#Hutan

Pulihkan Hutan: Pulihkan Harapan

Keberadaan hutan sangat penting dalam melindungi Bumi kita dari dampak perubahan iklim. Tapi merek-merek besar dunia yang telah berjanji untuk menghilangkan deforestasi dari produknya masih…

Ikut Beraksi

Laporan Greenpeace International: Greenpeace.org/extinction

Jakarta, 11 Juni 2019 – Pada tahun 2020, diperkirakan 50 juta hektar hutan – area seluas Spanyol terancam dihancurkan untuk komoditas pertanian meski banyak perusahaan telah berkomitmen untuk mengakhiri deforestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun, menurut laporan dari Greenpeace International.

Sektor minyak sawit adalah pendorong utama deforestasi di Asia Tenggara, dimana 14.5 juta hektar hutan dihancurkan untuk komoditas antara tahun 2010 dan 2015. Namun, mayoritas dari pedagang-pedagang minyak sawit tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa, dan tetap menyuplai sejumlah merek konsumen terbesar di dunia, yang bertemu hari ini di Vancouver dalam rangka pertemuan tingkat tinggi Consumer Goods Forum (CGF).

Pada CGF 2010, – perusahaan merek-merek konsumen terbesar di dunia, termasuk Nestle, Mondelez, dan Unilever berjanji untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2020 melalui “responsible sourcing” atau pasokan dari “sumber yang bertanggung jawab” untuk komoditas hasil peternakan, minyak sawit, kedelai dan  lainnya. Hanya tinggal 200 hari tersisa dan sementara kegagalan mereka semakin dekat, perlindungan hutan dan krisis iklim bahkan tidak ada di dalam agenda mereka. Tahun lalu, investigasi yang dilakukan oleh Greenpeace International mengungkap bagaimana para pemasok minyak sawit ke perusahaan merek-merek konsumen terbesar di dunia telah menghancurkan area hutan dengan luas hampir dua kali lipat Singapura dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun.

Transparansi telah menjadi kunci dalam pertarungan untuk membersihkan industri minyak sawit di Indonesia. Setelah tekanan Greenpeace terhadap industri sawit tahun lalu, Wilmar International, pedagang minyak sawit terbesar di dunia, berkomitmen untuk menggunakan peta dan satelit untuk mengawasi semua pemasoknya. Tapi, langkah ini masih tetap diabaikan oleh sejumlah pedagang minyak sawit besar lainnya, seperti Cargill, GAR dan Musim Mas. Bulan lalu, pemerintah Indonesia membuat masalah ini memburuk dengan menghimbau kepada perusahaan minyak sawit untuk tidak mempublikasikan data mengenai konsesinya.

“Enam bulan telah berlalu semenjak Wilmar berkomitmen untuk berubah. Namun, pelaku industri lainnya masih belum mengambil aksi nyata. Sementara itu, menteri dari pemerintahan Joko Widodo baru-baru ini mengumumkan dengan bangga, bahwa mereka telah mencegah perusahaan-perusahaan minyak sawit untuk menyebarkan informasi mengenai konsesi minyak sawit yang mereka miliki,” oleh Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia.

“Hal ini memberikan pesan bahwa sebagian besar sektor  minyak sawit tidak mau berubah. Ini membuat merek-merek konsumen yang menggunakan minyak sawit berada di posisi yang sangat sulit. Dengan hanya kurang dari 200 hari menuju tahun 2020, waktu hampir habis untuk mengeluarkan para perusak hutan dari rantai pasok minyak sawit. Oleh karena itu, merek-merek konsumen besar memiliki pilihan yang jelas yaitu memaksa GAR, Musim Mas dan pedagang minyak sawit lainnya untuk berhenti berbohong dan berubah, atau berhenti melakukan bisnis dengan mereka,” ungkap Kiki.

Sejak 2010, produksi dan konsumsi komoditas pertanian yang terkait dengan deforestasi termasuk ternak, kedelai, minyak sawit, karet, dan coklat telah meningkat pesat dan masih mengalami kenaikan. [2] 80 persen dari deforestasi adalah hasil langsung dari produksi pertanian, [3] melepaskan emisi karbon setara dengan jumlah total emisi dari Jepang, Jerman, dan Inggris.

Laporan terbaru dari IPCC dan IPBES berisi peringatan keras dari ilmuwan-ilmuwan berkaliber dunia tentang perlunya reformasi radikal industri dan sistem pangan untuk mencegah kerusakan iklim dan ekologi.

***

Catatan untuk editor:

50 juta hektar adalah perkiraan konservatif berdasarkan kombinasi dari data aktual deforestasi dari 2010 – 2015, kehilangan tutupan pohon dari 2010 – 2018 dan perkiraan hingga akhir 2019. Dari 2010 – 2015 deforestasi dan kehilangan pohon yang digabungkan menjadi sekitar 5 juta hektar per tahun – menurut analisis ilmiah pemetaan satelit dari NASA. Apabila kondisi ini berlanjut, kehilangan hutan akan mencapai 50 juta hektar pada akhir 2019. Namun, karena kehilangan pohon telah meningkat pada tahun 2016 – 2018, kemungkinan deforestasi juga akan meningkat, sehingga angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

[1]  Analisis oleh Greenpeace, berdasarkan data dari  Curtis PG et al (2018) ‘Classifying drivers of global forest loss’ Science 361: 1108–1111 http://science.sciencemag.org/content/361/6407/1108

[2] Sejak 2010, area yang ditanami kedelai di Brasil telah meningkat sebesar 45%, produksi minyak sawit Indonesia naik 75% dan kakao dari Côte d’Ivoire telah tumbuh sebesar 80%. Yang lebih buruk bahwa pada tahun 2050, konsumsi daging global (dan karenanya produksi) juga diperkirakan akan meningkat 76%, kenaikan produksi kedelai hampir 45% dan produksi minyak sawit hampir 60%.

[3] Kissinger G, Herold M & De Sy V (2012) ‘Drivers of deforestation and forest degradation: A synthesis report for REDD+ policymakers’ p11

[4] Emisi bersih tahunan dari deforestasi untuk pertanian dan penanaman pohon di negara-negara tropis saja rata-rata 2.6GtCO2. Pendrill F et al (2019) ‘Agricultural and forestry trade drives large share of tropical deforestation emissionsGlobal Environmental Change 56: 1–10. Ini setara dengan total emisi gabungan dari Jepang, Jerman, dan Inggris. CAIT Climate Data Explorer.

Kontak Media:

Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia, +62-811-8706-074 , kiki.taufik@greenpeace.org

Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, +62- 811-8334-409, rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org