Bangkok, Thailand, 4 November 2019 – Perusahaan merek ternama seperti Unilever, Mondelez, Nestle, dan Procter & Gamble (P&G), dan pedagang minyak kelapa sawit termasuk Wilmar membeli minyak kelapa sawit dari produsen yang terkait dengan ribuan titik panas api  di Indonesia tahun ini, berdasarkan analisis terbaru oleh Greenpeace Internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut bahkan membeli minyak sawit dari perusahaan yang konsesinya sedang disidik terkait kebakaran hutan dan lahan.

Unilever, Mondelez, Nestle, dan P&G membeli bahan dari kelompok produsen minyak kelapa sawit yang lahannya memiliki jumlah titik panas api terbanyak, hampir mencapai 10.000 titik panas api. Pedagang minyak sawit Wilmar, Cargill, Musim Mas, dan Golden-Agri Resources (GAR) memiliki kitan atas kebakaran tahun ini di Indonesia, mereka mensuplai lebih dari tiga perempat minyak sawit global. [1] Analisis baru menunjukkan tumpang tindih yang luas pada perusahaan-perusahaan ini dengan kelompok-kelompok produsen minyak kelapa sawit dengan area terbakar terbesar pada 2015-2018.

“Perusahaan telah menciptakan tampilan yang berkelanjutan dalam hal pemanfaatan serta kelestarian lingkungan hidup. Tetapi kenyataannya sumber bahan baku mereka berasal dari pelanggar terburuk. Perusahaan-perusahaan yang mendapat keuntungan finansial dari kebakaran hutan harus dimintai pertanggungjawaban atas kekejaman lingkungan ini dan dampak buruknya terhadap kesehatan, ”kata Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indoeterkanesia.

Menurut laporan, lebih dari 900.000 orang di Indonesia telah menderita infeksi pernafasan atas (ISPA) yang disebabkan kabut asap dari kebakaran tahun ini, [2] dan hampir 10 juta anak-anak beresiko mengalami kerusakan fisik dan kognitif seumur hidup akibat polusi udara. [3] Antara 1 Januari hingga 22 Oktober 2019, kebakaran mengakibatkan sekitar 465 megaton CO2 terlepas ke udara yang nilainya hampir mencapai total emisi gas rumah kaca Inggris skala per-tahun. [4]

Temuan baru datang ketika para perusahaan berkumpul pada acara Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Thailand. Asosiasi ini menyatakan minyak kelapa sawit anggotanya memenuhi standar berkelanjutan, salah satu kriterianya adalah “tanpa bakar.” Namun lebih dari dua pertiga dari kelompok produsen yang terkait dengan kebakaran berulang dan semua perusahaan yang dianalisis oleh Greenpeace adalah anggota RSPO, beberapa bahkan anggota dewan pengelolanya. [5]

Perusahaan-perusahaan global telah membuat komitmen untuk menghentikan deforestasi pada tahun 2020, tetapi sebaliknya kehilangan hutan justru cepat, dan komoditas telah menjadi pendorong deforestasi tertinggi. [6] Greenpeace baru-baru ini mundur dari sebuah proses dengan Unilever, Mondelez dan Wilmar dalam hal pembuatan platform monitoring minyak sawitnya, khususnya di Indonesia, karena mereka gagal berulang kali mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencapai target nol deforestasi.

Pemerintah di seluruh dunia belum mengambil tindakan serius terhadap perusahaan atau perusahaan barang konsumsi yang terkait dengan kebakaran. [7] Greenpeace menyerukan agar perusahaan yang bertanggung jawab dan yang telah mengambil keuntungan dari kebakaran ini, dituntut pertanggungjawabannya.

***

 

Foto dan Video: https://media.greenpeace.org/collection/27MZIFJ8YCLAC

Catatan:

[1] Pangsa pasar pedagang sesuai dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) berdasarkan data 2015

[2] Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (BNPB), sebagaimana dikutip di Tempo.co

[3] Menurut UNICEF, sebagaimana dikutip di France24

[4] Emisi dari kebakaran hutan Indonesia berdasarkan pada Global Fire Emissions Database (GFED). Emisi tahunan Inggris berdasarkan data terbaru 2014 dari Climate Watch. Banyak kebakaran juga berada dalam areal habitat terakhir orangutan yang terancam punah dan spesies rentan lainnya.

[5] Grup produsen yang terkait dengan kebakaran yang terjadi berulang-ulang didefinisikan sebagai grup yang terkait dengan lebih dari 250 titik panas api pada 2019 dan / atau yang terkait dengan area terbakar terbesar pada 2015-2018. Menurut aturan RSPO, grup harus menjadi bagian anggota pada level yang mencakup semua operasi minyak sawitnya, oleh karena itu operasional grup di sini dianggap terkait dengan RSPO, di mana grup tersebut saat ini adalah anggota RSPO. Analisis Greenpeace menemukan bahwa anggota RSPO terkait dengan sebagian besar kebakaran di Indonesia saat ini. Pertemuan itu tidak memiliki pembahasan soal karhutla dalam agendanya, menurut situs web acara RSPO.

[6] Menurut Deklarasi Hutan New York tentang Hutan (NYDF). Rincian lebih lanjut tentang komitmen deforestasi perusahaan yang gagal juga dapat ditemukan di briefing Greenpeace Amerika Serikat.

[7] Sebagai contoh, pemerintah Indonesia belum secara serius menghukum perusahaan kelapa sawit yang bertanggung jawab atas area terbakar terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menurut analisis Greenpeace Indonesia. Selain itu, pemerintah Singapura dan Malaysia juga tidak memberi sanksi kepada perusahaan, terlepas dari kenyataan bahwa setengah dari produsen minyak sawit yang bertanggung jawab atas titik panas api di Indonesia tahun 2019 berbasis di negara-negara ini.

 

Kontak:

Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia,Tel 62-811-1097-527 , email annisa.rahmawati@greenpeace.org

Rully Yuliardi Achmad, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, Tel 62- 811-8334-409, email rully.yuliardi.achmad@greenpeace.org