© Pablo Blazquez / Greenpeace

Sudah 100 hari berlalu sejak Amerika Serikat (AS) dan israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Pada masa-masa itu, masyarakat Iran dan negara-negara Asia Barat mengalami kematian, terusir dari negara sendiri, pengeboman, mati listrik, kekurangan pasokan air dan ketidakamanan. Sementara gelombang shock dampak perang meluas melampaui kawasan tersebut melalui biaya energi yang melonjak, naiknya harga bahan makanan, dan memperburuk ketidakstabilan ekonomi.

Serangan tersebut telah diprediksikan akan memantik krisis energi terburuk dalam sejarah. Menurut International Energy Agency, sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) dan 25% dari pasokan minyak bumi yang didistribusikan melalui jalur laut akan berisiko, baik yang berada di dalam maupun sekitar Selat Hormuz. Secara teori, dampaknya jauh lebih besar dibanding lonjakan harga minyak di 1970-an.

Sejak itu, sudah terjadi beberapa forum negosiasi, usulan gencatan senjata, dan pembicaraan melalui jalur ‘belakang’ oleh aktor politik. Namun, peperangan hingga penyerangan tetap berlangsung, dan Selat Hormuz tetap tidak terbuka sepenuhnya seperti semula, membuat pasar dan masyarakat tetap dalam keadaan terancam serta waspada.

Kenapa ini penting

Ini bukan sekedar cerita soal kebijakan luar negeri. Ini soal harga bahan bakar, makanan, dan transportasi, tentang siapa yang paling rentan ketika perekonomian bergantung pada bahan bakar fosil yang sedang berada di titik paling rawan, dan tentang siapa yang memperoleh kekayaan ketika semua ini terjadi. Seratus hari kemudian, perang di Iran menjadi pengingat brutal lain akan ketergantungan terhadap energi fosil mengubah kekerasan geopolitik menjadi krisis biaya hidup di tingkat global.

100 hari perang, kematian, kehancuran, dan polusi

Perang membunuh ribuan orang dan menghancurkan kehidupan. Di Iran dan negara-negara tetangga, seperti Gaza, Ukraina, Sudan, dan Republik Demokratik Kongo, masyarakat terbunuh dan terluka akibat serangan udara dan rudal, rumah dan apartemen hancur lebur, dan infrastruktur penting seperti rumah sakit, sistem air, dan jaringan listrik rusak dan berada di dalam kehancuran. Masyarakat dan rumah tangga berkali-kali mengalami pemadaman listrik, pemutusan pasokan air, dan kekurangan bahan bakar, banyak di antara mereka yang terpaksa meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri.

Biaya finansial dari perang di Iran ini juga sangat besar. Lembaga pemantau independen—berdasarkan sumber-sumber seperti catatan arahan Pentagon kepada Kongres dan laporan Center for Strategic and International Studies—mengestimasi bahwa pada seratus hari pertama, perang Iran telah membebankan biaya sebanyak 100 miliar dollar AS kepada pembayar pajak yang secara langsung dikeluarkan untuk kebutuhan militer dan berkaitan dengan kerugian ekonomi. Uang yang seharusnya dapat membiayai sekolah, rumah sakit, dan energi bersih. Angka tersebut juga belum termasuk biaya jangka panjang untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur, merawat fisik dan trauma psikologis, maupun menangani dampak iklim yang dipicu oleh konflik atas infrastruktur bahan bakar fosil.

Perang ini juga merupakan sumber besar polusi karbon. Analisis dari 14 hari pertama perang AS-israel dan Iran diestimasikan melepaskan sekitar 5 juta ton emisi karbondioksida (CO2). Jumlah tersebut kira-kira setara dengan gabungan emisi dari 84 negara penghasil emisi terendah di dunia. Emisi tersebut muncul dari jet militer, kapal, mesin-kendaraan, dan dari pembakaran bahan bakar dan amunisi, serta dari kebakaran dan kerusakan fasilitas industri dan infrastruktur energi.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perang ini merupakan pola yang lebih luas di mana infrastruktur minyak, gas, dan air, secara sengaja dijadikan target, dengan konsekuensi jangka panjang dalam beberapa dekade ke depan. Serangan terhadap kilang minyak, gudang penyimpanan bahan bakar, instalasi desalinasi, dan pipa tidak hanya membunuh dan melukai secara langsung. Ini juga meracuni udara, tanah, dan air, serta sistem dasar yang digunakan manusia untuk bertahan hidup.

Di luar serangan langsung, perang ini meningkatkan bahaya yang ditimbulkan oleh perpindahan tanker minyak yang melewati satu dari titik rawan paling sensitif di dunia. Selat Hormuz merupakan koridor sempit yang membawa sebagian besar pasokan minyak dan LNG dunia, Greenpeace bersama para ahli sudah sejak lama memperingatkan soal zona yang rawan kecelakaan, tabrakan, dan bocor/tumpahan. Beberapa bulan terakhir, citra satelit telah memperlihatkan tumpahan minyak dan polusi akibat kecelakaan tanker dan kerusakan infrastruktur baik di dalam maupun sekitar Teluk, mempertegas bagaimana eskalasi konflik militer di jalur padat pelayaran tersebut secara cepat berubah menjadi malapetaka lingkungan yang bahkan terlihat dari jangkauan luar angkasa.

