
Jakarta, 7 Oktober 2026 – Masjid sejak lama memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat. Tak sekadar jadi pusat ibadah dan dakwah, peran masjid juga berkembang menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini, potensi peran masjid dalam kehidupan bermasyarakat kian meluas kala bencana iklim silih berganti menguji ketangguhan umat.
Laporan Green Mosques Initiative dari Ummah for Earth (2021) menempatkan masjid sebagai ruang yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan komunitas dan berpotensi menjadi bagian dari solusi krisis iklim. Dalam konteks ini, peran masjid dapat mencakup pendidikan lingkungan, penyebaran informasi kebencanaan dan posko perlindungan saat bencana, hingga penggerakan aksi lingkungan berbasis komunitas. Melihat besarnya potensi tersebut, Greenpeace Indonesia bersama Kader Hijau Muhammadiyah, EcoMasjid, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) meluncurkan Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
“Ketika bicara tentang masjid yang tangguh, kita tidak hanya bicara soal seberapa kokoh bangunannya, tetapi juga ketangguhan jamaah dan komunitas di sekitarnya. Ummah for Earth Greenpeace Indonesia bersama tim penyusun melihat bahwa ketahanan masjid dalam menghadapi krisis iklim dapat dibangun melalui pengetahuan, gotong royong, pemanfaatan instrumen ZISWAF untuk lingkungan, serta aksi nyata yang dilakukan jamaah dan anggota komunitas di sekitarnya,” terang Riska Rahman, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia.
Berdasarkan Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama RI, ada 710.739 masjid dan mushola yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, David Efendi, mengatakan bahwa banyaknya jumlah masjid berpotensi menjadikannya sebagai tempat untuk menerapkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan.
“Saat ini, Muhammadiyah mengelola 12.000 masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami menyadari bahwa masjid sendiri dapat menjadi ruang untuk membangun kepedulian lingkungan dalam keseharian ibadahnya. Dari semua masjid yang dikelola Muhammadiyah, kami berusaha menjadikan setiap aktivitas di masjid, mulai dari berwudhu, salat, menggunakan listrik, mengelola sampah, hingga menjaga kebersihan sebagai kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai Islam ramah lingkungan,” ujar David.
Senada, pegiat lingkungan dan Founder EcoMasjid, Hayu Prabowo, menambahkan bahwa penanaman nilai-nilai lingkungan dalam kehidupan sehari-hari bagi pengelola masjid dan jamaahnya merupakan wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ardl yang diperintahkan Allah SWT untuk mengemban amanah dan memakmurkan bumi.
“Selain itu, upaya menggerakkan jamaah dan komunitas dalam aksi iklim setiap hari juga menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk saling membantu dalam kebaikan dan memakmurkan masjid, terutama di tengah ancaman krisis iklim yang memberikan dampak besar untuk kehidupan kita sehari-hari,” ujar Hayu.
Tak hanya tentang fungsi masjid sebagai ruang pendidikan lingkungan, masjid, yang kerap dijadikan tempat pertama untuk evakuasi pascabencana, juga harus memiliki bekal tentang menangani bencana. Terutama bencana iklim yang saat ini semakin sering terjadi. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap, 99,26 persen bencana yang terjadi di 2025 merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga kekeringan. Bencana-bencana tersebut merupakan konsekuensi dari kegiatan manusia yang memicu perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Mengingat pentingnya unsur tanggap bencana dalam lingkup masjid, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) turut berkontribusi dalam panduan ini untuk memberikan bekal pengurus masjid, jamaah, dan komunitas di sekitarnya kala bencana iklim melanda. Pasalnya, masjid kerap kali digunakan sebagai tempat pengungsian sementara hingga distribusi bantuan bagi para korban setelah bencana mereda.
Salah satu contohnya adalah Masjid Haji Gumerman di Katingan, Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah tersebut membuat para pengurus masjid memanfaatkan ruang masjid menjadi rumah oksigen bagi para korban kabut asap, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya. “Pemanfaatan ruang masjid untuk kebutuhan penanggulangan bencana membuktikan bahwa masjid dapat ikut berperan dalam mengatasi dampak krisis iklim, terutama bagi mereka yang paling terdampak,” kata Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah.
“Dengan membekali komunitas masjid melalui pengetahuan dan keterampilan tanggap bencana, kami harap masjid dapat lebih siap dalam menghadapi bencana, lebih tanggap merespon bencana, serta mengurangi risiko bencana,” kata Shofa Qudus, Kepala DMC Dompet Dhuafa.
Di luar kerentanan bencana, kerentanan ekonomi juga menjadi isu yang dihadapi oleh masyarakat dalam situasi bencana dan krisis iklim. Bagi komunitas muslim, dana dan aset Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF)–yang ada di masjid dan aksesnya amat dekat dengan keseharian warga–juga menyimpan potensi untuk mendukung proyek hijau berkelanjutan dan tanggap bencana. Contohnya, lewat Zakat Hijau (Green Zakat) dan Wakaf Hijau (Green Waqf).

Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas mencakup ragam materi yang dibutuhkan masjid untuk bersiap menghadapi dampak krisis iklim. Mulai dari dasar-dasar aksi iklim, penanggulangan bencana, hingga pemanfaatan instrumen keuangan Islam dan pengembangan sumber daya manusia masjid.
Mari mulai dari masjid!
Akses panduannya di sini: Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas
–
Catatan Editor:
Foto dan video acara peluncuran panduan dapat diakses di sini.
Kontak Media:
Riska Rahman, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, +62 821-1456-2039
Agnes Alvionita, Juru Kampanye Komunikasi Greenpeace Indonesia, +62 858-1028-8575


