Jauh sebelum perlindungan lingkungan menjadi upaya global, Masyarakat Adat serta komunitas lokal dan pesisir telah merawat Bumi. Baik di tepi laut maupun di dalam hutan, cara hidup mereka selalu dibentuk oleh ikatan yang mendalam dengan wilayah mereka, yang telah mereka pertahankan selama beberapa generasi.
Di berbagai wilayah, komunitas-komunitas tersebut telah berjuang untuk melindungi rumah, kehidupan, dan mata pencaharian mereka dari industri yang menjarah alam demi keuntungan, seperti penambangan emas ilegal di Amazon dan penambangan nikel di Indonesia, pabrik tepung ikan dan minyak ikan industri yang menguras perairan pesisir di Senegal, serta megaproyek industri yang mengancam mata pencaharian pesisir di Thailand. Terlepas dari geografisnya, sebuah kenyataan umum muncul: mereka yang paling tidak bertanggung jawab atas krisis ini justru berada di garis depan dalam menghadapinya. Dengan melakukan hal itu, mereka tidak hanya melindungi wilayah mereka, tetapi juga menjaga ekosistem yang menopang kehidupan di Bumi, seringkali dengan risiko pribadi yang besar.
Dari Amazon hingga Cekungan Kongo hingga Thailand, mari berkenalan dengan lima Pembela Bumi yang kisah perlawanan dan hubungan erat mereka dengan rumah serta komunitasnya menjadi inspirasi untuk bergabung dalam gerakan melindungi planet ini.
Valentin Engobo, Pemimpin desa Lokolama, di Cekungan Kongo

Perkenalkan Valentin Engobo, seorang pemimpin adat di komunitas Lokolama, jauh di dalam hutan khatulistiwa Cekungan Kongo di Republik Demokratik Kongo. Ini adalah wilayah yang dibentuk oleh pengetahuan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi, tempat suku Tshwa telah lama hidup dalam hubungan yang erat dengan hutan dan lahan gambutnya. Sebagai wakil rakyatnya dan presiden Asosiasi Petani Pygmy Lokolama (APPL), Valentin telah mendedikasikan hidupnya untuk mempertahankan tanah-tanah ini. Namun, seperti yang ia gambarkan, “kami masih dipandang sebagai ‘warga negara kelas dua,’ penghalang pembangunan, bayangan di antara pepohonan,” sementara keputusan mengenai wilayah mereka terus diambil tanpa melibatkan mereka.
Lokolama terletak di jantung salah satu kompleks lahan gambut tropis terbesar di dunia, sebuah penyerap karbon luas yang menyimpan setara dengan emisi global selama tiga tahun. Bekerja sama dengan para ilmuwan, Valentin dan komunitasnya membantu menarik perhatian global terhadap ekosistem ini dan pentingnya bagi iklim. “Bukan hanya budaya kami yang terancam. Masa depan kalian pun terancam,” ia memperingatkan. Melalui pengelolaan hutan yang dipimpin komunitas, advokasi, dan aksi internasional—termasuk menentang kebijakan merugikan yang diberlakukan di tanah mereka—ia melanjutkan perjuangan yang berakar pada generasi perlawanan, mempertahankan hak-hak rakyatnya dan ekosistem yang krusial bagi masa depan planet ini.
Diaba Diop, Pemimpin komunitas nelayan tradisional di Senegal