100 hari lonjakan harga bahan bakar dan perolehan keuntungan yang tidak senonoh

Beberapa minggu setelah serangan tersebut, kekhawatiran akan Selat Hormuz dan perluasan eskalasi di kawasan mendorong lonjakan harga minyak mentah sebesar 100 dollar AS per barrel, dengan harga pasar/harga spot yang melonjak hingga 138 dollar AS pada 7 April dan rata-rata harga sebesar 117 dollar AS dalam satu bulan. Level lonjakan seperti ini belum pernah terjadi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Untuk kepentingan rumah tangga, ini berarti menambah beban terhadap anggaran yang sudah terbatas. Untuk perusahaan bahan bakar fosil, ini merupakan keuntungan besar.

  • 100 perusahaan minyak dan gas teratas di dunia menghasilkan keuntungan tambahan lebih dari 30 juta dollar AS setiap jam-nya dalam bulan pertama serangan AS-israel ke Iran.
  • Jika harga tetap berada di angka 100 dollar per barel, mereka dapat mengantongi sekitar 234 miliar dollar AS sebagai keuntungan tambahan pada akhir 2026. Perusahaan raksasa seperti Saudi Aramco, Gazprom dan ExxonMobil sebagai pemenang utama yang meraup untung dari perang ini.
  • Shell sendiri menghasilkan keuntungan sebesar 6,9 miliar dollar AS pada kuartal pertama, dua kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya, perang di Iran ‘membantu’ agar harga minyak tetap tinggi.
  • Empat perusahaan minyak terbesar di Eropa—Shell, TotalEnergies, BP, dan Equinor—dilaporkan memperoleh keuntungan lebih dari 18 miliar dollar AS setelah penyesuaian pajak di kuartal pertama 2026, melonjak sebesar 80% dibandingkan kuartal sebelumnya.
  • Di Uni Eropa, perusahaan minyak menghasilkan 92,8 juta dollar AS per hari dari minggu-minggu pertama perang, dengan diesel sebagai pendorong utama dari sebagian besar keuntungan tersebut.
  • Di Inggris, nilai pasar perusahaan pengeboran besar di Laut Utara, termasuk Shell, BP, dan TotalEnergies meningkat sebesar 73,5 miliar poundsterling hanya dalam 4 minggu pertama sejak serangan terhadap Iran terjadi.

Ini adalah gambaran dari praktik ketergantungan bahan bakar fosil: orang membayar lebih untuk berkendara, memanaskan rumah mereka, dan memindahkan barang, di saat yang sama produsen dan pedagang meraup untung dari volatilitas.

Jika terdengar familiar, memang demikian. Ini strategi perang industri bahan bakar fosil: ketika krisis menerjang, kekhawatiran akan pasokan meningkat, harga naik, keuntungan membengkak, dan seluruh perusahaan sama-sama menjawab dengan lebih banyak pengeboran, lebih banyak terminal gas, dan lebih banyak ketergantungan pada sistem yang sejak awal sudah membuat semua orang dalam kondisi rentan.

100 hari kenaikan harga bahan pangan dan keuntungan besar bagi industri pertanian

Perang tidak hanya menyerang pasokan energi. Ia juga menyerang sistem pangan kita. Harga bahan makanan meningkat ke tingkat tertinggi sejak April 2023 yang didorong oleh konflik di kawasan negara-negara Asia Barat, berdasarkan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Ini berpengaruh karena ketika harga energi dan pupuk naik bersamaan, inflasi pangan dapat menyebar dengan cepat melalui pertanian, transportasi, pengemasan makanan, dan rak-rak supermarket.

Pada Maret, Greenpeace memperingatkan disrupsi pada rantai pasok pupuk yang terjadi akibat perang dan risiko ditutupnya Selat Hormuz dapat memantik lonjakan harga pangan global. Laporan menunjukkan bagaimana krisis yang terjadi mengekspos rapuhnya sistem pangan yang bergantung pada pupuk yang berbahan bakar fosil, dan rentannya rantai pasok.

Pada Mei, pola meraup keuntungan semakin jelas. Industri pupuk menghasilkan keuntungan dari krisis pasokan yang terjadi akibat perang Iran, sementara kehidupan petani kecil semakin tertekan.

Para petani menghadapi harga pupuk dan bahan bakar yang semakin mahal. Rumah tangga di seluruh dunia menghadapi juga biaya belanja yang tinggi. Dan seperti halnya minyak, segelintir perusahaan raksasa mengubah krisis ini menjadi sarana akumulasi keuntungan lain. Hasilnya adalah sistem pangan yang hanya menguntungkan bagi pemegang saham/modal, tapi sangat rapuh bagi banyak masyarakat.

100 hari biaya transportasi, disrupsi, dan protes

Sektor transportasi bertanggung jawab atas 60% dari total permintaan minyak. Ketika harga bahan bakar fosil meningkat, transportasi menjadi pembawa pesan yang menyebarkan dampak buruknya ke khalayak luas.

