transisi energi harus dimulai dari bawah dengan model pendekatan bottom-up,” tegasnya.

Pemasangan instalasi panel surya ini adalah bagian dari komitmen Greenpeace Indonesia dalam mendorong capaian net zero emission melalui transisi ke energi bersih yang berkeadilan. Perangkat panel surya dibelanjakan dari hasil donasi masyarakat yang berhasil dihimpun, baik secara daring ataupun luring. 

Dukungan publik penting untuk memperkuat inisiatif transisi energi di tingkat komunitas. Kamu juga bisa ikut berkontribusi mendukung pemerintah segera beralih ke energi bersih sebagai sumber energi yang dapat diakses mudah oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang paling terdampak oleh krisis iklim, dengan mendukung kampanye Greenpeace melalui donasi terbaikmu di bawah ini. 

#WeDeserveBetter #FokusDiTerbarukan

Profil penulis:
*Zidnan Nuuro adalah seorang mahasiswa tingkat akhir Program Studi D4 Pemasaran Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Negeri Jakarta yang sedang menjalankan program internship tahun 2026 di Greenpeace Indonesia.