Diaba Diop mewakili ketangguhan komunitas nelayan di Senegal. Sebagai ketua Jaringan Perempuan Nelayan Tradisional di Senegal (REFEPAS), ia mewakili ribuan perempuan pengolah, penjual ikan, dan pedagang skala kecil, yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas pekerjaan mereka serta peran mereka dalam perekonomian lokal dan ketahanan pangan.
Ia juga memperjuangkan hak-hak sosial dan profesional perempuan di sektor ini, mendorong adanya identifikasi profesional, organisasi yang lebih baik, serta akses terhadap perlindungan sosial. Upayanya bertujuan untuk mengangkat para pekerja ini dari sektor informal dan memastikan martabat, keamanan, serta pengakuan institusional.
Sebagai pembela laut yang gigih, Diaba Diop mempromosikan perikanan berkelanjutan dan memperingatkan tentang dampak eksploitasi berlebihan. Ia berada di garis depan melawan kapal penangkap ikan industri yang menguras stok ikan dan mengancam mata pencaharian komunitasnya, serta menyerukan praktik yang lebih adil. Ia juga menggalang aksi menentang pabrik tepung ikan dan minyak ikan yang mengalihkan ikan dari konsumsi lokal ke pakan ternak di luar negeri, sehingga merugikan pendapatan perempuan dan mengancam ketahanan pangan lokal. Bersama para perempuan yang diwakilinya, Diaba terus memperjuangkan sumber daya laut dan masa depan komunitasnya.
Maria Socorro, Pemimpin Komunitas dari wilayah Médio Juruá, Amazon Brasil

“Amazon adalah rumahku, negeriku, tempat aku hidup bahagia,” kata Maria Socorro, seorang ribeirinha (anggota komunitas tepi sungai) yang lahir dan besar di antara hutan dan sungai. Dia telah tinggal selama lebih dari 40 tahun di komunitas Roque, di wilayah Médio Juruá di Amazon, membangun hidupnya dalam hubungan erat dengan hutan, bekerja mengumpulkan biji andiroba, sebuah praktik yang berakar pada mata pencaharian sekaligus perawatan terhadap wilayah tersebut. “Pohon ini sudah ada di sini saat saya tiba,” katanya, sambil menunjuk salah satu pohon andiroba yang telah dia panen selama bertahun-tahun. “Pohon ini telah memberi begitu banyak.”
Setiap tahun, selama musim panen, Maria Socorro dan perempuan lain dari komunitas berkumpul di hutan, seringkali mengumpulkan lebih dari 50 kaleng biji bersama-sama. Pekerjaan ini bersifat kolektif, ditandai tidak hanya oleh usaha tetapi juga oleh momen-momen kegembiraan—“kami bernyanyi, tertawa, dan pergi bersama,” kenangnya—serta pemahaman mendalam terhadap ritme hutan. Biji-biji tersebut digunakan untuk memproduksi minyak untuk obat-obatan, sabun, dan kosmetik, menghasilkan pendapatan yang menopang keluarga sepanjang tahun. Bagi Maria Socorro, melindungi hutan tak terpisahkan dari kelangsungan hidup: “Jika ditebang, semuanya berakhir. Hutan berakhir, dan begitu pula produksi kami.”
Kisahnya merupakan bagian dari transformasi yang lebih luas di wilayah Médio Juruá, di mana masyarakat telah berorganisasi selama bertahun-tahun untuk mempertahankan wilayah mereka dan membangun ekonomi berkelanjutan yang berakar pada hutan yang masih utuh. Kini, Maria Socorro adalah salah satu dari banyak perempuan yang pekerjaan sehari-harinya membantu mempertahankan model ini—model yang menjaga hutan tetap hidup sekaligus menjamin mata pencaharian yang bermartabat.
Khairiyah Rahmanyah, “Putri Laut Chana” dan aktivis pemuda dari Chana, Thailand

