News & Stories - Page 26 of 33 - Greenpeace Indonesia
-
Menyelamatkan Keanekaragaman Hayati Laut: Krisis Tak Terlihat di Laut Lepas
Meskipun keanekaragaman hayati laut lepas ini tidak terlihat oleh banyak orang, wilayah ini tidak bebas dari bahaya—justru menjadi kawasan yang paling tidak dilindungi.
-
Raksasa Agribisnis Raup Keuntungan di Tengah Krisis
Di tengah krisis pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, sejumlah perusahaan raksasa agribisnis meraup keuntungan miliaran dolar.
-
Jokowi dan PM Malaysia Sepakat Perangi ‘Diskriminasi’ Kelapa Sawit, Komitmen Hentikan Deforestasi Patut Dipertanyakan
Jakarta, 11 Januari 2022. Presiden Joko Widodo sebaiknya menjelaskan maksud pernyataan ‘memerangi diskriminasi terhadap kelapa sawit’ yang disampaikan seusai pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Istana Bogor pada…
-
Ketika Energi Ekstraktif ‘Mendanai’ Sebuah Perang
“Perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan perang di Ukraina memiliki akar yang sama: bahan bakar fosil dan ketergantungan kita pada mereka,” kata ilmuwan iklim Ukraina, Svitlana Krakovska, ketika…
Filtered results
-
Greenpeace: Rencana Aksi Terbaru Wilmar Tidak akan Memperbaiki Masalah Deforestasi
Rencana aksi baru yang dirilis oleh Wilmar International, pedagang minyak sawit terbesar di dunia, tidak sesuai dengan tujuan dan tidak akan membuat perusak hutan keluar dari rantai pasokannya.
-
Greenpeace Indonesia: Konferensi ICBE Harus Memastikan Komitmen Pembangunan yang Sejalan dengan Semangat Konservasi Hutan Tropis di Tanah Papua
Perlindungan keanekaragaman hayati di Tanah Papua mendapat perhatian serius masyarakat global sebagai benteng terakhir hutan tropis di Indonesia dan dunia yang masih perawan, belum tergerus oleh industri yang merusak.
-
Kenangan Masa Lalu dan Masa Depan Hutan Indonesia yang Harus Diperjuangkan
Saya ingat ketika saya masih kecil, Papa selalu mengajak saya pulang kampung setiap Natal untuk menjenguk Oma. Kampung halaman Papa indah, tidak kalah dengan Pulau Dewata tempat saya menimba ilmu saat ini.
-
Aktivis Greenpeace dan Personel Grup Band Musik Boomerang Mengokupasi Kilang Minyak Sawit dari Hasil Perusakan Hutan
Dua puluh tiga aktivis Greenpeace bersama empat personel grup band musik Boomerang hari ini melakukan aksi damai dengan menduduki kapal penyuplai minyak sawit dan tangki timbun milik Wilmar.
-
Greenpeace: Ini Waktunya Mengeluarkan Larangan Deforestasi Kelapa Sawit, Bukan Hanya Moratorium
Moratorium sawit ini merupakan langkah maju tetapi kurang bertaring karena pembekuan hanya sementara, menyisakan jutaan hektar hutan yang tidak terlindungi serta tidak ada sanksi bagi pihak yang melanggar.
-
Teruntuk Produk dan Produsen Penghancur Hutan: Waktu Telah Habis!
Meskipun berjanji untuk tidak membeli minyak sawit dari perusak hutan hujan, merek terbesar di dunia, pada kenyataannya, masih membeli minyak sawit dari perusak hutan hujan.
-
Investigasi Greenpeace Memaparkan Bagaimana Perusahaan Merek-merek Terbesar Dunia Masih Terkait dengan Perusakan Hutan di Indonesia
Penyelidikan terbaru Greenpeace International mengungkapkan sejumlah perusahaan pemasok minyak sawit telah menghancurkan area hutan hampir dua kali ukuran Singapura dalam waktu kurang dari tiga tahun.
-
Wings Of Paradise: Menarik Perhatian pada Permasalahan Penghancuran Hutan Indonesia
Sedikit atau tidak ada yang tahu tentang keindahan spektakuler Burung Cenderawasih yang berasal dari hutan-hutan di tanah Papua. Sejauh ini, sekitar 40 spesies burung yang berbeda telah ditemukan.
-
Kebakaran Lahan Terjadi di Areal Pemasok Sawit untuk Perusahaan Merek Ternama Dunia
Kebakaran yang menimbulkan kabut asap di kota Pontianak, Kalimantan Barat belakangan ini terjadi di lahan konsesi beberapa perusahaan berdasarkan dokumentasi terbaru Greenpeace Indonesia.
-
Koalisi Masyarakat Sipil: Upaya Kasasi akan Merugikan Masyarakat, Pemerintah Diminta Menjalankan Putusan Pengadilan Demi Korban Asap Kebakaran Hutan
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat meminta Presiden Joko Widodo mencabut upaya kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi Palangkaraya yang menyatakan pemerintah telah melakukan perbuatan melawan hukum terkait kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah pada tahun 2015.