Lonjakan harga bahan bakar mendorong kenaikan tarif bus, tiket pesawat, tarif pengiriman barang, dan juga pada akhirnya harga barang kebutuhan sehari-hari. Dalam beberapa bulan dan minggu setelah serangan pertama ke Iran, demonstrasi akan biaya bahan bakar dan transportasi meledak di Kenya, di mana orang-orang turun ke jalan memprotes rekor harga bensin dan kenaikan tarif, dalam demonstrasi ini empat orang terbunuh. Di Haiti, para pekerja menuntut kenaikan upah menyesuaikan lonjakan harga bahan bakar dan inflasi bahan makanan. Di Pakistan, pengemudi truk dan penumpang memprotes harga solar dan tarif tiket bus, sementara di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya, petani dan pengemudi memblokir jalan dan infrastruktur penyimpanan bahan bakar untuk mengecam kenaikan harga dan kelalaian pemerintah.

Demonstrasi-demonstrasi tersebut merupakan respon rasional terhadap sistem yang curang yang mengharapkan masyarakat dapat menanggung seluruh dampak dari krisis yang disebabkan bahan bakar fosil, sementara mereka yang menggunakan jet privat, kapal pesiar mewah, dan laba besar terus menjalani hidup mereka seperti biasanya. Tanpa percepatan transisi dari ekonomi yang berbasis minyak dan pembagian biaya/tanggungan yang adil, setiap lonjakan baru akan menghantam keras kepada mereka yang justru berkontribusi paling sedikit terhadap krisis.

100 hari pemerintahan merespons krisis

100 hari terakhir menunjukkan bahwa sistem dirancang sedemikian rupa untuk mengecewakan masyarakat dan hanya memberi keuntungan bagi perusahaan. Perang Trump dengan Iran telah memperdalam kesengsaraan di kawasan, sekaligus membuat hidup semakin sulit dan mahal bagi puluhan juta orang yang bahkan berada ribuan kilometer jauhnya, karena ekonomi kita tetap terikat oleh bahan bakar fosil untuk memasok energi, plastik, dan pupuk industri.

Permintaan global terhadap minyak telah sedikit menurun: International Energy Agency memperkirakan permintaan terhadap minyak jatuh sebesar lebih dari 2% pada kuartal ini, dengan sebagian besar penurunan ini datang dari negara-negara berkembang di Asia, kawasan yang paling bergantung pada minyak kawasan Asia Barat. Bersamaan dengan itu, 76 negara meluncurkan tindakan darurat untuk membatasi penggunaan minyak kedepan, mulai dari pembatasan kecepatan kendaraan dan skema bekerja-dari-rumah (WFH) hingga kampanye menghemat bahan bakar dan dukungan untuk transportasi publik.

Langkah-langkah tersebut, diiringi dengan penurunan permintaan karena lonjakan harga, membantu perekonomian dari negara-negara kaya dan tangguh untuk melindungi diri dari dampak negatif dari krisis untuk saat ini. Namun, langkah-langkah ini memiliki keterbatasan yang jelas, terlebih untuk negara-negara miskin yang tidak memiliki kemampuan melindungi masyarakat mereka atau menahan lonjakan harga. Krisis ini bukan berarti berakhir, setiap hari dunia semakin bergantung pada minyak dan gas, eskalasi selanjutnya ataupun disrupsi pasokan akan membawa kerentanan yang sama kembali.

Apa yang perlu dilakukan?

Tidak seharusnya ada yang menjadi kaya raya dari perang dan kekacauan. Pemerintah harus mengambil pajak dari keuntungan perang bahan bakar fosil dan industri pangan, melindungi rumah tangga dari kenaikan biaya hidup, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan, perumahan yang efisien, transportasi publik yang lebih baik, dan mengatur ulang sistem, serta membangun sistem produksi pangan lokal yang tangguh.

Respons serius terhadap 100 hari terakhir ini adalah tidaknya memperkuat sistem yang menyebabkan krisis ini. Ini berarti mengenakan pajak atas keuntungan besar yang diperoleh perusahaan minyak, gas, dan pupuk industri akibat perang. Ini juga berarti percepatan investasi publik dalam energi terbarukan, penyimpanan energi, isolasi, dan transportasi yang efisien. Lalu, ini berarti mengutamakan perlindungan terhadap masyarakat melalui penetapan tarif sosial, dukungan terhadap transportasi publik, langkah-langkah darurat pangan, dan membantu petani untuk keluar dari penggunaan pupuk berbahan bakar fosil.

Ini pun berarti memaknai 100 hari terakhir ini sebagai peringatan. Respons pemerintah yang efisien, solusi yang berpusat pada kepentingan masyarakat, mengenakan pajak kepada yang diuntungkan dari perang dan pembangunan energi terbarukan yang ambisius bukanlah masalah lain. Mereka merupakan apa yang dibayangkan dari keamanan energi, pangan, dan stabilitas ekonomi di tengah ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil yang merubah krisis menjadi hukuman skala global.

Mehdi Leman adalah Content Editor untuk Greenpeace Internasional berbasis di Perancis.