
Jakarta, 29 Juli 2026 — Sebagai penutup perayaan Bulan Juli Bebas Plastik (Plastic Free July), Inisiator Pawai Bebas Plastik melangsungkan forum “Temu Warga: Kolaborasi Multipihak dalam Mendukung Implementasi Kebijakan Pengelolaan Sampah” di Jakarta Future Hub, Jakarta Pusat. Forum yang digagas oleh Greenpeace Indonesia, Dietplastik Indonesia, Divers Clean Action, Indorelawan, WALHI Jakarta, dan WALHI Nasional ini mempertemukan berbagai elemen masyarakat sipil dan pemangku kebijakan dalam ruang dialog untuk membahas berbagai kebijakan pengelolaan sampah di DKI Jakarta.
“Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pawai Bebas Plastik tahun ini dirancang untuk menjadi ruang dialog antar warga dan pemangku kebijakan. Untuk menjawab persoalan sampah, pemerintah daerah sudah sering bicara melalui kebijakan dan regulasi. Di sisi lain, warga juga harus terus beradaptasi dalam menghadapi realita implementasi kebijakan sehari-hari. Kami menilai kebijakan tata kelola sampah yang berorientasi pada partisipasi masyarakat amat penting untuk keberhasilan implementasi pengelolaan sampah di lapangan. Dengan format diskusi multipihak ini, kami berharap pemahaman bersama dan kolaborasi yang lebih kuat dapat terbangun antara warga dan pemerintah agar implementasi pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan bisa tercapai,” terang Ibar Akbar, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong praktik pemilahan sampah di tingkat rumah tangga melalui berbagai kebijakan dan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk Pergub DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga dan Ingub Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Namun, kebijakan pengelolaan sampah tidak akan maksimal tanpa pemilahan dari sumber, serta evaluasi implementasi dari pemerintah sendiri.
Dalam paparannya, Ketua Sub Kelompok Kemitraan Data & Informasi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sri Mulyati, menerangkan bahwa tingginya sampah dari sektor pemukiman menjadikan keterlibatan masyarakat sebagai faktor penting dalam mengurangi sampah di Jakarta. “Dinas Lingkungan Hidup tidak bisa bekerja sendirian. Kami membutuhkan dukungan masyarakat untuk menyukseskan program pemilahan dan pengolahan dari sumber. Kami pastinya punya banyak keterbatasan, maka dari itu kami mendorong terwujudnya kolaborasi,” katanya.
Pada kesempatan ini, perwakilan warga yang telah sukses menjalankan pemilahan sampah di daerahnya juga turut hadir. Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW016, Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur membagikan pengalaman mereka dalam menerapkan pemilahan sampah dari sumber di tingkat rumah tangga. Melalui perkumpulan Koperasi Kompos, warga RW016 Cakung berhasil membangun alternatif pengelolaan sampah di tingkat rukun warga yang dikelola warga secara mandiri.
Menurut Fadjar Satyani, anggota PKK RW016 Cakung, untuk mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan harus ada kerjasama antara warga dan pemerintah. “Kalau kita mau perubahan yang terasa dampaknya, kita harus lakukan bersama-sama. Ketika kita mengajak untuk berubah, kita juga harus siapkan solusinya. Kita siapkan sistemnya agar orang dimudahkan dalam melakukan perubahan yang bermakna,” kata Fadjar.
Walaupun Ingub 5/2026 yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disambut dengan baik dan cukup terasa keterlibatan masyarakat, terdapat celah yang perlu diantisipasi. Sampah anorganik seperti plastik sekali pakai dalam bentuk saset dan kantong, tidak masuk dalam kategori sampah terpilah dan jika tidak masuk dalam 4 kategori sampah terpilah, akan dikategorikan residu.
“TPA Bantargebang hanya akan menerima residu pada Agustus 2026. Jika plastik sekali pakai seperti saset dan kantong tidak dicegah untuk dikonsumsi, tumpukan sampah plastik sekali pakai di Bantargebang kemungkinan akan tetap terus bertambah. Jakarta sudah punya peraturan pembatasan plastik sekali pakai dan cukup berhasil dalam mengurangi penggunaan plastik. Perlu ada aturan tambahan untuk membatasi plastik sekali pakai, salah satunya dengan mendukung perwujudan ekosistem guna ulang yang juga sudah banyak dilakukan di warga Jakarta, sesuai dengan hirarki pengelolaan sampah di mana pengurangan dengan guna ulang menempati urutan teratas,” ujar Adithiyasanti, Manajer Komunikasi Dietplastik Indonesia.
Partisipasi aktif dari warga yang hadir juga ikut didorong dalam forum ini. Melalui sesi Rembuk Warga, warga yang hadir diajak untuk ikut berbagi pengalaman, masalah sampah sehari-hari, dan aspirasi mereka. Rekomendasi yang dihasilkan langsung disampaikan pada perwakilan Pemprov DKI Jakarta yang hadir.
“Warga juga punya solusi. Rekomendasi yang terhimpun hari ini dapat menjadi peluang tindak lanjut antar pemangku kepentingan untuk mendorong aksi kolektif yang berkelanjutan dalam pengurangan, pemilahan, dan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat,” tandas Ibar.
–
Catatan Editor:
Foto dan video dapat diunduh di tautan berikut ini.
Kontak Media:
Ibar Akbar, Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, +62 812-2572-3998
Agnes Alvionita, Juru Kampanye Komunikasi Greenpeace Indonesia, +62 858-1028-8575
Tentang Pawai Bebas Plastik
Pawai Bebas Plastik (PBP) merupakan gerakan kampanye kolektif yang bertujuan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong penanganan sampah yang lebih bertanggung jawab.