Khairiyah Rahmanyah menjadi terkenal di tingkat nasional ketika ia membawa perjuangan desanya dari pesisir Chana ke gerbang Gedung Pemerintahan di Bangkok. Sebagai putri seorang nelayan dari sebuah desa kecil di distrik Chana, ia telah mendedikasikan masa mudanya untuk melindungi kampung halamannya di tepi laut dari sebuah megaproyek industri raksasa. Proyek ini mengancam akan mengubah lebih dari 26 kilometer persegi garis pantai yang masih alami menjadi pusat industri berat dan pabrik petrokimia, sebuah langkah yang menurut Khairiyah akan menghancurkan ekosistem laut dan mata pencaharian tradisional komunitasnya.
Bertekad menyelamatkan kampung halamannya, Khairiyah menarik perhatian nasional setelah pergi ke Bangkok untuk mengajukan petisi kepada Perdana Menteri dan berkemah di depan gedung-gedung pemerintah guna menuntut sidang publik yang transparan. Peristiwa tersebut menarik perhatian media massa dan media sosial serta menjadi trending di Twitter Thailand dengan tagar #SAVECHANA. Meskipun menghadapi pengawasan dan intimidasi, ia terus memobilisasi komunitasnya dan bergabung dengan Greenpeace selama tur kapal Ocean Justice pada tahun 2024. Ia terus menantang narasi bahwa pertumbuhan PDB dari kawasan industri lebih penting daripada penurunan kualitas hidup yang terlihat di pusat-pusat industri lainnya. Saat ini, Khairiyah, komunitas Chana di provinsi Songkhla, dan Greenpeace menyerukan agar masyarakat pesisir memiliki hak untuk menentukan arah pembangunan di tanah air mereka sendiri.
Advokasi yang dilakukannya berakar pada ikatan yang mendalam dengan laut, di mana ia berjuang untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat melihat lumba-lumba dari depan rumah mereka, tumbuh dalam lingkungan yang sehat, dan melestarikan warisan budaya desa-desa pesisir Thailand.
Rifka Kmesrar, pemimpin pemuda adat dari Papua Barat, Indonesia

Dari Papua, Rifka Kmesrar, seorang pemimpin pemuda adat dari Desa Haha, Kecamatan Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan, di Papua Barat. Ini adalah wilayah dengan hutan tropis yang lebat dan keanekaragaman hayati yang kaya, di mana komunitas adat telah lama bergantung pada tanah leluhur dan sumber daya alam mereka untuk mata pencaharian, budaya, dan identitas mereka. Sebagai pemimpin muda Komunitas Tival, Rifka mewakili generasi baru yang tumbuh besar menyaksikan perjuangan orang tua mereka dalam mempertahankan wilayah mereka dari tekanan eksternal. “Kami telah melihat orang tua kami berjuang selama beberapa generasi,” katanya, “dan kami merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut.”
Bersama pemuda adat lainnya, Rifka berupaya melindungi budaya komunitasnya serta sistem pangan mereka, memastikan bahwa pengetahuan tradisional dan sumber daya lokal tidak tergusur oleh penebangan hutan, perluasan perkebunan kelapa sawit, dan ancaman lainnya. Upaya mereka meliputi pengorganisasian secara kolektif, penguatan praktik budaya, serta pemetaan batas-batas wilayah adat mereka untuk mencegah perampasan tanah dan memperoleh pengakuan resmi. Dalam konteks di mana hutan semakin terancam, kepemimpinannya mencerminkan gerakan yang lebih luas dari pemuda-pemuda adat yang bangkit untuk mempertahankan tanah mereka, menjaga masa depan mereka, dan mempertahankan hubungan mereka dengan wilayah tersebut.
Bertindak secara lokal untuk dampak global
Kisah-kisah ini tidak terisolasi. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun Masyarakat Adat hanya mencakup 6% dari populasi global, mereka mengelola lebih dari 25% permukaan daratan dunia dan merupakan penjaga utama beberapa ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati dan utuh di Bumi. Wilayah mereka mengatur iklim, menopang mata pencaharian, dan mempertahankan ekosistem jauh melampaui batas-batas wilayah mereka. Namun, kepemimpinan mereka sering terabaikan dalam keputusan mengenai konservasi dan aksi iklim.
Tahun 2026 adalah tahun yang menentukan bagi alam. Pemerintah kini berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk mengubah komitmen global menjadi tindakan nyata, termasuk janji yang dibuat dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework–KMGBF) untuk melindungi setidaknya 30% planet ini pada tahun 2030. Apa yang terjadi selanjutnya akan menentukan tidak hanya seberapa besar planet ini yang dilindungi, tetapi bagaimana perlindungan itu didefinisikan, dan siapa yang diuntungkan darinya.
Memastikan bahwa komunitas memiliki pengakuan, hak, dan akses langsung ke sumber daya yang mereka butuhkan adalah kunci untuk mengubah janji global menjadi perlindungan yang berkelanjutan di darat dan di air.
Penulis: Jaqueline Sordi, Kepala Komunikasi dan Keterlibatan, Hutan Tropis


