
Hari ini (22 Juni 2026), Jakarta sedang berulang tahun yang 499. Tahun depan, provinsi ini akan menginjak usia lima abad. Tentu tak lepas dengan dinamika politik nasional yang mewarnainya. Bagaimana kekuasaan dibangun, dan sekaligus juga berhasil ditumbangkan oleh kekuatan rakyat. Simbol pemerintahan yang merepresentasikan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara, berdiri kokoh di Jakarta. Tentu saja tak lepas dari peran Jakarta yang menjadi ibukota negara, pemerintah pusat yang mengatur pusat pemerintahan dan pusat ekonomi sekaligus. Jakarta menjadi barometer pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta dan bangga menyandang identitas sebagai orang Betawi, saya menjadi saksi bagaimana kampung kota ini tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Teringat kala kecil, saya bisa main dan berlarian di taman yang berjejer di sepanjang patung Pancoran hingga perempatan jalan Gatot Subroto yang sudah lama disulap menjadi jalan tol.
Bangunan menjulang tinggi, dan gemerlapnya lampu Jakarta, menjadi magnet bagi banyak warga di luar Jakarta untuk mengadu nasib di kota ini. Jakarta melesat memoles dirinya dengan narasi pembangunan. Sayangnya, gemerlapnya Jakarta juga beririsan dengan berbagai krisis yang menyertainya. Pembangunan kota Jakarta yang terus digenjot guna memenuhi target pertumbuhan ekonomi dan menjadikan kota ini bersaing menjadi kota global, mengabaikan prinsip mendasar, bahwa Jakarta punya keterbatasan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Jakarta sudah berat menanggung beban akibat model pembangunan yang mengorbankan hal pokok untuk memastikan dan menjamin warganya, khususnya anak-anak dan kelompok marjinal dapat tumbuh dan berkembang dengan kualitas hidup yang baik dan sehat.
Pemimpin Jakarta silih berganti mengikuti demokratisasi yang berjalan. Namun krisisnya tetap sama. Satu di antaranya adalah polusi udara di Jakarta yang bahkan sudah sampai tingkat yang berbahaya. Kecintaan warga akan kotanya ini yang memiliki harapan untuk bisa hidup dengan udara bersih dan sehat sebagaimana yang juga dilindungi oleh Konstitusi dan Undang – Undang, yang mencoba untuk memperjuangkan udara bersih dan sehat melalui gugatan warga negara (citizen lawsuit), dan bahkan sudah dimenangkan hingga tingkat Mahkamah Agung. Secara objective, sebagai salah seorang penggugat, saya mengapresiasi pilihan Gubernur kala itu yang berbeda posisi dengan Presiden dan Kementerian untuk tidak banding ke tingkat pengadilan tinggi dan MA. Namun, kami juga membutuhkan upaya yang lebih sistematis dan terukur untuk memastikan
“Jakarta Menyala” menjadi slogan pemerintahan Jakarta di bawah kepemimpinan Pram-Doel, di mana salah satu janji politiknya adalah langit Jakarta tanpa polusi. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dari Gubernur – Wakil Gubernur Jakarta, maka langit Jakarta akan terus mendung. Bergelayut polusi udara yang bukan hanya membuat sesak warganya, tetapi juga akan menjadi beban APBD, guna menanggung dampak ririko penyakit yang ditimbulkan akibat polusi udara.
Saya memahami bahwa Mas Pram dan Bang Doel tidak bisa jalan sendiri untuk mengatasi polusi udara di Jakarta ini. Namun saya percaya, dengan kepemimpinan yang kuat dan bargain politik yang diperhitungkan oleh pemerintah pusat, pemerintah Jakarta bisa “memaksa” pemerintah pusat untuk serius mendukung upaya Jakarta mengatasi polusi udara, dan mengajak dua Gubernur dari provinsi lain yakni Banten dan Jawa Barat yang untuk mengambil tanggung jawab mengatasi polusi udara, karena turut menyumbang polusi dari sumber bergerak dan tidak bergerak dari cerobong PLTU yang mengepung kota Jakarta.
Sebagai warga yang sangat mencintai kota ini, saya berharap pemimpinnya bisa menjalankan amanah warganya. Mewujudkan Jakarta yang bukan hanya “menyala” untuk generasi sekarang, tapi juga generasi yang akan datang. Yang akan menjalankan dan menjaga kota ini terus ada sebagai sebuah peradaban “maju” yang bisa membuat warganya bagian dan sejahtera. Sesuai dengan tema ulang tahun Jakarta yang ke-499 ini yakni “Bergerak Menuju Era Baru Jakarta”, semoga era baru Jakarta yang akan diciptakan adalah era baru Jakarta tanpa polusi.
Akhirnya…..
Jalan-jalan ke kota tua
Sampai di sana terlihat jejeran kursi
Selamat ulang tahun kota Jakarta
Nyoook wujudkan kota yang bebas dari polusi


